Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 154 Menangisnya Farhan


__ADS_3

Dada anak muda itu terlihat naik turun, seperti menahan kekesalan. Mungkin Farhan belum menerima dengan apa yang ia dengar dari mulut Anna, sampai dirinya hanya menatap tajam pada sang mama.


Galih, melirik ke arah Anna. Terlihat sekali wanita yang baru menjalankan oprasi ingin memeluk Farhan, menenangkan anak remaja itu dari ketidak percayaannya.


"Farhan." Panggilan lembut terdengar kembali, tapi Farhan mencoba berusaha tetap pada posisinya.


Galih mendekat dan berkata." Farhan, aku ayah kandungmu, nak."


Masih ada rasa tak terima dengan pernyataan Galih, Farhan menunduk dan kini menitihkan air mata kembali." kalau kamu memang ayah kandungku, kenapa kamu tega membuangku. Apa kesalahanku?"


Mendengar perkataan Farhan tentulah membuat Galih menyesal, pastinya di usia remaja. Farhan akan bertanya dengan detail dan ia ingin tahu semuanya.


Ini resiko yang harus ditanggung Galih, ketika sang anak terlihat kecewa, ada tanggung jawab seorang ayah kepada anaknya.


"Farhan, Papah Galih melakukan semua ini, agar kamu bahagia dengan wanita yang mengasuhmu menganggap kamu sebagai anak."


Jawaban yang tak bisa diterima anak muda itu." Jadi karena itu, papah tidak menyayangiku."


"Bukan karena itu, papah sangat menyayangimu. Hanya saja papah melakukan semua itu, agar kamu tak di pinta oleh Ainun ibu kandung kamu sendiri, maka dari itu papah berpura pura membuang kamu." Penjelasan yang sudah di mengerti oleh Anna. Tapi belum tentu di terima oleh Farhan.


"Ainun? Bukanya wanita itu yang kemarin berada di rumah papah, jadi?"


"Ya Farhan, dia mantan istri papah. Ibu kandung kamu sendiri Farhan, kenapa papah melakukan semua ini, karena ibu kandung kamu mempunyai gangguan jiwa!"


Farhan semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan Galih, mungkin ia tak tahu jalan cerita dari awal hingga dirinya berkata, " sudahlah, Farhan tidak mau dengar lagi apa kata papah. Farhan ingin bertemu dengan ibu kandung Farhan sendiri."


Galih memegang bahu anaknya dan berkata." Farhan, ibu kandung kamu itu."


Anna memegang tangan sang suami dan berkata, " sudah kamu antar saja Farhan menemui Ainun. Bagaimana pun Farhan berhak bertemu dengan ibu kandungnya sendiri dan mengakui Ainun."


"Tapi, kamu di sini."


"Mas tenang saja, nanti juga akan ada perawat dan suster datang ke ruangan melihat ke adaan aku, mas."

__ADS_1


Baru saja membicarakan permasalahan Farhan, Indah dan Deni datang. Mereka tersenyum ke arah Anna, " Adikku."


Kecupan mendarat pada kedua pipi adiknya, hati Indah tenang, setelah melihat Anna tersenyum.


Kedua mata yang berkaca kaca, berusaha Galih tutupi, sedangkan Farhan masih berdiri dengan wajah mengarah ke arah jendela.


Seakan ia tak ingin permasalahnya terlihat oleh orang orang di sekitarnya.


Anna mulai bergegas menyuruh Farhan dan juga Galih pergi dari ruangan untuk menemui Ainun.


"Farhan, Galih. Ayo sekarang berangkat."


Farhan menganggukan kepala, dan mengajak Galih untuk segera pergi, sedangkan Indah merasa heran, kenapa mereka berdua pergi. Sedangkan Anna masih butuh ditemani.


"Loh, Anna. Kenapa kamu suruh mereka pergi?" tanya sang kakak, yang selalu ingin tahu masalah pribadi sang adik dari dulu.


"Mm, mereka belum makan kak, jadi Anna suruh mereka untuk segera pergi mengisi perut. Kasihan dari tadi nungguin Anna terus di sini!" jawab Anna berbohong, jika mengatakan kejujuran untuk menemui Ainun, mungkin Indah tak akan menerima. Tentunya sang kakak akan salah sangka dan malah membuat kerusuhan dan perdebatan nantinya.


"Kakak kira, kenapa." ucap Indah, terlihat raut wajah sedih ia perlihatkan pada sang adik.


"Kamu tahu tidak Anna, Mas Danu meninggal dunia!" jawab Indah dengan isak tangis, sesekali ia mengusap air mata yang terus berjatuhan ke dasar pipi.


" innalillahi wa Innalillahi roji'un, bukanya kemarin Mas Danu sedang di rawat," ucap Anna, mengucap bela sungkawa atas kepergian Danu, ia juga bertanya akan kematian mantan suami kakaknya yang secara tiba tiba.


Indah bukanya menjawab, ia malah menangis histeris kembali, membuat Anna mengerutkan dahi. Deni kini menjelaskan semuanya, membuat Anna kini paham.


"Bu Dela mungkin belum menerima takdir, tapi suatu saat nanti Anna yakin, Bu Dela akan menyayangi kakak kembali. Dia kan wanita baik, hanya saja kepergian Mas Danu, membuat hatinya sekarang sedang rapu."


Anna berusaha memberi semangat pada Indah, agar tidak memikirkan Bu Dela yang berubah, " Kakak juga tahu itu, tapi .... "


Anna memotong pembicaraan sang kakak, dengan berkata." Sudah kakak, jangan menyalahkan diri kakak sendiri, lebih baik sekarang kakak fokus pada tujuan kakak sendiri. Jangan semuanya di jadikan beban pikiran, bahwa Bu Dela terus menerus menyalahkan kakak. Lebih baik kakak benahi diri kakak, untuk berubah lebih baik lagi dan mejalankan rumah tangga yang bahagia bersama Deni. Suami kakak sendiri."


Deni tersenyum saat kata kata, penyemangat itu terlontar dari mulut Anna. Wanita yang dulu sangat dicintai Daniel, sampai Deni tahu semua tentang kegilaan kakaknya yang menganggumi Anna.

__ADS_1


Walau Anna terkesan lemah, ada sisi lembut dan juga kasih sayangnya begitu dalam pada semua orang yang dekat dengannya.


"Pantas saja, kak Daniel dulu sering memuji kamu Anna. Memang kamu wanita yang begitu istimewa."


Anna yang mendengar kata Daniel, tiba tiba merasa kesal, apalagi setelah Galih menceritakan tentang. Keburukan Daniel di masa lalu.


Memang Daniel itu begitu terlihat baik, ia tak pernah macam macam terhadap Anna, selalu sopan dan menghargai Anna sebagai pacarnya.


Tapi kenapa di balik keindahan dan juga keistimewaan Daniel, ada sisi jahat dan buruknya pada lelaki setampan dia.


Anna tiba tiba saja melamun memikirkan mimpi semalam, yang dimana Daniel pergi sendiri dengan air mata kekecewaan keluar dari matanya.


"Anna, kamu kenapa?"


Lamunan Anna membuyar, saat sang kakak mengagetkannya dengan suara sedikit keras.


"Kakak ini!"


"Cie cie, udah di puji malah melamun." Ledek sang kakak berusaha membuat Anna tersenyum.


Andai saja Indah tahu tentang keburukan Daniel mungkin saja ia tidak akan menyalahkan Galih sepenuhnya. Anna juga tahu, jika Indah hanya tahu jika Galih lelaki tidak tahu diri yang bisanya membawa mantan istri untuk tinggal di rumahnya.


"Apaan sih kak, nggak lucu ya." Cetus Anna. Masih terbaring dengan mengucap rasa syukur masih diberi kesempatan hidup di dunia.


Suara panggilan telepon berbunyi, Indah melihat ponselnya yang bergetar, menandakan panggilan masuk.


"Siapa ya. Yang menelepon, tumben amat."


Kedua mata Indah membulat setelah melihat panggilan teleponnya menyalah, merasa jijik saat melihat nomor yang tertera pada panggilan telepon.


"Sejak kapan aku menyimpan nomor telepon nenek tua ini."


Anna penasaran dan bertanya.

__ADS_1


"Siapa kak?"


__ADS_2