Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 142 Mengkompori Farhan


__ADS_3

Setelah sampai di rumah sakit, Farhan dan Galih melihat Indah tengah duduk di kursi menunggu kedatangan mereka berdua. Galih sedikit tak enak hati, dari kejauhan melihat wajah Indah seakan menahan amarah.


Farhan yang memang terkesan ramah dan sopan seperti Anna, mulai menghampiri Indah mencium punggung tangan sang tante.


"Farhan, kamu ikut ke sini?" Tanya Indah dengan menampilkan lekuk senyum di bibirnya.


Membalas senyum sang tante dan menganggukkan kepala," iya, tante."


"Sini duduk, nak." Indah berusaha menahan amarah karena dihadapanya ada Farhan, mana mungkin ia memarahi Galih di depan keponakannya. Jika pun ia melakukan semua itu, akan ada contoh tak baik bagi keponakanya.


Deni mulai berdiri menghampiri Galih, memberitahu bahwa dokter tengah mencarinya, untuk menjelaskan tentang keadaan Anna.


Indah hanya menatap dalam rasa benci pada wajah Galih, lelaki yang ia percayai menjaga adiknya malah seperti ini.


Deni yang sudah memberitahu Galih, dengan cepatnya lelaki berbadan kekar, berlari menghampiri dokter. Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan keadaan Anna.


Ia takut jika ada sesuatu yang malah membuat dirinya menyesal.


Indah yang melihat kepanikan Galih, merasa kesal, andai saja Galih tak mengantarkan Ainun kemungkinan besar Indah akan memaafkan Galih tanpa menaruh rasa kesal dalam hatinya.


Farhan mulai memegang punggung tangan sang tante dengan berkata." Tante, jangan marahi papah, kasihan papah."


Mendengar perkataan Farhan membuat Indah hanya tersenyum kecil, seraya bergumam dalam hati." Dasar lemah, bisanya membawa bawa Farhan ke dalam masalah."


"Tidak ada yang memarahi papah kamu Farhan, mungkin itu hanya perasaan kamu saja." Indah mejawab dengan sedikit berbohong.


"Masa, tante. Terus yang di dalam sambungan telepon?"


Deg .... Mendengar pertanyaan Farhan membuat Indah seketika terdiam, kedua pipinya memerah. Seperti udang rebus.


"Farhan, kamu hanya salah paham saja. Ya sudah sebaiknya kamu tunggu dulu, ya. Tante mau ke toilet."

__ADS_1


"Ya sudah, tante."


Indah berusaha menghindari pertanyaan dan juga perkataan yang terus telontar dari mulut keponakanya.


Dengan terburu-buru pergi, wanita bermata sipit ini masuk ke dalam toilet membasuh wajah yang terasa seakan tak nyaman.


"Ini semua karena Galih, yang meracuni otak Farhan agar mengatakan semua itu. Dasar lelaki tidak tahu malu." Menggerutu kesal. Indah berusaha menenangkan hatinya. Ia keluar dari kamar mandi menghampiri lagi Farhan.


Tersenyum seperti tidak ada yang ia kesalkan.


"Farhan, apa Tante Ainun masih ada di sana?" Dengan isengnya bertanya keberadaan Ainun kepada anak remaja, yang menjadi keponakanya.


"Sudah pulang tante, baru saja!" Balasan Farhan membuat Indah seketika syok dan merasa tak percaya.


"Loh, kok bisa? Bukanya dia tinggal di rumah Papah Galih, ya?" Pertayaan Indah membuat Farhan mengerutkan dahi, seakan tantenya ini terlalu overprotektif segala ingin tahu.


"Mm, entahlah. Farhan liat Papah Galih mengusirnya terang terangan, sampai Tante Ainun menangis meminta ingin tinggal di rumah Papah Galih, tapi papah sudah tak mengizinkannya. Sebenarnya Farhan merasa kasihan terhadap Tante Ainun." Terlihat wajah sedih Farhan dengan perginya Ainun, mungkin jiwa anak kepada ibunya sangat erat, sampai merasakan akan kehilangan. Padahal Ainun tinggal baru beberapa hari, tapi sudah menyimpan kerinduan yang berat untuk Farhan.


"Kok, Farhan kasihan sama Tante Ainun, kan dia datang cuman mau ngerusakin kebahagian mamah dan papah kamu." celetuk Indah, membuat anak remaja seusia Farhan tak mengerti.


Indah mengusap pelan punggung Farhan, dengan lembut dimana anak muda itu, duduk sembari membungkan badan. " Tante hanya memberi tahu kamu, kalau kamu harus hati hati dengan dia. Tante Ainun itu terlalu berbahaya jika di dekati."


"Tante Indah tahu dari mana? Apa tante melihat semua kejahatan yang diperbuat Tante Ainun?"


Pertanyaan yang sedikit menyulitkan untuk Indah dari anak remaja bernama Farhan itu.


"Mm, jelas karena Tante Ainun itu bekas mantan istri Papah Farhan!" Jawaban yang membuat bibir Farhan diam tanpa mengucap satu patah katapun.


Anak remaja itu menatap dengan penuh keingin tahuan," Mantan istri Papah Galih, jadi .... "


Farhan mengigat kejadian yang ia lihat di dalam rumah, dimana Ainun seperti menggoda Galih. Hanya saja sebagai anak muda, ia tak mau berpikir negatip, maka dari itu hanya bisa mengabaikan begitu saja.

__ADS_1


Indah seperti melihat Farhan marah besar, saat ia terus mengompori keponakanya itu, agar suatu saat nanti Ainun datang menganggu bisa saja Farhan mengusirnya.


"Kamu kenapa, Farhan? Apa yang kamu pikirkan?" Indah terlihat senang, dengan apa yang ia katakan pada Farhan, jelas ia ingin hidup Anna tanpa pengganggu.


"Farhan kesal tante, kalau saja Farhan tahu jika Tante Ainun mantan istri dari papah Galih, mungkin Farhan enggak bakal buat dia tenang di rumah." Gerutu Farhan, terlihat urat leher menonjol. Memperlihatkan kekesalan dan amarah pada anak remaja itu.


Indah tersenyum kecil dan kembali membuat suatu perkataan pada keponakanya itu, " Oh, ya. Kamu tahukan kenapa mamah kamu sampai masuk ke rumah sakit, jelas semua karena ulah Tante Ainun. Tadi dia datang ke sini marah marah sama tante."


Farhan begitu semakin kesal dan murka, hingga ia berkata," awas saja kalau Tante Ainun datang lagi ke rumah, Farhan tidak akan segan segan mengusir dia."


Indah seakan menang, dengan apa yang dikatakannya kepada Farhan, mencuci otak Farhan agar membenci Ainun.


Padahal Indah tidak tahu jika Ainun adalah ibu kandung Farhan. Jika Indah tahu mungkin tak akan melakukan sesuatu yang membuat Farhan marah.


Galih datang dengan wajah cemasnya, jika Anna harus di oprasi segera mungkin.


Indah berdiri, melihat kegelisahan di perlihatkan oleh Galih di depan Indah, membuat wanita bermata sipit itu mengerutkan dahi dan memegang tangan suami adiknya.


"Apa yang tengah membuatmu cemas, Galih? "


Galih berdiri dengan keringat dingin bercucuran, tubuhnya lemas menjawab perkataan kakak dari istrinya." Anna harus segera di oprasi."


"Kenapa bisa?"


"Entahlah!"


Indah semakin emosi dengan jawaban singkat Galih, yang tak mau menjelaskan semuanya secara detail. "Galih, aku sebagai kakaknya ingin tahu, kenapa kamu malah menjawab dengan .... "


Belum perkataan Indah terlontar semuanya, kini Deni menarik tangan istrinya dan berkata." jangan dulu bertanya di saat orang itu tengah gelisa, kamu harus lebih sabar dulu. Sebelum bertanya tentang Anna."


Indah yang sudah muak, berusaha menghempaskan tangan Deni dengan berkata." sudahlah jangan menasehatiku, Deni."

__ADS_1


"Sudah kalian tak usah bertengkar, Anna harus menjalani oprasi karena darah yang tak mengalir ke otak dengan setabil." Timpal Galih, membuat kedua insan itu kini diam, tak memperdebatkan perkataan Galih lagi.


"Indah, apa kamu bisa mengerti saat ini, kamu tidak tahu apa - apa. Kamu hanya menjadi penonton dan tak tahu masalahnya." Bentak Galih.


__ADS_2