
" kalau kedua orang tua Lulu datang ke sini, sepertinya Lulu ingin ikut Kak Nita saja, karena Lulu tidak mau diabaikan oleh kedua orang tua Lulu sendiri. Lulu ingin diberi kasih sayang seperti Kak Nita yang kini memperhatikan Lulu," ucap Lulu dengan kepolosannya, rasa ingin memiliki anak itu membuat Nita, tak bisa mengontrol diri.
"Bagaimanapun yang berhak atas Lulu itu kedua orang tua Lulu, jadi seharusnya Lulu itu nurut sama kedua orang tua, "balas Nita berusaha menasehati anak kecil berumur tiga tahun itu, iya berusaha menghilangkan keinginan dan juga rasa egois pada hatinya.
"Tapi kan, Lulu pengen deket sama Kak Nita, nggak mau sama ayah dan Ibu, mereka lebih sayang adik dalam kandungan mama, daripada Lulu," balas Lulu memperlihatkan wajah sedihnya, hati kini di rendungi semua kekesalan, karena Anna yang tengah mengandung anak dari Galih. Membuat Lulu mengungkapkan ketidak inginannya mempunyai seorang adik, karena rasa takut akan tak diberi perhatian lagi.
Nita mengusap pelan rambut anak berumur 3 tahun itu dengan begitu lembut," jadi ibu kamu sekarang tengah mengandung lagi?"
"Iya makanya Lulu mau diajak Kak Intan pergi, Lulu .Capek diabaikan terus oleh Mama dan juga ayah mereka lebih mementingkan adik Lulu yang masih dalam perut itu," gerutu Lulu meluapkan emosinya, kedua matanya berkaca kaca.
Nita tak bisa menasehati Lulu yang tengah marah, karena percuma menasehati orang yang sedang marah itu tidak akan membuahkan hasil untuk ia sadar, yang ada mereka akan terus melawan dan tak menerima semua nasehat yang terlontar dari mulut sang penasehat.
Lulu ternyata menghabiskan makanan yang sengaja dibuat begitu banyak oleh Nita.
"Habis kak."
"Wah, kamu Pintar juga bisa menghabiskan makanan, " ucap Nita semakin sayang terhadap Lulu, hatinya merasa tak ingin kehilangan.
Lulu tersenyum kecil mendengar perkataan Nita, "habisnya makanan Kak Nita enak sih, jadinya Lulu habisin. "
Nita mulai menyodorkan air minum kepada Lulu. "Ya udah, sekarang kamu minum air ini ya, setelah ini kakak Nita mau beres-beres dulu. "
Lulu meminum air putih dalam gelas hingga tak tersisa lagi. ..
__ADS_1
Sedangkan Intan di dalam kamar tengah menahan rasa lapar dalam perutnya, ia berusaha menghemat uang agar dirinya bisa pergi ke rumah Marimar untuk segera menjual Lulu pada wanita itu.
"Sial. Kenapa sih si Nita itu jadi nyebelin, biasanya dia itu baik dan juga mau membuatkan aku makanan, tapi sekarang dia malah memperhatikan anak sialan itu." Berkacak pinggang, bulak balik ke sana ke mari.
Intan yang kesal dan tak bisa menahan rasa lapar dalam perutnya, kini membuka pintu kamar untuk segera mencari makanan, ia berusaha tak memperdulikan Nita dan juga Lulu yang masih berada di meja makan.
Lulu menatap ke arah Nita dengan berkata, " kak Nita, itu Kak Intan. Sepertinya dia mau pergi. "
Nita berusaha tak memperdulikan sahabatnya, ia menyuruh agar tidak terlalu peduli dengan wanita yang jahat seperti Nita, "sudah kamu jangan pedulikannya, kak Intan itu sudah besar, bisa berpikir sendiri tanpa harus mengandalkan orang lain."
Mendengar hal seperti itu, kini Lulu beranjak pergi, iya segera duduk di atas sofa melihat televisi.
Nita dengan cekatan mulai membersihkan piring kotor dan juga menyapu begitu pun mengepel rumahnya, agar terlihat bersih.
Tak ada keluhan, rasa lelah ataupun letih mengurus rumah dan juga pekerjaan , Nita sampai sekarang pun belum juga mendapatkan seorang lelaki. Ia sibuk dengan kesendiriannya, apalagi di umurnya yang haruskan menikah.
Nita juga mempunyai paras yang cantik, iya ramah dan juga penyayang. Setiap kali, seorang lelaki datang untuk mendekati Nita. Para ibu-ibu di kampung dengan hebohnya, menjelek-jelekkan Nita. Agar lelaki itu tidak mau mendekati Nita.
Terkadang Nita juga sering mendengar ocehan dan juga hinaan dari ibu-ibu di kampung, akan Nita yang belum menikah nikah juga, mereka tak menyadari kenapa nih tak menikah karena ulah mereka sendiri.
Ibu-ibu di kampung itu seakan tak suka melihat orang bahagia, mereka senang membuat orang susah, jika adapun yang senang. Mereka pastinya akan mengolok-olok dan membuat orang itu dibenci oleh satu kampung.
Intan dengan perutnya yang keroncongan, mencari sebuah makanan di kampung itu. Ia merasa tak berdaya tubuhnya begitu lemas, ingin segera menyuapkan nasi ke mulut untuk bisa meredakan rasa lapar di perut.
__ADS_1
"Sepi ya."
Karena perkampungan membuat ia begitu tak betah tinggal di lingkungan rumah Nita.
"Beli apa coba jam segini, hah."
Intan melihat kembali para ibu-ibu yang telah berkumpul, ia tak mengerti dengan orang-orang di kampung yang senang bergosip. Tak memandang waktu sampai malam pun mereka tetap menongkrong.
"Ish, ada ibu ibu rese lagi."
Intan berusaha mengabaikan para ibu-ibu itu, dia melihat di pinggir jalanan ada tukang bakso. Tercium aroma tukang bakso itu membuat, Intan tak sabar ingin melahapnya.
"Akhirnya ada tukang baso juga."
Ibu ibu tengah bergosip, bercanda ria itu menatap ke arah Intan yang melewati mereka. Terlihat sekali mereka tak suka dengan Intan," heh anak baru, kalau lewat kita-kita itu bilang punten kek, permisi kek, jangan asal lewat saja. Dasar anak muda zaman sekarang tak punya etika."
Intan kita mempedulikan kata-kata ibu itu, iya tetap berjalan. Sudah malas bersikap ramah, karena melihat ibu-ibu itu tidak bersahabat.
"Heh, tak sopan sekali kamu."
Intan kesal, ia kini melipatkan kedua tangannya menatap ke arah para ibu-ibu yang sudah membuat dirinya murka.
"Aduh, ibu-ibu yang bijak dan juga budiman, sebelum berbicara itu dipikir dulu ya, jangan sok paling benar, seharusnya jadi orang tua itu mencontohkan yang baik untuk anak muda." ucap Intan, berusaha membuat mereka malu, tapi karena dasarnya mereka tidak mau kalah.
__ADS_1
Para ibu-ibu itu membalas perkataan Intan yang membuat diri mereka, terlihat malu," jangan sok tahu ya kamu, anak muda zaman sekarang memang seperti kamu tidak punya kesopanan juga etika. Kenapa kamu malam menyalahkan para ibu-ibu di sini. "
" Mohon maaf ya sebelumnya ibu-ibu, saya kan sudah bilang kalau bicara itu dipikir dulu, pertama kali saya datang ke kampung ini dan juga bertanya pada ibu-ibu, apa respon ibu-ibu saat itu, jutek wajah tidak menyenangkan dan seperti tidak mau menjawab pertanyaan saya. Makanya saya malas untuk bersikap sopan kalau ibu-ibu di sini menganggap jutek dan tidak bersahabat. Saya kasih tahu sama anda anda di sini kalau ingin di hargai, bersikap baiklah pada orang. Bayy, " ucap Intan berlari cepat melewati para ibu ibu.