Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 115 Ucapan Bu Dela. Membuat Deni kesal.


__ADS_3

"Bu, kenapa ibu berbicara seperti itu. Siren datang ke sini peduli dengan Mas Danu, dan mempertemukan anaknya kepada Mas Danu. "


Perkataan Siren membuat Bu Dela menunjuk wajah istri Danu dengan telunjuk tangan, mengatakan kekesalan dan semua yang sudah dilakukan Siren pada keluarganya.


"Jaga ucapanmu, anak yang kamu lahirkan ini bukan darah daging Danu. Saya tahu kamu hanya merekayasa semuanya, menjebak anakku. Agar kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan dari keluarga kami."


Bu Dela tak segan-segan mengungkapkan semuanya, ia sudah tahu cara licik Siren yang mendekati Danu.


"Ibu kenapa memfitnah Siren seperti itu? " Pertanyaan mulai dilontarkan Siren, seakan dirinya terdzolimi oleh Bu Dela.


"Sudahlah, jangan jadi orang munafik, Siren. Saya sudah tahu latar belakang keluarga kamu. Saya sudah menyelidiki semuanya, saya menyesal dulu tidak mencegah dengan melaporkan kamu ke kantor polisi! " Jawab. Bu Dela, tentu saja membuat Siren hampir saja ketakutan.


"Kenapa kamu diam saja, Siren Almaira. Kamu takut dengan kantor polisi? "


Mendengar kata kata Bu Dela, membuat Siren benar benar tak bisa menjawab, ia hanya menunduk memikirkan apa yang harus ia katakan pada Bu Dela, akalnya seperti habisa karena mendengar kantor polisi.


Bayi lelaki yang baru saja berusia dua bulan itu, menangis menbuat Bu Dela mengambil dengan berkata. " Aku akan mengurus anak ini, jika memang benar ini darah daging Danu. Mencocokan tes DNA anak ini dengan Danu. "


Siren seakan tak terima, ia mengambil kembali anaknya dari tangan Bu Dela, " kembalikan anakku bu. "


"Kenapa? Bukanya kamu bilang aku neneknya, jadi bisa dong aku melakukan hal yang membuat kamu pastinya syok. Gimana? "


"Bu, ayolah jangan main main! "


Bu Dela tak segan segan menampilkan ancamanya di depan wanita yang sudah membuat rumah tangga anaknya hancur. " kamu tahukan, bisa saja aku membuat sesuatu pada anakmu ini. "


Sejahat apapun Siren, dia tak akan tega melihat bayinya di perlakukan tidak baik oleh orang lain.


"Tolong bu, jangan sakiti anakku. Dia tidak salah. "


"Kalau kamu memang tidak mau anakmu ini di sakiti, cepat jujur."

__ADS_1


Bu Dela ternyata mempunyai cara agar Siren mengaku, " ayo jawab. Kenapa aku bertanya lagi seperti ini, aku ingin mendengar kesaksian dari mulut kamu sendiri. "


Siren tak mau jika ia mengaku, rencananya akan gagal. Hidupnya akan miskin kembali, Siren sudah berusaha sejauh ini, dia tak mau sampai rencannya gagal.


Di tengah perdebatan anatara Siren dan Bu Dela.


Indah ternyata datang ke rumah sakit, dengan Deni. Dimana Indah datang, di sanalah Siren mengakui semuanya.


"Baik bu, Siren akan mengakui semuanya. Iya anak yang aku kandung bukan anak Mas Danu, melainkan dari pacarku. Terpaksa melakukan semua ini, karena aku tertarik dengan kekayaan Mas Danu, hingga aku berusaha mendekati Mas Danu, dan menjebak dia tidur bersamaku di hotel. "


Mendengar semua itu, Bu Dela menangis.


"Aku menyuruh Mas Danu menceraikan Indah, dengan memfitnah dia, bahwa dia mandul. Memberikan surat palsu dari dokter. Semakin Mas Danu terjebak dalam jeratanku, semakin aku bisa dengan leluasa mencuci otak Mas Danu. Sebenarnya ada obat yang aku berikan pada Mas Danu, agar dia menjadi sedikit linglung. "


Bu Dela semakin kesal dengan cerita Siren yang memang semua dalang dari dia sendiri. Sedangkan dibelakang Indah tampak merasa lemas, mendengar kejujuran Siren.


"Pantas saja, dokter memberitahu bahwa Danu mengalami penyakit, karena terlalu banyak mengkomsumsi obat obatan yang kamu berikan, kurang ajar kamu, Siren. "


Siren menangis, sedangkan Indah berusaha tegar. Mengambil anak Siren dari pangkuan Bu Dela. Takut jika terjadi sesuatu dengan bayi tak berdosa itu.


"Bu, aku minta maaf. "


Bu Dela berteriak setelah kata maaf terlontar dari mulut Siren, ia seakan tak terima dengan perlakuan Siren yang sudah merugikan hidup Danu dan juga kebahagian rumah tangga Danu.


"Kamu tidak pantas hidup di Dunia ini. Kamu wanita jahat. " Teriak kembali Bu Dela, membuat Siren menangis. Saat itulah Indah mulai memberikan bayi dalam pangkuanya kepada Siren.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini, bawa anakmu. Aku takut Bu Dela berbuat macam macam pada anakmu, Siren. "


Wanita berbola mata coklat dengan bibir tipisnya, kini memangku sang buah hati. Berniat untuk pergi keluar dari rumah sakit. Setelah melihat kemarahan Bu Dela yang menakutkan.


"Mau ke mana kamu?"

__ADS_1


Teriak Bu Dela, membuat Siren dengan secepat mungkin berlari membawa anaknya.


Wanita tua itu masih tertahan oleh Deni, agar tak mengejar Siren dan melukai bayi mungil yang tak berdosa itu.


"Indah, kenapa kamu biarkan dia pergi. Aku tak sudi jika dia harus terbebas tanpa merasakan penderitaan karena ulahnya. "


Indah berjalan mendekat pada wanita tua itu dengan berkata, " ibu, tenangin dulu hati dan pikiran ibu. Jangan terbawa rasa kesal dan juga emosi sesaat, kasihan bayi mungil itu tidak bersalah bu. Indah terpaksa menyuruh Siren pergi membawa anaknya, Indah takut jika ibu hilang kendali dan malah melukai bayi tak berdosa itu. "


Mendengar nasehat yang terlontar dari mulut Indah, pada akhirnya Bu Dela terlihat tenang. Sesekali ia mengatur napas, mencoba menghilangkan semua keresahan yang terasa pada dirinya.


Deni melepaskan tangan wanita tua itu, dimana Bu Dela bisa menenangkan dirinya, melupakan kekesalan pada Siren.


"Bagaimana, sudah tenang bu. Sekarang? "


Bu Dela menganggukkan kepala, dimana Indah merogoh tasnya. Mengambil air kemasalan kecil yang masih baru.


"Ini minum, bu. Biar hari ibu tenang. "


Bu Dela meminum air yang diberikan Indah sampai habis. Ia merasa lega, hatinya kini tak di rendungi amarah seperti tadi. "Bagaimana perasaannya sekarang, cukup tenang kan? "


"Iya, Indah. Terima kasih. Ibu tak tahu apa jadinya nanti jika tidak ada kamu, mungkin ibu bakal melakukan hal yang tidak baik pada bayi tak berdosa itu. "


Wanita tua yang menjadi ibunda Danu, seakan menyadari kesalahannya, iya terus-menerus berterima kasih kepada mantan menantunya.


"Ya sudah kalau ibu sudah tenang, sebaiknya Ibu istirahat saja di rumah, jangan mikirkan sesuatu lagi. Biarkan saja suster dan dokter yang menjaga keadaan Mas Danu di sini. "


"Ibu tidak tega meninggalkan Danu, Indah. kecuali kamu menjaga dia di sini. "


Deg ....


Perkataan Bu Dela sebenarnya tak pantas dikatakan di depan Indah, begitupun dengan Deni. Karena bagaimanapun Danu bukan siapa-siapa lagi bagi Indah, hanya seorang mantan, seharusnya Bu Dela bisa menjaga perasaan suami Indah yang sekarang. Bukan malah memojokkan keadaan.

__ADS_1


__ADS_2