
"Intan."
Teriakan kini terdengar kembali, gadis manis bernama Intan mulai berjalan untuk memenuhi panggilan sang majikan, ia membawakan sebuah air minum dan jus yang mungkin dibutuhkan majikannya saat ini. Karena Intan tahu, jika seorang wanita berteriak malam malam pasti membutuhkan air minum dan nutrisi untuk tubuhnya, agar pagi badan sedikit terasa rileks dan segar.
Membuka pintu kamar, terlihat wanita berhijab itu melepaskan jilbab orennya. Rambutnya tetap saja tertutup oleh kain berwarna hitam, ia tak ingin satu orang pun mengetahui rambutnya. Ainun begitu mejaga auratnya dengan baik. Walau mulutnya dan juga tingkahnya terlihat buruk.
Intan yang baru saja datang, membawa nampan hitam dengan air dan jus diatasnya, bergumam dalam hati, dikala sosok majikanya begitu menjaga rambutnya agar tak terlihat.
"Sok alim, hatinya busuk."
Memperlihatkan lekuk senyuman didepan Intan, pelayan itu terlihat tak membalas, ia mendekat menaruh minum di atas meja dekat ranjang tempat tidur Ainun. Intan kesal karena dijam delapan malam Ainun masih saja berteriak memanggil namanya.
"Terima kasih, ya. Intan. "
Gadis manis berumur delapan belas tahun itu menganggukkan kepala setelah mendengar kata terima kasih dari sang majikan, hingga ia bertanya." Nyonya, kenapa pas tidur dibuka aja daleman jilbabnya, kan biar enak gitu rambut kita terurai. Disinikan tidak ada laki-laki, hanya ada saya saja. Jadi nggak usah takut lah, apalagi kita sama sama perempuan."
Tangan mulus Ainun mulai mengambil air minum di atas meja, ia perlahan meminum air hingga tersisa setengah gelas. Rasa haus karena efek obat membuat tenggorokannya terasa kering. Untuk tidurpun terasa tak nyaman bagi Ainun, apalagi ruangan yang tak terpasang ACE membuat hawa ruangan menjadi panas.
Menaruh gelas ke atas meja dengan perlahan, Ainun mulai menjawab pertanyaan Intan." Saya nyaman tidur menggunakan hijab, Intan. Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu mau coba?"
Intan yang tak suka dengan Ainun kini menjawab dengan nada sedikit tak menyenangkan, saat terdengar oleh kedua telinga Ainun." Saya nggak suka, takutnya pake hijab di kira sok alim, sok suci. Padahal kelakuanya busuk, maaf ya Nyonya, soalnya teman teman saya suka ngomong kaya gitu ke Intan!"
Ainun berusaha tersenyum menanggapi jawaban yang terlontar dari mulut Intan, seperti suatu sindiran pedas untuk dirinya, agar bisa merubah diri agar lebih baik lagi. Dan menyeimbangi semua kehupanya, Ainun menjawab." Kita sebagai wanita diwajibkan untuk memakai hijab, menutup aurat dari pandangan laki laki yang bukan mahramnya, dengan secara benar. Jika kelakuannya busuk, itu bukan karena hijab dan jangan salahkan hijabnya, salahkan orangnya dan kelakuanya juga. Itu kalau bagi saya Intan. Maaf saya juga bukan manusia suci sama sama pendosa, hanya saja saya berusaha mengurangi dosa saya dengan menutup aurat. "
Intan berusaha tersenyum lebar dengan jawaban yang terlontar dari mulut Ainun, ia tetap saja dibutakan dengan kesalahan di perbuat Ainun di masa lalu kepada Galih.
"Oh, ya. Saya permisi dulu mau tidur ya, Nyonya sudah ngantuk."
"Ya sudah, sekali lagi terima kasih."
"Ya Nyonya." Dengan berjalan terburu-buru. Intan mulai keluar dari kamar Ainun, untuk segera beristirahat merasakan rasa lelah karena seharian bekerja.
__ADS_1
Hatinya masih kesal dengan jawaban sok alim Ainun, yang dimana wanita behijab itu hanya menasehati. Tak membuat perubahan pada diri Intan.
******
Setelah kepergian Intan, Ainun melihat pada jendela yang sudah tertutup rapi. Tersadar akan rasa bersalah menerpa hati, menyesal dan kini hanya bisa menangis.
Ainun berusaha menjadi dirinya kembali, membangkitkan semangat membuang rasa dendam, ia tak mungkin membuat Galih menderita untuk yang kedua kalinya.
Niat jahat tiba tiba hilang dari benak Ainun, mendengar Anna harus di oprasi.
Kini Ainun mulai berusaha membaringkan badan untuk segera tidur, mengistirahatkan tubuh. Agar esok pikiranya tenang.
******
Rintik hutan membasahi jalanan dimalam hari, Ainun berjalan seperti ada dorongan yang kuat menyuruh kedua kakinya berjalan terus menerus, mengabaikan sekitar yang mengganggu pikirannya sekarang.
Suara burung hantu terdengar, seakan menekram jiwa dari rasa takutnya. Kenapa Ainun bisa ada di luar rumah? Padahal ia baru saja menutup kedua mata, melupakan semua masa lalu yang menganggu kehidupanya.
Ainun kaget dengan hujan yang membasahi tubuhnya, ia berlari terus menerus. Tak mempedulikan suara aneh masuk ke dalam telinganya.
Berlari terus menerus, hingga Brukkkk.
Ainun seperti menabrak sesuatu yang keras di depannya. Membuat tubuh terjatuh dan duduk diatas tanah yang sudah terguyur air hujan.
Penglihatannya hampir saja rabun, karena air hujan terus jatuh menutupi kedua matanya. Dengan sigap ia mengusap kasar wajah dengan telapak tangan, hingga melihat sosok seorang lelaki berdiri dihadapannya saat ini.
Sosok berbadan tegap, dengan bau aneh yang sulit di artikan. Wajah itu begitu putih pucat.
Ainun berusaha bangun, melihat orang yang sudah ia tabrak tak sengaja.
Kedua mata membulat, menyaksikan apa yang ia lihat," Daniel."
__ADS_1
Sosok lelaki yang dulu menjadi kekasihnya dan juga awal kehancuran masa depannya, berdiri sembari tersenyum. Memperlihatkan kesedihan yang mudah ditebak untuk Ainun.
"Kamu, masih hidup?"
Daniel menyodorkan tanganya, membuat Ainun tak sudi memegang tangan putih yang terlihat seperti mayat itu.
Daniel memposisikan tanganya kembali, berusaha mengungkapkan semua kesedihan yang ia rasakan dalam hatinya." Ainun, maafkan aku."
Kata kata yang selalu dinanti Ainun dari dulu, kini terucap, membuat wanita berhijab itu berusaha tenang dan tak merasakan rasa takut.
"Minta maaf?"
"Ya, aku minta maaf, aku sudah lelah di sini. Aku tersiksa tolong maafkan aku, Ainun! "
Ainun heran dengan perkataan Daniel, apa maksud ia tersiksa. "Apa maksud kamu?"
Daniel menitihkan air mata, seperti rasa kekecewaan dan penyesalan ia perlihatkan di depan mata Ainun. " kenapa kamu diam saja. Setelah kamu menbuat aku tersiksa. Jelaskan padaku. Jangan buat aku seperti ini."
Lelaki berbadan kekar itu mendorong tubuh Ainun, hingga tersungkur jatuh ke tanah, ia berjalan meninggalkan Ainun tanpa berucap satu patah katapun. Hingga dimana, mobil melaju dengan kecepatan tinggi, dan Brakkkkkkk .....
Ainun melihat kejadian itu menangis histeris, ia menutup telinga melihat sang pujaan hati bersimpu darah, ingin menolong tapi.
"Nyonya Ainun, bangun. Nyonya."
Terbangun dan menjerit, membuat Intan menggelengkan kepala. Keringat dingin bercucuran keluar dari tubuh Ainun, membuat ia berusaha mengelap dan membersihkannya.
"Nyonya, ini mimpi buruk ya?" Tanya Intan dengan kedua mata memerah, karena terganggu akan Ainun yang mengigau.
Intan mengambil air minum, menyodotkannya kepada sang majikan," minum dulu, Nyonya.'
Tangan bergetar, membuat Ainun berusaha meraih gelas berisi air itu, meminumnya perlahan. Hingga jendela kamar tiba tiba terbuka.
__ADS_1
Dan brukkkkk.