
Farhan ingin sekali memukul mulut adiknya itu, karena Radit yang masih kecil beraninya melawan apa yang dikatakan Farhan.
Suara Anna mulai terdengar lagi dari ponsel Radit," sudah sebaiknya kalian jangan bertengkar lagi ya, Lulu sebenarnya belum ditemukan, di sini Ibu mendapatkan musibah."
Deg ....
Hati kedua anak-anak itu berdetak, ketika sang ibunda mengatakan sebuah musibah.
"Mama, sekarang gimana keadaanya?"
" keadaan Mama sekarang baik-baik saja, karena Papa sudah menyelamatkan Mama dari kebakaran, yang hampir merenggut nyawa mama."
Mendengar cerita yang terlontar dari mulut Anna, keduanya kini menitihkan air mata, mereka bersyukur sekali sekarang masih bisa mengobrol dengan sang mama, sudah terselamatkan dari kebakaran.
"Maafkan kami berdua ma, kami nggak tahu. Jika bakal jadi seperti ini, " ucap Farhan, merasa bersalah tak bisa menahan Radit agar tak membentak.
"Sudah kamu jangan pikirkan hal itu, di sini mama baik baik saja kok sekarang," jawab Anna, di sudut kedua matanya masih berlinagan air mata, kedua anaknya tak tahu jika mereka sudah kehilangan adik mereka berdua.
Farhan tetap bersikap ramah, tak mau membuat keganduhan, bagaimana pun ia selalu menyikapi dengan tenang dan tak menekan orang tua.
Tidak seperti Radit, yang selalu membentak dan ingin terburu-buru ketika menginginkan sesuatu.
Radit kini merebut ponsel dari kakaknya, dan sekarang bertanya lagi." Lalu dimana Lulu?"
Farhan merasa heran dengan Radit yang menanyakan Lulu terus menerus, bukanya sudah jelas sang mama sekarang terkena musibah.
"Mama, jangan banyak alasan dong. Hanya karena mencari Lulu, mama bilang ini itulah." Radit semakin berani tak peduli melukai hati sang mama atau tidak.
Farhan berharap jika adiknya jangan membuat beban untuk pikiran sang Mama di sana, " Radit."
Panggilan sang kakak diabaikan oleh Radit begitu saja, tak mempedulikan sakit tidak hati sang mama. Ia terus menanyakan keberadaan Lulu yang berlum di temukan sampai sekarang juga.
"Mah, aku tidak mau tahu ya, mama
__ADS_1
harus temukan Lulu, jangan pulang dengan tangan kosong."
Mendengar Radit berbicara seperti itu, tentu membuat Anna, seakan tertekan." Radit, mama dan papa akan berusaha."
Farhan hanya menggelangkan kepala, setelah mendengar perkataan Radit yang terdengar keterlaluan.
"Radit." Beberapa kali Farhan memanggil Radit, berharap jika adiknya itu tidak terlalu menekan Anna.
"Bagus, oh ya kalau kalian tidak menemukan Lulu. Jangan harap, aku akan mengakui kalian sebagai orang tua lagi." ancam Radit, Farhan yang mendengar hal itu menarik ponsel pada tangan Radit dan seketika mematikkannya begitu saja.
*******
"Kak Farhan ini gimana sih, Radit itu belum selesai ngomong, malah main tarik begitu saja. "
"Dari tadi kan, kakak bilang. Kamu harus jaga perkataanmu itu." Farhan berusaha memperingatkan sang adik. "
Namun, tetap saja Radit tetap acuh, ia malah mengabaikan perkataan Farhan begitu saja.
Anak kedua Anna itu, kini beranjak turun dari tempat tidurnya, untuk pergi dari hadapan sang kakak. " Kamu mau ke mana, Radit?" panggilan sang kakak benar benar di acuhkan Radit.
"Kenapa dengan anak itu."
Sambungan telepon masih terhubung, Farhan mulai berbicara dengan Anna," Hallo, ma. Maafin Radit ya. Radit anaknya memang kaya gitu akhir akhir ini, dia selalu berbicara aneh."
Farhan mencoba menenangkan suasana agar Anna tidak bersedih dengan perubahan Radit yang akhir akhir ini, menjadi sering membentak.
"Ya mama, mengerti kok, Farhan. Adik kamu memang kaya begitu. "
Anna sudah tahu watak Radit kaya seperti apa, tak beda jauh dengan ayahnya. " Oh ya, gimana kabar dede bayi dalam kandungan, apa dia baik baik saja?"
Pertanyaan Radit, tentulah membuat Anna bersedih dan terpuruk, bayi yang ia kandung sudah meninggal dunia. Betapa menyakitkannya hati Anna saat itu. Harus kehilangan sang bayi mungil dalam perutnya.
"Mah, kok diam?" tanya kembali Farhan, merasa ada sesuatu yang janggal. " Ada apa ma, ayo bicara?" tanya lagi Farhan, berharap jika sang mama saat ini mau menjawab.
__ADS_1
"Sebenarnya, saat kejadian kebakaran itu, bayi dalam perut mama sudah tidak ada. Mama keguguran sayang!" jawaban menyakitkan dalam hati Farhan, musibah ternyata menewaskan bayi dalam kandungan sang mama.
"Farhan, nggak nyangka sekali ma, mama yang sabar ya di sana, dan mudah mudahan saja Lulu cepat di temukan," ucap Farhan, menyemangati sang mama. Karena memang hanya dia anak yang selalu mengerti akan situasi Anna saat ini.
Ia anak paling dewasa yang tak pernah marah dan selalu mendukung apapun dilakukan Anna.
"Farhan terima kasih ya, kamu selalu mengerti mama. Mama benar benar bangga sama kamu."
"Tak usah memuji berlebihan mama, Farhan kan sayang sama mama." ucap Farhan, semakin membuat hati Anna tenang.
Dari dulu Farhan selalu menjadi obat dan penenang bagi Anna.
Radit ternyata tak pergi, ia mengintip dibalik pintu kamar, melihat percakapan antara Anna dan Farhan, terlihat ada rasa iri dan kesal. Ketika tawa di perlihatkan Farhan saat mengobrol dengan sang mama.
Anna selalu nyaman dengan Farhan, selalu membuat Farhan tertawa dan tersenyum. Tapi dirinya Radit, " Mama memang pilih kasih. "
Watak dan sifat Raka begitu membekas pada Radit, padahal Anna sudah berusaha mengubah sifat itu, mencari hal hal yang bisa membuat Radit berubah.
Bukanya berubah Radit malah semakin melawan dan membentak.
"Oh, ya. Ma. Farhan mau pergi dulu sama teman teman ya, mama jaga diri mama di sana baik baik. Nanti siang juga Farhan dan Radit mau menengok Ibu Ainun," ucap Farhan, masih dalam sambungan telepon.
Saat itulah Anna mengerti dengan apa yang dikatakan anaknya. Ia mulai mengatakan sesuatu sebelum mematikkan panggilan telepon dengan Radit," kamu hati-hati di sana ya nak. Tolong kamu jaga Radit baik-baik. "
"Baik ma, mama juga di sana jangan terlalu banyak pikiran, Farhan dan Radit disini menunggu kedatangan mama, kami rindu dengan Mama," ucapan membuat senyuman dari raut wajah Anna mengembang.
Walau pun Farhan bukan anak kandung Anna, tapi ia seperti sosok penenang dan juga bagi Anna.
"Dah, ma."
Panggilan telepon kini dimatikan sebelah pihak, Farhan mulai menaruh ponsel Radit di tempat semula, ya berjalan keluar dari dalam kamar adiknya. Terlihat Radit berdiri dengan raut wajah merahnya seperti menahan amarah.
"Radit, kamu masih ada di sini, sekarang kamu ikut kakak, " ucap Farhan mengajak adik pertamanya itu pergi, Radit awalnya menolak.
__ADS_1
Namun Farhan memaksa adiknya itu menarik tangan Radit hingga masuk ke dalam mobil," aku tidak mau pergi."
Radit meronta-ronta, karena tenaga Farhan yang cukup lumayan besar, membuat Radit dengan pasrahnya masuk ke dalam mobil.