
"Wah, berhasil. Rekaman sudah jelas terekam tinggal saya berikan pada polisi, dan bisa saja Lulu ditemukan saat ini juga," ucap Nita. Memperlihatkan ponselnya di depan Marimar, membuat wanita itu tak menduga, jika ternyata pikiran akan jebakan, sudah membuat dirinya terpancing saat itu juga. " Mana mungkin ini terjadi, jangan berani benarninya kamu, cepat singkirkan rekaman itu."
"Maaf Nyonya Marimar Anda tidak bisa memerintah saya seenak jidat ya kebetulan sekali rekaman ini, sangatla berharga untuk saya. Dah."
balas Nita, melambaikan tangan berpamitan pada Marimar.
Bu Ita melihat pemandangan itu sangatlah takjub tak menyangka sekali, bisa menaklukan Marimar hanya sekejap mata, agar dia berkata jujur.
Marimar mengacak rambut kasarnya, kesal dan benci pada dirinya yang tak bisa mengontrol diri.
"Kenapa bisa aku sebodoh ini. Ahkkkk."
Dalam rasa kesal itu, ada sosok wanita berpakaian rapi dan bajunya yang menutupi tubuh dengan sempurna, hanya tangan dan kaki sedikit terlihat, kerdung berwarna putih membuat wajah Cika terpancar bersih.
"Kamu, bukanya kamu selingkuhan suamiku."
Cika terlihat kesal, saat dikatain oleh istri pertaman suaminya," Aku bukan selingkuhan, aku istri sahnya. Aku kesini datang untuk memberikan ini pada kamu."
Marimar meraih lembar surat putih yang dimana itu adalah surat cerai untuk dirinya dan suaminya.
"Maksud kamu apa ini?"
"Kamu sudah di cerai, kamu lihat itu!"
Betapa menyakitkan hati Marimar, suami yang ia cinta sudah menceraikannya.
"Jadi dia sah suamiku seutuhnya. Aku sudah membebaskan dia."
Deg ....
Marimar tak menyangka jika perkataan Cika membuat hidupnya hancur seketika. " Cepat tanda tangani surat itu."
Marimar langsung menyobekan lembaran surat itu di hadapan wanita yang menjadi istri kedua suaminya, ia membuang pada wajah Cika lembaran surat yang sudah terpotong-potong oleh dirinya.
"Pergi dari sini cepat."
Cika memungut lembaran surat itu dan pergi dari hadapan Marimar, ia mulai pulang.
Marimar hanya bisa menjerit menahan rasa sakit dalam hati dan pikirannya, Kenapa bisa semua terjadi pada dirinya, semua sudah tidak ada guna untuk Marimar.
Wanita itu berjalan mencari sesuatu benda untuk menyakiti dirinya. Dan pada akhirnya ada besi panjang yang akan membuat hidupnya lari dari setiap masalah, kini Marimar sudah memutuskan dirinya untuk bunuh diri.
Namun, aksi itu terlihat oleh para polisi, dengan sigap para polisi langsung menahan Marimar.
" Lepaskan, apa yang kalian mau lakukan."
Ternyata polisi langsung memborgor Marimar. Di mana mereka membawa Marimar ke rumah sakit, karena terlihat tanda-tanda ketidakwarasan Marimar.
"Lepaskan aku."
Teriakan dan berontakan Marimar, membuat para polisi berusaha menahan wanita itu, mereka dengan Sigap membawa Marimar ke rumah sakit.
__ADS_1
"Kalian, akan mati."
*******
Bu Ita kini pulang dengan Nita menaiki mobil Saiful, terlihat sekali Bu Ita tanpak bahagia. Ia merasakan kenyamanan dan juga kebebasan.
"Bagaimana rasanya Bu Ita, setelah bebas dari dalam penjara?" tanya Saiful, membuat Bu Ita kini tersenyum lebar dan menjawab." tentunya senang dan tenang."
"Syukurlah kalau begitu."
Nita mulai menghubungi Anna, memberitahu alamat keberadaan Lulu sekarang.
"Nomor Bu Anna tak aktip ya. Kenapa?"
Ita merasa kuatir akan keadaan Anna, karena sudah tiga hari ini tidak ada kabar sekali.
"Coba nanti siang kamu hubungi dia lagi."
"Ya sudah, biar sekarang kita urus saja bukti tentang orang tua angkat Lulu, agar nanti saat Bu Anna datang ia tinggal memberikan surat laporan ini."
"Ide yang bagus, kamu memang pintar Nita."
"Kamu terlalu memujiku berlebihan sudah ah."
Tawa kebahagian terpancar dari raut wajah keduanya. Tampak tenang dan bahagia sekali, tak ada beban sama sekali.
Setelah sampai di kampung para ibu ibu ternyata berkumpul, mereka menunggu kedatangan Nita yang akan membawa Bu Ita.
Mobil berhenti, saat itulah turun sosok wanita, mereka tanpak terkejut, " Bu Ita."
Para ibu ibu, saling berteriak kegirangan senang melihat Bu Ita bebas dari dalam penjara.
Nita yang melihat pemandangan itu ikut merasakan kebahagian," apa sudah selesai?"
Menganggukkan kepala," sudah."
"Syukurlah."
********
Anna, bangkit dari tempat duduknya, ia meraih ponsel, dimana ponsel itu ternyata tak menyala. " Tumben amat ini ponsel mati, biasanya tidak mati. "
Anna menyalakan ponsel, dan ia melihat ada pesan dari Nita.
(Bu Anna, saya sudah menemukan alamat keberadaan Lulu.)
Mendengar hal itu, siapa yang tak bahagia, semua orang pasti akan bahagia, " Lulu. "
Anna langsung menghubungi Nita.
"Halo, Bu Anna."
__ADS_1
"Haloo, Nita, apa benar kamu sudah menemukan Lulu?"
"Iya bu, hanya saja Lulu di bawa ke amerika, dan ini alamatnya. Saya kirimkan pada pesan ya bu, dan saya sudah membuat bukti bukti yang bersalah, tinggal ibu menyerahkan ke kantor polisi di sana Dalang semua ini tetap Marimar. Selama ini dia menipu kita dengan alamat palsu."
"Pantas saja, ya sudah saya akan ke sana. Untuk mengambil bukti itu. "
"Baik Bu."
Anna tersenyum senang, siapa yang tak menduga jika Lulu pada akhirnya bisa ditemukan. Berteriak memanggil suaminya.
Galih terburu buru datang dan bertanya." Ada apa?"
"Lulu, sudah di temukan. Kita harus pergi ke rumah Nita, mengambil barang bukti, agar bisa mengambil Lulu dari kedua orang tua angkatnya. "
"Ya sudah sayang aku siap siap ya."
"Iya."
Radit berada di balik pintu melihat sang ibunda tersenyum kegirangan, ia penasaran.
Anna menyadari jika anaknya ada di balik pintu, ia memanggil Radit," Radit sini. "
Namun Radit malah membalikkan badan pergi dari hadapan Anna, " Radit. "
Anna menarik napas, masih memaklumi kemarahan anak keduanya itu. "Radit."
Tetap saja, Radit sudah benar-benar tidak peduli dengan teriakan Anna, " Mm, Radit. Radit. "
Saat itulah Anna, hanya bisa pasrah dengan perlakuan anak keduanya, sekarang dia bergegas untuk berangkat menuju kampung halaman Nita, karena sudah tak sabar ingin segera pergi ke alamat keberadaan Lulu sekarang.
Semua sudah siap, Ana pergi bersama Galih.
Perjalanan menuju ke rumah Nita cukup lumayan jauh, mereka menempuh perjalanan dua jam.
" mudah-mudahan ini alamat yang terakhir untuk kita bisa menemukan Lulu, karena alamat ini sangat jauh sekali kita harus menaiki pesawat untuk mencari alamat ini."
"Mudah mudahan saja. Aku berharap seperti itu."
Sampailah di tempat Nita, Anna bergegas turun dari mobil untuk segera menghampiri Nita, di mana Nita ternyata sudah menunggunya di luar rumah.
Ia membawa berkas putih yang sudah ia susun sebagai bukti untuk melaporkan ke polisi di sana, "Nita."
"Bu Anna."
Senyum tergambar dari raut wajah Nita, Iya tak butuh waktu yang lama langsung saja memberikan lembaran kertas putih itu.
" Saya berharap Bu Ana langsung menemukan Lulu, Karena saya takut jika Lulu dijual kembali oleh orang tua angkatnya itu."
Deg ....
"Terima kasih ya Nita."
__ADS_1