Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 247


__ADS_3

Intan berharap jika tidak ada polisi yang mengejarnya, karena setiap langkah ia pergi. Polisi pasti akan menemukannya.


"Aku harus berhati-hati."


Tukang ojeng itu memulai percakapan, dimana ia memberitahu bahwa di rumah Nita tengah di selidiki oleh polisi.


"Neng, tahu tidak. Rumah sahabat neng si Nita ada banyak polisi, dari kemarin. Polisi lagi cari keberadaan rumah Neng Nita dan baru ketemu sekarang," ucap tukang ojeng.


Untung saja tukang ojeng itu tidak tahu jika polisi kini sedang mengincarnya, dan beruntung sekali, hanya dua hari Intan ada di rumah Nita. Setelah Intan mengetahui niat busuk Nita.


"Kayanya si Nita sudah bikin ulah ya," ucap tukang ojeg itu, Intan hanya diam saja, berpura pura tak mau ikut campur masalah yang dihadapi Nita.


Padahal, ia sudah menyusun rencana, dari awal. Dan berhati hati, sampai kasus itu akan mengarah pada Nita, wanita yang menjadi tersangka. Perjual belian anak.


Nita sudah membuat sebuah barang bukti, dengan harapan polisi mempercayai bukti itu, yang Intan pikirkan sekarang ia harus lari dan menjauh pergi, tanpa polisi tahu.


Uang yang Intan bawa, cukup lumayan besar. Jadi ia bisa pergi jauh, "Mau ke mana neng?"


"Aku mau naik bus, bang! Antarin aku ke terminal ya!"


"Baik, neng."


Hanya menempuh jarak du puluh menit saja, Intan bisa langsung naik bus. Pas bus itu melaju pergi, walau mungkin ada rasa ketakutan dan juga was-was jika saat nanti ada polisi mengecek bus yang di tumpangi Intan.


Wanita bermata bulat itu memeluk erat koper berwarna hitam berisi uang.


"Aku harus menjaga barang berharga aku ini.".


Sebenarnya Intan tak tahu tujuannya mau ke mana, karena ia tak punya saudara ataupun teman lagi selain Nita.

__ADS_1


Sekarang ia harus berhati-hati, karena pastinya polisi akan mengincar dia ke mana-mana.


*********


Para ibu ibu, begitu ramai. Saling berbisik tentang rumah Nita akan kedatangan polisi. Apalagi dengan Bu Suci, selalu heboh. Jika ada berita tentang Nita.


Wanita tua yang menjadi saudara almarhum ibu Nita, selalu suka dan senang melihat Nita susah, entah ada kebencian apa dalam diri Bu Suci sampai ia tega membuat Nita menderita.


"Bu Suci, lihat deh. Keponakan Bu Suci berulah lagi, sekarang urusannya sama polisi loh, " ucap Bu Ita, menunjuk ke arah rumah Nita.


Bu Suci tersenyum kecil melihat pemandangan yang ia lihat di depan matanya, polisi tengah berjaga dan mencari keberadaan Nita. Ia melipatkan kedua tangan, semakin senang di saat melihat keponakannya menderita.


"Ada masalah apa ya si Nita itu, apa jangan-jangan karena sahabatnya itu?" pertanyaan mulai menyelimuti hati Bu suci, ia penasaran kenapa polisi datang ke rumah keponakannya.


Dengan memberanikan diri Bu Suci mendekat ke arah polisi," Ada apa ya, pak?"


Pak Polisi mulai menerangkan maksud kedatangan mereka," kami datang ke sini untuk mencari saudara Intan, Kebetulan saudara Intan menculik seorang anak berumur 3 tahun, bernama Lulu.


"Apa ibu tahu saudara Intan?" balas polisi, menjadi sebuah kesempatan untuk Bu Suci memfitnah Nita membuat keponakannya masuk ke dalam penjara.


"Wah, wah, kesempatan bagus nih," gumam hati Bu Suci.


"Oh iya, saya tahu dia. Intan itu adalah sahabat Nita!" jawab Bu Suci bersiap membuat laporan palsu.


"Sahabat? Dari mana ibu tahu?" tanya polisi kembali.


"Jelas saya tahu, Nita itu keponakan saya, dia ngomong sendiri kalau si Intan sahabatnya. Saya kira anak kecil yang dibawa itu adiknya si Intan, eh tahunya anak orang ya Pak!" balas Bu suci, berusaha membuat Nita benar-benar bersalah dihadapan polisi.


"Apa bapak tahu dia ada dimana?" tanya Pak Polisi, membuat senyuman licik diperlihatkan oleh Bu suci.

__ADS_1


"Saya tadi melihat si Nita sama si Intan itu pergi ke rumah Nyonya Marimar, dengar dengar katanya mau memberikan anak kecil itu pada orang kaya, yang memang Nyonya Marimar itu tidak punya anak!" jawab Bu Suci, membuat sebuah fitnahan yang sungguh keji.


"Apa bisa anda menunjukkan rumah Nyonya Marimar?" tanya Pak Polisi, dengan Senang Hatinya Bu Suci akan mengantarkan para polisi menuju ke rumah Nyonya Marimar.


"Tentu bisa pak!" jawab Bu Suci, dimana para polisi menyuruh wanita tua itu untuk masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Bu Nira, nampak curiga pada Bu Suci yang tengah mengobrol dengan para polisi. Bu Nira takut jika Bu Suci membuat sebuah fitnahan baru untuk Nita.


"Wah, itu Bu Suci Kenapa naik ke dalam mobil polisi ya?" para ibu-ibu saling membicarakan Bu suci yang masuk ke dalam mobil.


" Sepertinya si Nita itu membuat masalah deh, sampai Bu Suci disuruh masuk ke dalam mobil untuk menjelaskan semuanya!" jawab Bu Meri, yang asal menebak tanpa tahu yang sebenarnya.


"Bisa jadi sih. Kalian tahu sendiri kan si Nita itu anak dari kedua orang tuanya yang tukang tipu," timpal Bu Sumyati tak kalah heboh menceritakan kejelekan orang lain.


Bu Nira mendengar perkataan para ibu-ibu, merasa tak nyaman. Ia bergegas untuk pulang ke rumah, berencana menelepon Saiful. Karena bisa saja Saiful nanti akan terlibat gara-gara fitnahan Bu suci.


Perasaan tak tenang terus menyelimuti hati Bu Nira, yang menyesal telah mengizinkan Nita dan juga Saiful pergi ke rumah Marimar.


"Aduh, gimana ini ya, kok perasaanku cemas seperti ini."


Beberapan kali, menelepon Saiful tetap saja, ada jawaban sama sekali.


"Kenapa sih nak, kamu nggak mengangkat panggilan dari ibu, kami Ini sedang apa sih," ucap Bu Nira, bolak-balik ke sana kemari mengkhawatirkan anaknya yang belum juga pulang.


Bu Suci kini berangkat pergi bersama polisi, menuju ke rumah Marimar, Bu Suci berharap ada sebuah kejadian yang membuat Nita masuk ke dalam penjara.


"Kamu lihat saja, aku tidak akan membiarkan anakmu bahagia Siti, akan kubuat semua keturunanmu menderita," gumam hati Bu Suci duduk tenang menatap ke arah kaca mobil, Iya begitu senang bahwa dunia sekarang berpihak padanya.


Setelah penderitaan di masa lalu terbalaskan oleh dirinya," inilah balasan dariku. Setelah suamiku mati, kamu tahu sendiri betapa menderitanya aku hidup sendirian, karena dari kematian suamiku, penghianatan itu baru terungkap."

__ADS_1


Mengepalkan kedua tangan. Merasakan betapa tenangnya dan tentramnya hidup Bu Suci. Walau ada rasa perih di hati yang sebenarnya belum terobati.


"Nita, kamu lihat saja, setelah ini kamu tidak akan bisa memiliki Saiful. Tak akan ada yang peduli padamu lagi," gumam hati Bu Suci.


__ADS_2