Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 270


__ADS_3

Saiful menaiki motor, untuk segera datang ke tempat Nita sang kekasih. Ia takut jika Bu Suci ada niat jahat sampai membawa sebuah kompan berisi minyak tanah.


Bagaimana jika nanti, minyak tanah itu membakar rumah Nita, tempat tinggal satu satunya.


Saiful mengendari motor dengan kecepatan tinggi berharap jika dia belum terlambat.


Bu Suci berjalan pelahan, menuju rumah Nita. Karena tengah malah adalah waktu di mana orang orang terlelap tidur. "Aku harus bergegas cepat."


Wanita paruh baya itu benar benar menuangkan minyak tanah pada sisi luar rumah Nita, dimana Anna yang memang tengah hamil, terbangun secara tiba tiba, mencium bau minyak tanah yang menyengat.


Anna mengeluarkan isi perutnya, Galih yang mendengar suara Anna terbangun dan membantu sang istri ke kamar mandi. Memijit bahu Anna, " Huek .... Huek. Mas, kamu mencium bau minyak tanah tidak?"


Pertanyaan Anna memang membuat Galih mencium bau yang tak wajar. " Iya sayang."


"Aku cari tahu dulu ya."


Terpaksa Galih meninggalkan sang istri, untuk mencari sumber bau itu.


Bu Suci yang selesai menuangkan minyak tanah, kini mengambil korek api," lenyap sudah rumah ini, berserta isinya."


Tertawa terbahak bahak, itulah yang kini dilakukan Bu Suci saat api menyala. "Rasakan ini."


Nita merasa sesak, ia bangun dari tidurnya. Melihat rumah sudah banyak asap, sedangkan Anna yang tak kuat dengan bau asap dan juga minyak tanah membuat ia jatuh pingsan.


Galih datang, memukul orang itu hingga jatuh pingsan. Rumah sudah dikelilingi api, meminta tolong tapi tak ada tetangga satupun yang keluar.


Saiful baru saja datang, melihat rumah Nita benar benar di kelilingi api. Dengan tergesa gesa, mengambil air.


"Pak Galih? Ada apa ini?"


"Sudah jangan banyak bertanya, cepat kamu panggil warga di sini!"


Saiful berlarian dan Bu Nira datang bersama ibu ibu di kampung." Ada apa?"


"Rumah Nita terbakar!"


Semua warga di kampung berbodong bondong menyiram air, sedangkan Galih meneros masuk ke dalam rumah mencari istrinya. Api sudah hampir melalap setengah rumah Nita.


"Anna, Nita. Kalian ada di mana."


Nita berteriak memanggil Galih." Pak Galih kami di sini."

__ADS_1


Ternyata Nita berada di dalam kamar mandi, terhalang oleh kayu yang roboh dengan percikan api.


Anna jatuh pingsan, "Kalian tidak apa apa?"


Galih mencoba membopong Anna keluar dari percikan api, tapi sungguh disayangkan Nita tertindih kayu rumahnya, dia mencoba keluar namun tak kuasa, api semakin melahap rumah Nita yang hanya terbuat kayu seadanya.


"Nita."


"Sudah pak, jangan perdulikan saya. Cepat pergi selamatkan Bu Anna."


"Tidak mungkin, Nita. "


Sudah cepat.


Brukkk kayu mulai rapuh dan perlahan berjatuhan.


"Cepat pak." Teriak Nita.


Galih meninggalkan Nita, karena istrinya yang jatuh pingsan, mereka keluar dari rumah.


Ada rasa kuatir dalam diri Saiful, mengigat Nita. "Sepertinya aku harus masuk ke sana."


Bu Nira mencoba mencegah anaknya agar tidak masuk ke dalam rumah kayu itu, ia ketakutan jika sesuatu terjadi pada Saiful.


"Tapi, apinya semakin besar, kita tunggu dulu pemadam kebakaran."


"Mana mungkin bu, pemadam kebakaran masih lama. Aku ingin menyelamatkan Nita sekarang juga. "


"Saiful."


Bu Nira berteriak memanggil nama anaknya, ia menangis terisak isak, " Saiful, jangan lakukan itu."


Saat Saiful mulai masuk, ia kini berpapasan dengan Galih yang membopong istrinya.


"Pak Galih, kemana Nita. "


"Nita tertindih kayu, saya tidak bisa menyelamatkan dia, karena istri sayang yang pingsan."


"Apa? Aku akan ke sana."


"Hati hati, kobaran api semakin besar. Aku takut kamu kenapa kenapa?"

__ADS_1


Saiful mulai masuk pada pintu belakang, dimana hanya jalan satu satunya yang tak terbakar, kobaran api semakin besar. Warga hanya bisa memadamkan dengan air seadaanya.


"Nita, dimana kamu?"


Rumah Nita cukup lumayan besar, tentulah membuat Saiful kesusahan mencari calon istrinya.


"Nita, kamu dimana?" Teriak Saiful lagi,


Tidak ada suara sedikit pun, hati Saiful rasanya sakit. Mencari keberadaan Nit tapi tak kunjung ketemu.


Kobaran api semakin besar, para warga sudah bersusah payah memadamkan api tapi tak kunjung padam, hingga suara pemadam kebakaran terdengar.


Bu Nira syok besar, hatinya rapuh. Anaknya belum keluar dari rumah yang diselimuti api." Saiful dimana kamu, nak. "


Tangis pecah, hati rapuh. Tak bisa berbuat apa apa? " Bu Nira yang sabarnya, mudah mudahan Saiful ketemu, ini semua gara gara si Nita itu."


Dalam ke adaan gentingpun, ibu ibu tetap saja menyalahkan Nita, mereka tak tahu jika penyebab dari kebakaran ini adalah Bu Suci.


Galih yang geram akan ibu ibu , terus menyalahkan Nita kini menunjuk seseorang di atas tanah.


"Jangan menyalahkan si pemilik rumah terus menerus, lihat siapa penyebabnya. Saya heran sama ibu ibu di sini, seperti sengaja ingin membuat Nita mati. Apa jangan jangan memang ini sudah niat kalian semua."


Para ibu ibu menatap ke arah Galih, mereka berusaha membela diri." Tidak, kami tidak ada niat membakar rumah Nita."


"Tidak ada niat, tapi seperti senang. Melihat Nita menderita apa lagi MATI." Galih tak segan segan mengatakan segala hal yang membuat para ibu ibu terdiam.


"Kalian lihat orang yang tergeletak itu, ia yang sudah menaburkan minyak pada rumah Nita dan membuat sebuah api hingga melahap rumah Nita dan hampir membunuh kami," hardik Galih, semua mata menunduk.


Sosok itu adalah Bi Suci, tak ada satupun yang mendekat padanya, ia tergeletak pingsan setelah di pukul Oleh Galih.


Ibu ibu mau bagaimana pun, siapa yang salah. Tetap saja mengatakan bahwa Nita pembawa sial, Galih sudah tak mengerti dengan pola pokir para ibu ibu di kampung, terlalu sempit dan picik.


"Sudahlah tak usah menasehati kami, jelas si Nita itu memang. Pembawa sial."


Fitnahan Bu Suci begitu kejam, sampai mereka membenci Nita begitu mendarah daging, tak peduli jika Nita tak salah.


Yang terpenting sudah membuat Nita menderita.


"Terserah kalian, saya tidak akan membiarkan kasus ini begitu saja hilang, saya akan bawa ke jalur hukum agar semua orang di sini masuk ke dalam penjara, " ucap Galih, seperti mengancam.


"Sudahlah jangan sok jadi pahlawan, harusnya kamu tak usah membela penjahat," balas para ibu ibu, seakan urat malu mereka sudah putus, tetap saja membela diri yang memang mereka salah.

__ADS_1


Bu Nira. Mencoba membuat Galih berhenti berdebat dengan para ibu ibu, karena percuman mengatakan suatu hal kebenaran kepada mereka, itu tidak akan membuat mereka sadar.


Otak mereka sudah diracuni oleh fitnahan Bu Suci yang semakin hari samakin melebar, memenuhi pikiran mereka semua, yang ada hanya ingin membenci Nita dan Nita lagi.


__ADS_2