Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 125 Anna membuat Ainun malu.


__ADS_3

Masa pemulihan hanya sementara waktu, Ainun sudah di izinkan pulang. Rasa bahagia menyelimuti hati wanita berkerudung putih itu.


Galih mulai mengajak Ainun untuk bersiap siap pulang, tak lupa dengan membelikan beberapa baju untuknya.


Hari bahagia dimulai untuk Ainun, senyuman mengembang pada bibir mungil wanita berkulit putih itu. Keluar dari ruangan, Ainun mulai merangkul lengan Galih, membuat lelaki berperawakan tegap dan kekar, sedikit risih dengan tingkah Ainun yang berubah sedikit centil.


"Aku hanya. Membantu kamu, jadi jangan seenaknya memegang tubuhku yang sudah menjadi hak milik istriku sepenuhnya. "


Menghelap napas, pada akhirnya Galih sedikit mengeluarkan kata kata cetus di depan Ainun. Karena semakin dikasihani, wanita berhijab putih itu seakan tak tahu malu.


"Maaf, Galih."


"Ainun, aku memberi kamu kesempatan tinggal di rumah satu bulan saja, setelah kondisi fisik kamu setabil. "


"Mm, kalau kondisi aku memburuk? "


"Aku masukan kamu ke dalam. RUMAH SAKIT JIWA kamu PAHAM! "


Sifat Galih yang memang jutek tak bisa di tolerasi lagi, ia tak bisa sepenuhnya menuruti perkataan dokter. Apalagi setelah tadi malam membaca pesan Anna yang membuat dirinya bersalah.


"Galih."


Panggilan Ainun membuat Galih menghentikan langkah kaki yang dari tadi berjalan, menatap ke arah belakang. Ainun ternyata tertinggal jauh, begitu lemahnya wanita itu.


"Gendong."


Galih merasa semakin kesal dengan perubahan sifat Ainun yang berubah menjadi manja. Galih mulai mengambil kursi roda yang tak jauh darinya. Menyuruh Ainun untuk segera duduk.


Dalam perjalanan menuju ke mobil, saat kursi roda di jalankan oleh Galih, saat itulah mulut lelaki berperawakan tegap dan kekar mengoceh dihadapan Ainun.


"Tolong jaga sikap saat di rumah, aku sudah mempunyai istri jangan berharap apa apa padaku, karena setelah kamu sembuh sebulan. Aku akan mengurus perceraian kita. "


"Galih."

__ADS_1


Ainun mengira perubahannya semalam akan bertahan sampai pagi hari atau seterusnya, tapi ternyata Galih tetap bersikap tak peduli.


"Yang terpenting aku tidak mengorek masalalunya bukan. " Gumam hati Galih.


Saat mendorong kursi roda yang ditumpangi Ainun, Galih merasa tak sabar ingin bertemu dengan Anna, bercanda bergurau merasakan bulan madu yang sudah ia rencanakan.


"Galih, aku mengira kamu akan menjadikan aku istrimu lagi. "


"Sudahlah, Ainun. Jangan bahas itu lagi, aku takut kondisi kamu drop lagi. Aku sudah mengucapkan kata talak 3 dan tinggal mengurus perpisahan kita.


Kita itu tidak bisa bersama lagi. "


Ainun menundukkan kepala dan berkata. " Apa kamu bisa memperlakukanku layaknya seorang istri seperti dulu. "


"Sudahlah jangan banyak bicara, nanti di rumah banyak pelayan yang akan menjaga kamu. Jadi jangan berharap aku ingin melayani kamu seperti istriku sendiri, itu tidak mungkin, Ainun. Kita bisa bersama lagi. "


Mengepal kedua tangan merasakan rasa sesak.


Sampailah di dalam mobil, Ainun tetap saja diam memperlihatkan wajah kecewanya.


Mana mungkin bisa Ainun melakukan semua itu, yang ada Ainun akan tersiksa dan malah semakin deprsi karena perlakuan Galih yang dingin.


"Ainun, nanti kamu di rumah akan banyak menghabiskan waktu dengan ketiga anak anakku, jadi kamu jangan kuatir akan masa lalu yang pernah menghantui kamu dulu. "


Ainun tak menyangka, jika Galih dari dulu sampai sekarang masih pada pendirinya. Mencintai satu wanita dan jutek pada semua wanita yang mendekati dirinya.


Kekecewaan kini muncul lagi pada benak Ainun. Kecewa dan sedih yang kini dirasakan Ainun.


Perjalanan ternyata tak butuh waktu begitu lama, hanya beberapa menit saja dan sudah sampai, " ayo . "


Sopir membukakan pintu untuk Ainun, dimana Galih dengan sibuknya berjalan dan tak mempedulikan Ainun yang sudah sampai pada depan pintu.


Menarik napas, mengeluarkan secara perlahan. Ainun berlari ingin bersejajar dengan Galih. Akan tetapi saat mendekat, Anna datang dan memeluk erat sang suami. Membuat Ainun memegang dada merasakan sesak yang termata perih menusuk hati.

__ADS_1


Ainun yang berlari kini berjalan pelan, melihat Anna menyambut kedatanganya. Tak terlihat wajah dendam atau kesal, Anna terlihat lireks dan tenang.


"Kenapa, Anna tidak marah, padahal tadi malam kan aku sudah membuat dia kesal dan kecewa tapi sekarang malah sebahagia itu. " Gerutu hati Ainun, saat kedua mata mereka beradu saling menatap kebencian.


"Wah, aku senang sekali jika ada teman di rumah ini. " Ucap Anna dengan senyum ramahnya.


Ainun hanya tersenyum kecil, seakan tak sadar diri dengan kebaikan Anna yang memperbolehkan dirinya tinggal di rumah Galih.


Anna menyediakan hidangan untuk Ainun yang pulang dari rumah sakit, membuatkan makanan kesukaanya.


Ainun mengira jika Galih yang menyuruh sang istri melakukan semua ini. Hingga dimana. Ia berkata. " Pasti Galih menyuruh kamu, membuat makanan kesukaanku kan. "


Galih mengereyitkan dahi, setelah apa yang terlontat dari mulu Ainun, sedangkan Anna hanya tersenyum kecil, dan bertanya pada sang suami. " sayang. Apa kamu tahu makanan kesukaan Ainun? "


Terlihat Ainun menatap ke arah Galih, tak sabar ingin mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Galih, " mm. Tidak sayang, aku tidak tahu makanan Ainun apa. Sudah lupa. "


Anna memanggil pelayannya dengan bertanya, " siapa yang membuat hidangan kesukaan Mbak Ainun?"


Salah satu pelayang mengancungkan tanganya dihadapan Anna dan menjawab. " saya. Nyonya. "


"Tuh, Mbak Ainun. Dengarkan, mbak itu sakit harus di obati bukan minta di perhatiin sama suami orang. " Dengan lantangnya Anna berkata seperti itu.


Ainun seakan tak terima dengan perkataan Anna, hingga dia mengadu pada Galih. " Galih, kamu lihatkan, istri kamu malah membuat aku stress. "


"Lah emang kamu stress bukan. " Ucap Galih, beranjak berdiri dan pergi dari hadapan Ainun dan Anna.


"Kalian ngobrol saja, saya cape ingin mandi dan istrirahat. " Teriak Galih, membuat Ainun menohok.


Anna berbisik pada hatinya," untung aku merekam percakapanku dengan Ainun dan langsung mengirimkannya pada Mas Galih. Jadikan Mas Galih bisa lebih waspada dengan mantan istrinya itu. Siapa suruh datang disaat orang lain bahagia. "


"Anna jangan berani kamu, sama aku yang butuh belas kasihan. Aku anak yatim piatu tahu tidak, " ucap Ainun dengan sedikit bernada tinggi.


Tapi Anna membalas dengan santainya. " Lah, memangnya kamu saja yang yatim piatu, toh aku juga yatim piatu. Tidak bergantung dengan orang lain, bisa sukses, bisa membiayai ketiga anak anakku. Aku ingatkan kamu, jadi wanita itu jangan terlalu bergantung dengan rasa kasihan orang lain, kamu itu masih sempurna, masih bisa sembuh, jadi tolong jangan jadi biduk pada rumah tangga yang baru aku jalani dengan suamiku Mas Galih. "

__ADS_1


Ainun mengepal ujung bajunya, mengigit sedikit bibir bawah menahan rasa malu karena ucapan Anna yang sedikit membuat harga dirinya terinjak.


__ADS_2