
Kedua polisi ternyata menemukan Intan di bawah gudang tanah, yang dibuat oleh Marimar. Ia sengaja agar penculikan dilakukan tak di ketahui orang dan juga polisi.
Wajah Intan terlihat putih pucat, Marimar seperti sengaja tak memberi makan atau air kepada Intan, sampai gadis bermata bulat terus berucap.
"Lapar, aku lapar sekali."
"Semua bisa di jelaskan di kantor polisi, Nyonya Marimar."
Semua sudah jelas, Samsul melaporkan semuanya, ia kini menghadap pada Marimar.
"Samsul, kamu?"
"Maafkan saya, nyonya!"
"Mati kamu."
Samsul hanya menundukkan wajah, diantara pelayan dan juga penjaga di rumah Marimar hanya Samsul yang berani mengungkapkan kejahatan Marimar.
Mereka semua ketakutan karena ancaman Marimar.
Polisi menggiring Marimar menuju kantor polisi, pilu tak ada suami yang menemani, hanya penjara menanti.
Kedua mata wanita seksi itu berkaca-kaca, dia masuk ke dalam mobil polisi, sosok lelaki yang menemaninya benar benar tak datang.
"Mas Afdal ke mana sih. " Gerutu Marimar di dalam mobil menuju ke kantor polisi.
Baru saja Marimar dibawa ke kantor polisi bersama Samsul, Afdal datang berusaha menutupi kebahagiaannya dengan selalu memanjakan Marimar, membelikan barang mewah.
Sampai pintu gerbang, telihat banyak tanda garis polisi, tentulah membuat Afdal terkejut. Bagimana bisa Marimar selicik itu bisa tertangkap polisi, padahal cara perjual belikan anak selalu bersih tanpa meninggalkan bukti.
"Sialan, kenapa bisa si Marimar tertangkap polisi?" Gerutu hati Afdal, dimana ia diberhentikan oleh salah satu polisi.
Terpaksa Afdal harus menjawab pertanyaan polisi, dari pada harus membekam di dalam penjara.
"Anda siapa Nyonya Marimar?" tanya Pak Polisi, yang memang nama Marimar sudah tersohor akan nama Nyonya, karena kekayaannya berlimpah.
"Saya suami Nyonya Marimar, sebenarnya ini ada apa ya, pak. Kok rumah istri saya di tandai garis polisi!?" jawab Afdal, berpura pura tak tahu masalah istrinya. Padahal ia sudah berapa kali menghadapi hal seperti ini.
Polisi kini menjawab," sebaiknya anda turun, dan kita pergi ke kantor polisi untuk memberi keterangan."
__ADS_1
Tanpa rasa takut sedikit pun, Afdal kini turun dari dalam mobil, ia melihat seorang gadis dibopong oleh perawat menuju mobil ambulan.
Jidat mengkerut, merasa heran hingga ia bertanya?" siapa wanita itu dan kenapa ia di masukan kedalam ambulan?"
"Biar jelas kita, bicarakan di kantor polisi saja ya. Pak!" Jawaban polisi tetap sama, dibicarakan di kantor polisi, padahal Afdal ingin tahu sekarang, "menyebalkan." Gerutu hati Afdal.
Akhirnya mereka masuk ke dalam mobil polisi, untuk dimintai keterangan. Suara ponsel Afdal terus saja berbunyi, tanda sang istri menelpon.
Di situasi seperti ini, Afdal tak bisa mengangkat panggilan telepon dari istri dan anaknya yang kini merindukan sosok seorang ayah.
Melihat jalanan amat ramai, Afdal terus berdecak kesal pada dirinya sendiri. " Marimar, dasar wanita ceroboh."
*********
Nita terpaksa meminta izin tidak bekerja karena ia harus, menyelesaikan kasus tentang Intan, dimana Lulu kini hilang.
Menunggu pesan dan informasi dari polisi ternyata tak banyak waktu yang lama, mereka amat senang ketika mendengar kalau Intan sudah ditemukan.
"Syukurlah kalau Intan sudah di temukan, sekarang juga kita ke sana. "
Mereka bertiga langsung menaiki mobil untuk segera melihat Intan dan juga Marimar, tapi dalam pemberitahuan pesan, Intan ternyata masuk ke rumah sakit, karena kondisinya yang memilukkan.
Di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Galih bertanya kepada sang istri," Kita ke mana dulu ini?"
Mendengar hal itu, semua setuju, mereka bergegas pergi ke rumah sakit, melihat ke adaan Intan.
******
Gadis bermata bulat tengah merasakan rasa sakit, pada sekujur tubuhnya. Bagaimana tidak sakitnya, Marimar menyiksa dan juga tak memberi makan.
Lemas, kondisi seakan tak memungkinkan untuk hidup.
"Intan."
Semua berjalan menuju ke ruangan Intan, terlihat rasa panik dan kuatir, mereka ingin tahu dimana Lulu.
Setelah sampai di ruangan yang di tuju, mereka kini melihat keadaan Intan, gadis bermata bulat itu terlihat kesakitan, dengan tubuh penuh luka.
Anna menghampiri begitu pun dengan Galih, sedangkan Nita berusaha menahan tangis, sejahat apapun Intan, tetap saja Nita selalu menjadi sosok wanita yang selalu peduli padanya.
__ADS_1
Kedua mata mulai terbuka secara perlahan, Intan melihat Nita dan kedua orang yang ia benci. Ada rasa takut menyelimuti hati Intan. Tangan bergetar, hati ketakutan.
"Intan, apa kamu baik baik saja?" tanya Anna, walau bagaimana pun Anna tetap berkata lembut dan selalu ramah terhadap siapapun.
"Mm."
Intan ragu membalas ucapan Anna, ia ketakutan. Raut wajahnya gelisah.
Sedangkan Galih, seakan enggan menatap Intan sedikit pun, seperti rasa benci sudah mendarah daging, karena Ainun keritis ulahnya.
Anna mencoba mengusap pelan rambut Intan dengan lembut dan berkata," kamu tak usah takut kami di sini tak akan memerahi kamu."
Intan menitihkan air mata, mendengar tutur kata lembut Anna, Galih yang melihat tangisan itu merasa kesal, bagaimana bisa sosok seorang wanita jahat masih bisa bernapas di dunia ini.
Berdecak kesal Galih keluar dari dalam ruangan Intan, ia sudah tak bisa menahan emosi.
Intan melihat kepergian Galih, merasa semakin bersalah, karena kejahatanya sudah di luar batas.
Intan pantas mendapatkan hukuman yang setimpal, " Tuan Galih. "
Anna berusaha menenangkan Intan agar rasa bersalahnya, tak membuat kondisinya memburuk.
Karena jika kondisi gadis itu memburuk, otomatis pertanyaan akan tertunda.
"Kamu jangan hiraukan Galih, biarkan saja. Suami saya sedang kelelahan, " Anna berusaha membuat Intan fokus kepada dirinya.
Nita duduk di samping sang sahabat, ia tak tega melihat Intan lemah dan keadaanya begitu buruk.
"Intan, bagaimana kondisi kamu sekarang. Apa masih ada yang sakit?" pertanyaan Nita, membuat Intan menggelangkan kepala.
Sahabat yang telah melaporkan semuanya, tetap peduli dan menghuatirkan keadaan Intan.
Mengusap pelan rambut gadis bermata bulat itu," Kamu istirahat dulu ya, kami akan menjaga kamu di sini."
Pada akhirnya Intan mengatakan yang sejujurnya kepada anak dan juga Nita, tanpa kedua wanita itu bertanya," Maafkan saya Bu Anna, sebenarnya saya sudah menjual dulu kepada Nyonya Marimar. "
Deg ....
Pengakuan Intan tentu saja membuat hati Ana merasa sakit, perlahan mengusap dada, dua mata nampak berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kenapa kamu tega melakukan semua itu, apa salah saya, sampai kamu tega menjual anak saya Lulu. "
Intan menundukkan wajah, ada rasa sesal terlihat dari sudut kedua matanya," Maafkan saya, Bu Anna, saya sudah gelap mata, sampai tega menjual Lulu kepada Nyonya Marimar, Karena rasa takut saya masuk ke dalam penjara."