
Galih merasa sedikit lega, setelah mendengar Farhan berada di rumah sakit menemani ibunya, iya tak perlu kuatir, dan memikirkan Ainun.
Nanti jika keadaan Anna sudah membaik, pastinya Galih akan menemui Mantan istrinya, walau mungkin bukan sekarang-sekarang.
"Mas Galih."
Galih hampir lupa panggilan istrinya, terburu-buru berlari menghampiri Anna, mulai bertanya kepada istrinya itu," Ada apa Anna, apa ada sesuatu yang kamu butuhkan?"
Anna menggelengkan kepala, iya kini menjawab perkataan sang suami," Kamu jangan pergi jauh-jauh, aku tidak mau ditinggal sendiri."
Galing mengusap lembut tangan sang istri, dia menampilkan kedua ujung bibir untuk tersenyum di hadapan Anna. "Kamu tenang saja aku tidak akan kemana- mana."
Setelah mendengar jawaban dari Galih, Anna terlihat bernapas lega, ia menyandarkan kepala pada bahu sang suami. Merasakan rasa nyaman dan tenang, mengusap pelan perut Anna." Nak, sehat sehat ya di dalam perut."
"Iya papah." jawab Anna, memperlihatkan rasa bahagia di hatinya.
Radit melintasi kamar sang mama, ia melihat kemesraan terpancar dari diri Galih dan juga mamanya. Merasa tak adil, Anna lebih meluangkan waktunya bersama sang suami daripada kedua anaknya yang benar-benar butuh kasih sayang lebih.
"Mama sudah lupa dengan aku dan Lulu." Menggerutu kesal, Radit tak terima melihat semua kebahagiaan terlihat di depan matanya.
Langkah kaki Radit kini berjalan gontai, terasa tak bersemangat. Ia membuka pintu kamar, merebahkan tubuh mengingat apa yang dikatakan Adik bungsunya itu,
"Apa aku harus mengikuti saran dulu?"
Menarik napas, Radit bangkit dari tempat tidurnya untuk segera menemui Farhan sang kakak.
Dengan kedua mata yang terlihat sayu, memikirkan Lulu seakan anak itu tak bahagia, Radit kini mengetuk pintu kamar sang kakak.
Tok .... Tok ...
Radit berharap jika kakaknya itu, memberi solusi yang terbaik untuknya dan juga adik bungsunya.
"kak Farhan."
__ADS_1
Beberapa kali Radit memanggil sang kakak, tapi tak ada jawaban satupun. Pada akhirnya, ia dengan lancangnya membuka pintu kamar sang kakak.
Dengan harapan sang kakak ada di dalam kamar, melihat kamar yang begitu terlihat rapi. Radit sama sekali tak menemukan kakaknya," Loh, kak Farhan ke mana ya?"
"Kak Farhan."
Berteriak beberapa kali, tetap saja tak ada jawaban dari kakak pertamanya itu.
"Sepertinya Kak Farhan tidak ada di dalam kamar." Radit kembali menutup pintu kamarnya, ia berjalan dengan langkah terlihat lesu.
Kembali lagi untuk segera tertidur di dalam kamar, "Sepertinya Kak Farhan tidak ada di rumah, Radit cari ke sana ke mari ia tak ada."
Karena rasa lelah terlalu memikirkan Lulu, pada akhirnya anak berumur belasan tahun itu tertidur pulas di atas ranjang tempat tidur.
******
Sedangkan Farhan tiba-tiba tertidur setelah menunggu keadaan ibunya. Dimana Ainun hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur.
Beberapa kali ia menutup kedua mata, tetap saja pikiranya tertuju pada lelaki yang sudah jahat memperkosanya.
"Entahlah, dari tadi ibu tidak bisa tidur."
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Farhan berusaha menemani ibunya yang belum juga tertidur, seperti ada rasa takut dan trauma menyelimuti hati wanita berhijab itu.
"Ya sudah, Farhan hidupkan musik, agar ibu tenang dan rileks," ucap Farhan memegang ponselnya, sang ibu hanya bisa menatap sayu dengan penuh rasa kegelisahan.
"Gimana sudah agak mendingan?" tanya Farhan, sembari memijit kedua kaki ibunya dengan pelan.
Ia semakin bahagia, dengan Farhan begitu menjaganya dengan baik, hatinya terasa tak takut lagi, Ainun berusaha menghilangkan rasa trauma. Karena ada dukungan dari anak semata wayangnya.
Intan ternyata berada di rumah sakit, dimana ia tengah menyelidiki Ainun, melihat apakah wanita berhijab itu sendirian.
Mengeramkan gigi, seraya mengepalkan tangan, Intan ternyata terlambat, Ainun kini berada dalam pengawasan anaknya Farhan, " kenapa bisa si Farhan itu, ada di situ terus sih, jadikan susah mengelabui Ainun, agar dia itu kembali lagi jadi gila."
__ADS_1
Karena rasa bencinya akibat di pecat, Intan semakin menjadi jadi, ia menaruh dendam pada Ainun, karena dipecatnya Intan dengan rasa tak hormat, dipermalukan.
Suster datang untuk mengecek keadaan pasien, dimana Intan melihat suster itu melewatinya begitu saja. Sampai teringat sesuatu yang pastinya akan mengasikkan.
Intan kini mengedap ngendap ke ruangan ganti baju suster, mencuri baju sang suster agar ia bisa menjalankan rencananya untuk masuk ke ruangan Ainun.
Setelah berhasil masuk ke ruangan suster, Intan kini mengambil salah satu baju suster yang tengah menganti pakaiannya. "Akhirnya aku bisa mendapatkan baju suster."
Dengan terburu-buru Intan mulai memakai baju yang baru saja ia curi, setelah selesai memakai baju, Intan menunggu suster yang baru saja masuk ke ruangan Ainun.
" Sepertinya aku harus menunggu dulu sebentar, agar suster yang lain tidak mencurigai gerak-geriku saat ini."
Di dalam ruangan Ainun, suster ternyata tengah mengganti semua peralatan di ruangan Ainun. Agar pasien merasa nyaman.
Wanita berhijab putih itu, kini bertanya kepada sang suster," Sus, kapan ya aku bisa pulang dari sini?"
Mendengar hal itu tentulah membuat sang suster menjawab dengan keramahannya," kita nunggu dulu konfirmasi dari dokter."
Ainun merasa kecewa dengan perkataan yang terlontar dari mulut Suster, iya sudah bosan berada di rumah sakit, ingin segera pulang.
"Ibu kenapa?" tanya Farhan, melihat raut wajah ibunya yang cemberut.
"Ibu sudah bosan di sini, Ibu ingin cepat-cepat pulang!" jawab Ainun, membuat Farhan menggelengkan kepala.
"Loh, kok gitu. Kan Keadaan ibu belum juga membaik, ibu harus sabar dulu di sini," ucapan berusaha menenangkan sang ibu, agar tetap bersemangat dan tidak merasakan rasa bosan ketika berada di rumah sakit.
Pintu ruangan kini terbuka kembali, sosok yang dinantikan Ainun kini datang. Ternyata Galih, ia meninggalkan istrinya yang sudah tertidur hanya ingin melihat keadaan Ainun, pikirannya begitu resah.
Ainun tersenyum melihat kedatangan Galih secara tiba-tiba," Papah datang?"
Farhan tak menyangka jika sang papah datang," iya Farhan, mumpung ibumu sudah tidur karena makan obat. Jadi papah menyempatkan diri untuk datang ke sini."
Ainun semakin senang dengan apa yang dikatakan Galih terhadap anaknya, perasaannya kini berbunga-bunga setelah tadi siang merasakan rasa kesepian dan rasa rindu yang menunggu pada mantan suaminya itu.
__ADS_1
Galih, tak bisa tidur dengan pikirannya, Iya terbayang akan wajah Ainun dan juga penderitaan dirasakan Mantan istrinya. setelah mendapatkan perlakuan yang tidak baik, diperkosa oleh orang tidak dikenal.
Membuat Galih resah dan ingin menanyakan kejadian yang menimpa Mantan istrinya itu. Galih ingin cepat-cepat Semua kasus tentang pemerkosaan Ainun, ia tak mau jika Ainun sampai menderita kembali.