
"Halo, apa anda bernama Nita?"
Pertanyaan polisi kini dijawab Nita dengan sigap." Iya ini saya Nita, ada apa ya pak?"
"Maaf jika sebelumnya mengganggu, kita hanya mau memberi tahu bahwa Bu Suci dilarikan ke rumah sakit!" jawab Pak Polisi membuat Nita terkejut, padahal tadi siang ia melihat keadaan sang tante baik baik saja.
"Memangnya Kenapa dengan Bu Suci Kenapa dia bisa dilarikan ke rumah sakit, apa yang sudah terjadi dengan tante saya?" Nita bertanya seakan syok mendengar kabar yang tak menyenangkan dari kantor polisi.
"Sebelumnya anda tenang dulu, kami akan menjelakan karnologinya ketika anda ke sini!" jawab polisi, Nita sangat penasaran apa yang terjadi dengan Susanti.
Ia menatap jarum jam, menunjukkan pukul 08.00 malam, jika Nita pergi ke kantor polisi, mungkin membutuhkan waktu yang lumayan lama.
Ia memutuskan untuk bersabar, " Besok saya akan ke sana."
"Baik, pihak polisi hanya memberi tahu saja."
Panggilan telepon kini dimatikan sebelah pihak, Bu Nira mulai bertanya pada Nita siapa yang sudah menelepon, Nita menjelaskan semuanya.
Betapa terkejutnya, Nira saat itu.
"Kenapa bisa Bu Suci masuk ke dalam penjara, apa yang sudah terjadi dengan dia?"
Nita juga berpikir sama, mana mungkin Bu Suci berkelahi dengan teman sepenjaranya. Karena pengawas penjara sangatlah ketat.
"Ya sudah, jangan terlalu memikirkan hal itu, sebaiknya kamu beristirahat saja dulu," ucap Bu Nira.
Nita memang merasakan rasa lelah, karena seharian ini belum beristirahat. Bu Nira merangkul bahu calon menantunya masuk ke dalam rumah, sedangkan Saiful hanya duduk samping.
"Loh, kenapa kamu malah berdiri di sana. Ayo cepat masuk sekarang sudah malam, kamu tenang saja kok, kan ada Ibu di rumah ini."
Tetap saja Saiful, merasa tak enak pada tetangga di kampungnya. Ia langsung berpamitan saja kepada ibunya untuk menginap di rumah sang sahabat.
"Saiful pamit saja ke rumah teman."
Bu Nira tak bisa memaksa anaknya, itulah ia mengizinkan anak semata wayangnya itu untuk pergi.
Nita dengan kedua tetapan matanya yang kosong, membuat Bu Nira berusaha menyadarkan calon menantunya itu," sudah jangan terlalu melamunkan tante kamu, ibu yakin dia baik-baik saja di rumah sakit."
__ADS_1
Bu Nira menunjukkan kamar yang akan ditempati Nita, membuka pintu kamar," ini tempat kamu tidur, ibu sudah bersihkan dari tadi pagi."
Suasana di rumah Bu Nira begitu terasa sejuk, tentunya membuat Nita merasa nyaman.
Perlahan gadis itu masuk ke dalam kamar, duduk di kasur empuk.
"Gimana nyaman nggak."
Nita menganggukan kepala, ia tersenyum lebar merasakan bahwa dirinya sekarang merasa tenang. Bu Nira mulai berpamitan keluar kamar, di mana Nita mencegah calon mertuanya itu," Bu."
Bu Nira mengembalikan badan menatap ke arah Nita. " Ada apa?"
"Terima kasih!"
Setiap kali Nita pasti mengatakan kata terima kasih, iya begitu menghargai apapun kebaikan orang yang membantunya.
"Sama sama." Menutup pintu kamar Nita, Bu Nira bergegas pergi untuk beristirahat di dalam kamarnya.
******
Saiful ternyata belum juga pergi ke rumah sahabatnya, ya malah mengetuk jendela kamar calon istrinya.
"Siapa?"
Saiful mulai mengucapkan satu patah kata," ini aku."
Mendengar suara itu, Nita bergegas membuka jendela kamarnya," Aa Saeful kok ada di sini, bukannya mau ke rumah teman menginap?"
"Iya, sebenarnya Aa teh datang ke sini ada yang lupa!" jawab Saiful menampilkan senyum tak biasa.
Nita mengerutkan dahi merasa heran dengan perkataan calon suaminya itu," maksud Aa Saiful teh apa?"
"Aa, belum memandang wajah Neng, jadi takut nanti kalau Aa menginap di rumah sahabat Aa, wajahnya neng itu terbayang-bayang, Makanya sekarang Aa datang ke sini buat liatin dulu wajah Neng. Biar enggak terlalu Kangen sama Neng."
Nita tertawa pelan sembari menutup mulutnya," ada ada aja, tiga hari lagi kita kan mau menikah."
"Tetap aja, rasa rindu Aa teh menggebu-gebu, makanya Aa sudah nggak sabar pengen cepet-cepet nikah sama Neng."
__ADS_1
Menggelangkan kepala, Nita mulai menjawab perkataan calon suaminya itu," Ah aa mah kebanyakan gombal."
Suara pintu kamar Nita kini terdengar dibuka, Saiful terburu-buru bersembunyi di balik jendela kamar calon istrinya, ia tak mau jika nanti ibunya melihat keberadaannya.
Jika semua itu terjadi, mulut sang ibunda akan terus mengomel tanpa berhenti, tentunya membuat kedua kuping Saiful terasa panas.
" jangan kasih tahu bahwa Aa datang ke sini?"
Nita hanya menuruti perkataan calon suaminya itu, dia juga tak mau melihat Saiful terus dimarahi hanya karena kesalahan sepele oleh Bu Nira.
"Nita, nie lihat. Ibu bawain buah-buahan buat kamu makan di kamar ya, " ucap wanita tua itu menyimpan sebuah piring besar berisi macam-macam buah-buahan, ya tersenyum lebar mengusap pelan rambut panjang calon menantunya itu.
"Dimakan ya, " ucap sosok mertua yang begitu baik kepada Nita, benar-benar kebahagiaan untuk wanita yang sudah mengalami penderitaan selama kedua orang tuanya difitnah sebagai pencuri dan pembohong.
Nita mulai meraih apa yang begitu terlihat segar, ya langsung memakan apel itu, mengunyahnya secara perlahan, betapa manisnya buah yang dibawakan oleh ibu mertuanya.
"Ini manis sekali." Pujian terlontar dari mulut Nita.
Bu Nira tersenyum melihat Nita begitulah lahapnya mau makan buah yang ia sediakan untuk calon menantunya itu.
Ada rasa heran menyelimuti hati wanita tua itu, lihat jendela kamar Nita terbuka lebar, perlahan Bu Nira mendekat ke arah jendela yang sudah terbuka.
"Loh, Nita. Kenapa jendelanya sampai terbuka begini, nanti kamu masuk angin gimana?"
Nita tertawa kecil sembari mengusap-ngusap belakang pundaknya," oh itu tadi agak sedikit gerah. Jadi Nita buka deh jendela kamarnya."
"Oh. Ya sudah Kamu duduk aja nikmati buah-buahan yang Ibu Sediakan ya, Ibu mau cari kipas angin untuk disediakan di kamar kamu sekarang."
"Eh, iya. Bu."
Bu Nira begitu perhatian sekali kepada Nita, merasa nyaman akan perhatian dan kasih sayang yang diberikan wanita tua itu.
Bu Nira keluar dari dalam kamar, dimana Nita langsung terburu-buru memberitahu Saiful untuk segera pergi, takut jika mertuanya itu marah.
"Aa Saiful."
Mendengar ucapan Saiful, pada akhirnya ia menampakkan diri memperlihatkan raut wajah tampannya di hadapan Nita.
__ADS_1
"Ya sudah, Aa sekarang pamit dulu ya," balas Saiful menarik kedua pipi calon istrinya itu," muach."
Seketika bibir Saiful mendarat pada kening Nita, membuat Nita mendapatkan ciuman dari Saiful. Tediam kaku. Baru kali ini Nita merasakan ciuman dari sosok seorang lelaki yang sengaja mencuri tanpa meminta izin kepadanya, melakukan hal yang tidak pernah dilakukan laki-laki manapun.