Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 178 Kabar suami Bu Sari.


__ADS_3

Bu Sari mengusap pelan air matanya, dengan suara isak tangis yang terus keluar dari mulut wanita tua itu. Ia seakan tak lelah, menangisi sang suami yang tak pernah Bu Sari hargai.


"Apa yang terjadi ayo katakan?" tanya Bu Ayu, berusaha membuat Bu Sari mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.


Tangisan Bu Sari kini terdengar mereda, pada akhirnya wanita tua itu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi." Suami saya. Kecelakaan, Bu."


"Apa?" Jawaban dari Bu Sari tentulah membuat Bu Ayu tak menyangka. Bagaimana bisa begitu mendadak sekali.


Bu Sari terlihat lemas, tanganya bergetar merasakan perasaan yang tak karuan. Terbayang akan kecelakaan menimpa suaminya. " saya harus ke rumah sakit sekarang."


Bu Sari tak terlihat tenang, hingga dimana Bu Ayu berusaha menenangkan besannya.


"Lebih baik, Bu Sari sekarang tenangi hati ibu dulu. Jangan gegabah. Apapun yang terjadi selalu berpikir positif, mudah mudahan suami ibu tidak mengalami hal yang tak diinginkan."


Bu Sari hanya menganggukan kepala, Setelah mendengar apa yang dikatakan Bu Ayu.


Wanita yang menjadi ibunda Ajeng kini memeluk Bu Sari menenangkan wanita yang menjadi besannya itu.


Dari kejadian yang menimpa suaminya. Bu Sari benar-benar merasa bersalah, andai saja jika ia tidak menelepon suaminya malam-malam dengan menangis dan membicarakan tentang isi hatinya yang begitu lelah, kemungkinan besar sang suami tak akan menyusul.


"Bu Ayu, tolong beritahu Raka. Saya mau menyusul ke rumah sakit." Ucap Bu Ayu, ia tak sabar ingin menemui sang suami yang masih berada di rumah sakit.


Wanita berkulit putih dengan rambutnya yang tergulung rapi, tersenyum tipis melihat Bu Sari terlihat tenang. Ia menganggukkan kepala, mempersilahkan Bu Sari untuk pergi.


"Bu Sari hati hati."


"Ya, bu."


Tangan yang tadinya terlihat gemetar kini terlihat tenang, dengan berjalan menunggu taksi yang lewat. Bu Ayu tetap memperhatikan ibunda Ajeng yang menaiki mobil taksi.

__ADS_1


Setelah melihat Bu Sari yang masuk ke dalam mobil taksi, ia bergegas ke dalam rumah untuk segera memberitahu Raka tentang ayahnya yang masuk ke rumah sakit karena korban kecelakaan.


Terlihat Ajeng dan Raka tengah berbahagia, Bu Ayu sebenarnya tak ingin merusak kebahagiaan mereka karena kabar ayah Raka yang mengalami kecelakaan.


Saat kaki melangkah mendekat ke arah Raka dan juga Ajeng. Pak Aryanto menarik tangan Bu Ayu dengan menempelkan jari tangan pada bibir istrinya.


"Jangan menganggu kebahagian Ajeng."


Bisik Pak Aryanto pada istrinya.


Bu Ayu kini menarik tangan suaminya untuk keluar dari dalam penjara sementara waktu.


"Pak, ibu hanya ingin memberitahu Raka, jika ayahnya mengalami kecelakaan."


"Apah. Kenapa bisa?" tanya Pak Aryanto, terlihat syok mendengar suami Bu Sari mengalami kecelakaan.


"Ibu mendengar dari Bu Sari istrinya!" jawaban yang tak diharapkan Pak Aryanto, karena bagaimana pun suami Bu Sari itu begitu mempunyai sipat baik hati.


"Bu Sarinya kemana?" tanya Pak Aryanto, ingin menemui Bu Sari, tak tega dengan Bu Sari yang mungkin kini merasakan keterpurukan.


"Justru itu, ibu mau memberitahu Raka, karena Bu Sari sudah pergi ke rumah sakit!" jawab Bu Ayu, membuat Pak Aryanto tersenyum.


"Syukurlan kalau begitu." ucap Pak Aryanto sembari mengusap dada.


"Ya sudah, ibu mau memberitahu dulu Raka." jawab Bu Ayu, yang mulai masuk ke ruangan penjengukan di dalam penjara


Pak Aryanto malah menarik tangan Bu Ayu kembali, agar tidak mengganggu anak-anaknya yang tengah berbahagia. Karena jika Raka mendengar semua itu tentulah akan membuat mereka berdua syok dan terpukul, maka dari itu Pak Aryanto berusaha menahan istrinya agar tidak gegabah memberitahu ayah Raka yang kini mengalami kecelakaan.


"Sudahlah Bu, biarkan saja mereka menikmati kebahagiaan mereka nanti, jika mereka sudah tenang dan puas dengan kebahagiaan mereka baru kita kasih tahu Raka ayahnya mengalami kecelakaan. "

__ADS_1


Mendengar semua itu tentulah membuat Bu Ayu hanya menurut pada suaminya, mereka hanya bisa duduk di luar penjara menunggu Ajeng yang belum puas mengobrol dengan suaminya


*******


Melihat ke sekeliling tidak ada kedua orang tua Ajeng, tentulah menjadi kesempatan untuk Raka merayu wanita yang hampir ia talak dengan berusaha keras, Raka membuat sebuah gombalan dan juga rayuan


"Ajeng. Sayang, apa kamu mau tinggal bersama dengan mas, jika kita tinggal bersama di rumah, tentu kita akan mempunyai seorang anak dan berbahagia seperti orang lain."


Ajeng menganggukan kepala mendengar apa yang dikatakan Raka ia tersenyum lebar seperti senang dengan rayuan yang diberikan suaminya itu.


Terlihat sekali Ajeng begitu menurut perkataan Raka, membuat Raka terus mengatakan hal berulang ulang pada istrinya itu, "Ajeng harus bisa merayu Anna untuk membebaskan mas, dari dalam penjara ini, kalau Ajeng bisa merayu Anna membebaskan Mas dari penjara ini, kita akan hidup bahagia dan bisa bersama. Mas janji akan mengurus Ajeng seumur hidup. "


Wanita mana yang tidak akan luluh dengan rayuan yang begitu terdengar manis di telinga, Raka memang dari dulu terkesan pintar dalam merayu wanita.


"Apa mas Raka, tidak akan mengingkari janji Mas Raka, setelah semua keinginan Mas Raka terpenuhi. " kalau Ajeng dengan rasa takut yang ia masih ia rasakan.


Ajeng menundukkan kepala, saat ia teringat akan hinaan dan juga cacian yang dilontarkan oleh suaminya.


" kenapa kamu malah berkata seperti itu, sayang. Tentu Mas tidak akan obral janji. Mas akan memenuhi keinginan Ajeng dan juga anak anak kita, jadi jangan kuatir. Mas benar-benar tulus kepada kamu dan juga menyayangi kamu apa adanya, mana mungkin sekarang Mas mau bertemu dengan kamu, menyuruh ibu jauh-jauh datang ke rumah sakit hanya untuk membawa kamu ke sini itu rasanya tidak mungkin Ajeng."


Ajeng benar-benar dibutakan Dengan Cinta, ia begitu menurut dengan Raka, sampai bisa-bisanya Raka merayu kembali Ajeng, agar wanita berambut panjang lurus itu, bisa dekat dengan Anna.


Sebenarnya Ajeng sedikit ragu, mendekati Anna, karena ia orang yang tegas dan tak bisa diganggu "Mas, tahu sendiri kan, aku keluar dari rumah sakit karena siapa? karena Ana melihat keadaanku yang hampir mati bunuh diri, Karena Kamu Dulu menghina aku dan menyakiti hatiku bahwa tubuhku ini cacat."


"Iya Mas tahu, itu semua gara-gara keegoisan Mas yang malah menyia-nyiakan wanita sebaik kamu, Mas minta maaf sekali lagi sama kamu Ajeng,"


Raka memeluk erat tubuh Ajeng, agar wanita dihadapanya luluh, dengan rayuannya.


Besar harapan Raka pada Ajeng. Agar istrinya mau menuruti apa yang dikatakan Raka kepadanya.

__ADS_1


"Aku sangat menyayangi kamu, Ajeng. Kalau kita balik lagi, kita bisa hidup bahagia dan memiliki seorang anak."


__ADS_2