
Bu Sari mulai menyuruh sang suami dan juga Farhan untuk masuk ke dalam rumah, karena ia akan membuatkan masakan yang sepecial di hari itu.
"Farhan, kita makan dulu yuk." Ajak Bu Sari pada cucunya. Terlihat Farhan seakan ingin menolak ajakan sang nenek.
Namun, lelaki tua yang menjadi suami Bu Sari menyuruh cucunya untuk segera masuk ke dalam rumah," ayo Farhan masuk, masa kakek baru datang kamu pergi begitu saja."
Farhan mengusap belakang lehernya, merasa tak enak hati jika ia harus pergi begitu saja. Ketika sang kakek mengajaknya untuk makan bersama.
"Farhan, mau menemani mamah di rumah sakit, jadi maaf ya. Kek."
Mendengar Farhan mengatakan jika ibunya masuk rumah sakit, membuat Sang kakek tentulah kaget.
"Mamah kamu masuk ke rumah sakit, kenapa kok bisa?" Pertanyaan sang kakek membuat Farhan menganggukkan kepala.
"Ibu habis di oprasi karena mengalami penyubatan darah di otak!" Jawaban yang membuat lelaki tua itu syok berat.
Bu Sari yang sudah masuk duluan, ternyata tengah memasak dengan sibuknya. Ia terlihat begitu cekatan dan sigap dalam menyiapkan makanan. Berbeda dengan dulu selalu santai dan banyak bergosip karena mengandalkan Anna dalam urusan dapur.
Sekarang Bu Sari merasa jika pekerjaan seorang menantu di dapur sangatlah melelahkan, apalagi dulu Bu Sari sering menghina Anna dan juga membuat Anna sering menangis.
Masa lalu itu selalu teringat pada benak Bu Sari, terkadang ia menyesal dan terkadang pula ia merasa dirinya begitu jahat.
Tapi penyesalan itu tak pernah lama pada benaknya, karena Raka yang selalu menyuruhnya untuk bisa membuat Anna menderita.
Di luar rumah sang kakek dan cucunya tengah mengobrol begitu serius.
Hingga saatnya sang kakek berkata, " bolehkah nanti kakek menjenguk mamahmu."
Farhan tersenyum senang dengan keinginan lelaki tua yang menjadi ayah Raka itu.
"Tentu saja, kek."
"Oh ya, mamah kamu sudah tahu, Farhan. Kalau kamu datang ke sini?" tanya sang kakek dengan raut wajah bahagianya di hadapan Farhan.
"Justru, mamah menyuruh Farhan datang ke sini menjenguk nenek, kata mamah kasihan nenek sendirian, takut nenek tak punya makanan! " Kepedulian Anna dan juga Farhan begitu sangat besar pada Bu Sari, mereka tak pernah memandang kejahatan orang lain.
Bagi mereka, semua tak harus dibalas dengan kejahatan lagi, yang terpenting sekarang Anna bisa menjalin silaturahmi dengan Bu Sari, tanpa ada perdebatan dan juga permusuhan.
"Kalian memang luar biasa, Farhan. Kakek begitu bangga dengan kamu." Memuji sang cucu. Membuat Farhan menjawab." Kakek lebih hebat, kalau dulu tak ada kakek, mungkin Farhan dan mamah tidan akan bisa seperti sekarang."
__ADS_1
Beberapa menit, obrolan itu terhenti. Bu Sari memanggil Farhan dan suaminya untuk segera masuk dan memakan masakan yang sudah di sediakannya.
"Bapak, Farhan. Ayo sini, makan."
Teriakan Bu Sari begitu terdengar nyaring, Farhan dan sang kakek berjalan masuk ke dalam rumah. Melihat hidangan sudah ada di depan mata, mereka duduk di teras untuk segera menikmati masakan yang dibuat oleh sang nenek.
"Ayo makan, nenek buat masakan sepecial pastinya buat kalian berdua."
Mereka bertiga pada akhinya menikmati hidangan, dengan begitu lahap. Bu Sari yang melihat pemandangan di depan matanya merasa senang, seakan ingatan tentang Anna kembali lagi terbayang di kepala.
Dimana, Bu Sari terkadang sering meremehkan masakan Anna, yang sebenarnya memang lezat.
Namun karena kebencianya, Anna yang terdengar miskin membuat ia menghina terang terangan mantan menantunya itu dulu.
"Nenek, kok malah melamun. Ayo makan nek, keburu dingin loh."
Sang nenek tersenyum ketika melihat Cucuk yang tak pernah ia anggap, memuji masakannya.
"Masakan nenek enak sekali."
"Wah makasih, Farhan."
Tangan yang sudah terlihat mengkerut itu, kini mengambil nasi dan beberapa lauk pauk.
Betapa berutungnya Bu Sari mempunyai Cucu yang begitu peduli padanya, ia senang dengan kebaikan yang diperlihatkan Farhan.
Namun ia juga tetekan dengan printah Raka, yang kadang membuat Bu Sari kesal pada Farhan.
"Oh, ya. Bu, nanti kita ke rumah sakit, jenguk Anna."
Mendengar sang suami mengatakan ingin bertemu dengan Anna, membuat Bu Sari memuncratkan air minum yang berada pada mulutnya.
Ia tersedak dan kaget, membuat Farhan berusaha membantu wanita tua yang menjadi neneknya.
"Nenek, tidak kenapa-kenapa?"
Tanya Farhan pada neneknya, dengan berusaha memukul perlahan punggungnya. Agar nasi yang tersedak bisa keluar..
Sang suami merasa heran, ia mengerutkan dahi dengan berkata," kenapa ibu kok bisa kaget gitu."
__ADS_1
Bu Sari terlihat salah tingkah dengan perkataan suaminya, ia menggaruk belakang kepalanya.
"Siapa yang kaget, ibu nggak kaget. Itu semua perasaan bapak saja."
"Mm, ya sudah makannya kalau makan itu pelan pelan, bu." Nasehat terlontar dari mulut sang suami, membuat Bu Sari menganggukan kepala.
Ada perasaan aneh, melihat Bu Sari tak melawan lagi, wanita tua itu malah menurut dengan hanya menganggukkan kepala. Melanjutkan makanan yang ia makan.
Tok .... Tok ....
Ketukan pintu terdengar nyaring, Galih ternyata datang menjemput Farhan yang dari tadi pagi berada di kontrakan neneknya.
"Farhan."
Mendengar teriakan sang ayah, membuat Farhan bangkit dari duduknya, ia melihat Galih datang membawa bingkisan buah buahan untuk Bu Sari.
"Kakek, ini Ayah Galih."
Lelaki tua dengan postur tubuhnya yang terlihat bongkok sudah mengenal Galih, semejak menangani kasus perceraian Raka dan Anna.
"Bapak, ada di sini."
"Baru saja datang."
Bu Sari mengajak Galih untuk makan bersama. Tapi Galih menolak dengan beralasan sudah selesai makan.
"Farhan, mamah dikabarkan sekarang sudah bisa pulang, ayo kita ke rumah sakit." Ucap Galih, membuat sang kakek tua itu langsung bertanya?"Anna, mau pulang. Jadi dia sudah tak di rawat lagi di rumah sakit."
"Iya, pak!"
Mendengar kabar dari Galih, membuat suami Bu Sari merasa tenang dan juga lega. karena ia selalu berharap jika mantan menantunya itu selalu sehat.
Karena baginya Anna adalah wanita baik dan juga selalu patut kepada orang tua dan mertua.
Banyak orang yang selalu membenci Anna karena hasutan yang tidak baik.
"Boleh bapak ikut melihat Anna, bapak rindu dengan dia, sudah lama Bapak tidak bertemu Anna."
Galih mempersilahkan lelaki tua yang menjadi mantan mertua istrinya itu untuk ikut serta datang ke rumah sakit, melihat keadaan Ana yang sekarang semakin membaik.
__ADS_1
Namun wajah wanita tua itu, seakan tak suka jika suaminya datang melihat keadaan Anna, Karena ia menyimpan rasa malu, karena kemarin datang dengan memarahi Anna dan juga kakaknya.
Hingga dari kejadian itu, Bu Sari tak berani menghampiri Anna.