Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 134 kenapa dengan Danu


__ADS_3

Ada rasa penasaran pada hati Indah, kenapa Bu Dela terus menelepon. Namun ada juga rasa tak enak hati melihat tatapan sinis dan tak senang dari kedua mata Deni," Ada apa dengan Bu Dela." Gumam hati Indah, wanita bermata sipit dengan hidung macungnya, tengah menuangkan makanan yang dipesan Deni.


Namun, tanpa sengaja Indah malah menumpahkan ke meja makan, membuat Deni hanya diam dan menatap ke arah makanan yang berserakan di meja.


Menarik napas, berusaha tak marah didepan istrinya yang tak fokus, melihat ponsel yang dari tadi berbunyi. " Hem." Deni mengeluarkan nada batuknya di depan Indah, memberikan kode keras. Agar mematikkan ponselnya saat itu juga.


"Maaf, akan aku rapikan."


Deni hanya diam, lelaki muda yang menjadi suami Indah, berusaha menahan rasa kesal. Yang seakan menjalar ke otak, dan mendidih mengeluarkan hawa panas begitu saja.


Ponsel terus saja berbunyi, membuat Deni tak tahan lagi. " Kenapa dengan dia? Menelepon terus menerus, bukanya kita sudah memberi penjelasan pada dia kemarin. "


Menghebuskan napas, apa yang dikatakan Deni memang benar, seharusnya Bu Dela itu mengerti dan memahami Indah dan Deni yang baru menikah, bukan malah terus menerus menganggu kenyamanan yang dirasakan pengantin baru itu.


Indah mengambil ponsel, ia ya sebenarnya ingin mengangkat panggilan telepon dari Bu Dela, akan tetapi melihat raut wajah Deni yang terlihat begitu marah. Membuat ia langsung mematikan ponsel yang baru saja ia pegang.


Hati Indah merasakan resah, gelisah, seperti sesuatu terjadi dengan mantan suaminya, memang saat kemarin Indah melihat kondisi suaminya terlihat menghuatirkan.


"Aku sudah mematikan panggilan teleponnya. "


membalas ucapan sang suami dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Kini Indah mulai duduk, untuk segera menyantap sarapannya bersama Deni.


Deni sedikit merasa lega Ketika istrinya tidak lagi mementingkan sosok wanita tua yang bernama Bu Della dan juga mantan suaminya Danu.


Indah seakan tak menikmati makanan yang sudah dipesan oleh suaminya, terasa hambar, entah karena pikirannya yang terus memikirkan Sang Mantan.


Lelaki mudah berbadan kekar itu, menatap lekas wajah sang istri yang terlihat tak berselera." Apa kamu masih memikirkan wanita tua itu dan juga mantan suamimu?"


Pertanyaan Deni membuat Indah tentu saja membuat dirinya kaget, perkataan lelaki yang menjadi suaminya begitu benar. wanita bermata sipit dengan hidungnya yang mancung memang tengah memikirkan mantan suaminya.

__ADS_1


Indah ingin sekali menemuinya sekarang melihat keadaan sang mantan." Si-apa? Aku sudah melupakan mereka."


Terlihat sekali Indah menampilkan raut wajah kebohongan di depan suaminya, kebohongan yang sudah jelas terlihat oleh kedua mata Deni," asal kamu tahu aku tidak suka mempunyai istri yang suka berbicara bohong, apalagi sampai pintar menyimpan kesedihan."


Lelaki muda berumur 20 tahunan itu tidak menghabiskan makanannya, dia beranjak berdiri menjauh dari meja makan. Sedangkan Indah masih dengan makanan yang Iya tak sentuh sedikitpun. Padahal tadi pagi sekali Indah merasakan rasa lapar yang tak tertahankan, tapi setelah makanan itu datang, rasa lapar dalam perut Indah seketika hilang, sudah tak berserela lagi.


Indah mengira jika Deni pergi tidak menyelesaikan makanannya, karena kesal dan marah melihat raut wajah kegelisahan yang ia tampilkan di depan suaminya.


Namun ternyata, Deni memberikan kunci mobil untuk di pakai Indah menuju rumah sakit.


"Pakai ini, jika kamu kuatir dengan mantan mertua dan juga mantan suamimu."


Menyodorkan kunci mobil kepada sang istri, tapi Indah tetap saja diam, ya seakan enggan menerima kunci yang akan dipinjamkan oleh suaminya kepada dirinya.


Deni mulai duduk menatap raut wajah sang istri yang tak mau menerima kunci mobil yang ia sodorkan. " Kenapa?"


"Aku tidak mau menemui mereka!" Deni melipatkan kedua tangannya setelah mendengar perkataan sang istri," Sudahlah jangan menolak seperti itu, aku tahu sekali kamu ingin menemui mantan mertuamu dan juga mantan suamimu itu!"


Jawaban yang begitu simple terdengar pada kedua telinga Deni. " Mm, sudahlah aku tahu hati kamu ini mengajak ragamu ingin bertemu dengan mereka kan."


Wajah Deni semakin mendekat di hadapan sang istri, membuat Indah sedikit risih karena wajah yang terlalu dekat dan pertanyaan yang begitu menekan dirinya untuk berkata jujur.


"Ya sudah, kalau memang tak mau."


Deni Mulai mengambil lagi kunci mobil yang ia sodorkan kepada istrinya, beranjak berdiri hingga di mana ponsel pada saku celananya berbunyi.


Lelaki berbadan kekar itu langsung mengambil ponselnya yang berbunyi dan melihat siapa yang menelepon dirinya di pagi hari.


Sudah Deni duga, yang menelpon itu adalah Bu Della. Wanita tua itu Sampai berani menelpon Deni, dan entah dari mana ia bisa mendapatkan nomor telepon Deni.

__ADS_1


Indah yang tengah melamun menatap ke arah makanan yang belum ia sentuh sedikitpun, membuat Deni langsung menunjukkan layar ponselnya dihadapan Indah.


"Bu Dela."


Lamunan Indah membuyar, saat suara wanita tua terdengar dari sambungan telepon yang disengaja diperbesar.


Deni bisa menangani setiap masalah dengan cara dewasa, tidak selalu mengandalkan emosi, bagi dirinya. Emosi malah akan membuat keganduhan dan tak akan menyelesaikan masalah, ia belajar dari Anna , dimana sifat kekanan kanankannya dalam balas dendam sudah merugikan hidupnya. Malah menghancurkan hidup seorang wanita bernama Anna yang tak salah.


Kedua mata Indah berkaca-kaca, memang sulit melepaskan seseorang dalam hidup kita, walau bibir sudah berkata tidak dan menolak. Tapi tidak dengan hati, merasakan harapan dan rasa ingin kembali.


"Kenapa diam saja, ayo jawab."


Indah perlahan menyekah air matanya dengan perlahan, dimana air mata yang tadinya mengendang. Terjatuh ke dasar pipi, " kamu mengizinkanku Deni, mengangkat panggilan telepon dari Bu Dela."


Deni tersenyum kecil, menganggukkan kepala dan berkata," aku mengizinkan kamu Indah, kapan aku melarang kamu. Ayo bicaralah. "


Suara Bu Dela terdengar memanggil nama Deni terus menerus, membuat Indah mengambil ponsel suaminya dan kini menjawab ucapan mantan mertuanya itu.


"Halo, bu."


Bertapa senangnya Bu Dela mendengar suara Indah, dalam tangis yang tiada henti. Bu Dela mulai mengatakan sesuatu yang terjadi pada Danu.


"Halo, Indah, bisa tidak kamu datang ke sini, ini darurat. Ibu tak tahu harus bagaimana lagi, sekarang ibu sangat membutuhkan kamu. "


Indah tak berani menjawab, ia malah melirik ke arah wajah suaminya, meminta Izin dengan kedua mata yang memberi isarat.


Deni langsung mengerti ia menganggukan kepala dengan mengizinkan sang istri pergi ke rumah sakit.


"Iya, bu. Indah sekarang datang ke sana, ibu jangan kuatir."

__ADS_1


Panggilan teleponpun dimatikan sebelah pihak, dimana Deni menyodorkan kunci mobil, dan sang istri langsung mengambilnya.


Senyuman terlukis kembali pada raut wajah Indah dengan mencium pipi sang suami.


__ADS_2