Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 21 Luka Anakku


__ADS_3

"Ya, Radit. Mamah juga kangen sama kamu, nak."


Radit terus saja menangis, tubuhnya begitu lemah, entah apa yang sudah mereka perbuat pada anak kecil tak berdosa ini.


Aku merasa bersalah atas semua ini," maafkan mamah nak, mamah tidak bermaksud meninggalkan kamu waktu itu, mamah sayang sama kamu Radit."


"Radit juga sayang sama mamah."


Pelukan begitu erat, membuat aku tak henti menangis, sekarang Radit dan Lulu bersamaku.


"Ya sudah, Radit. Kita pulang ke rumah Tante Indah ya." Ajakku pada Radit, anakku kini mengganggukkan kepala, ia mulai berdiri. Dengan kaki yang terlihat kesakitan.


"Kamu bisa jalankan, nak?" Tanyaku pada Radit.


Aku kini mulai menatap pada ujung kaki anakku, dia tak memakai sendal. Terlihat sekali kakinya berdarah membuat aku syok.


"Ya ampun. Radit, kaki kamu kenapa berdarah, nak?"


Aku bertanya kepada Radit dengan rasa kuatir, melihat wajahnya yang putih pucat karena menahan rasa sakit. Membuat aku langsung menggendong tubuhnya untuk segera pulang ke rumah.


"Ayo kita pulang ke rumah, biar mamah gendong kamu, nak."


Aku menggendong Radit, tak peduli dengan berat badan anakku. yang terpenting aku segera sampai menuju rumah.


"Mamah, maafin Radit. Ya."


Entah kenapa aku sangat takut, saat Radit berkata seperti itu, hatiku benar-benar sakit. Air mata tak henti keluar menetes membasahi kedua pipiku.


" Radit, kamu ngomong apa, nak. Kenapa kamu harus minta maaf sama mama, kamu itu tidak punya salah apa-apa sama mama, mama yang harusnya minta maaf kepada kamu, karena mama yang salah. Sudah meninggalkan kamu begitu saja, mama yang harus minta maaf, nak. Semua salah mama."


Kata kata maaf, terus terulang dari mulutku kepada Radit, aku tak mengerti bagaimana Mas Raka, ibu dan juga Ajeng mengurus Radit, sampai anakku seperti tersiksa.


"Radit, kamu tahan ya, nak. Sebentar lagi kita sampai di rumah."


Radit tak bersuara lagi, apa dia tertidur. Aku langsung melangkahkan kakiku lebih cepat, agar segera sampai ke rumah.


Setelah sampai di rumah, aku kini mengetuk pintu rumah.


"Farhan, buka nak. Ini mamah."


Aku berteriak memanggil-manggil Farhan, hingga di mana anak pertamaku langsung membuka pintu rumah.


"Mamah, Radit kenapa?"


Aku langsung mendudukkan Radit di kursi,


"Entahlah Farhan, Mamah juga tidak tahu kenapa adik kamu menjadi seperti ini?"


Menyuruh Farhan untuk mengambilkan obat P3K.

__ADS_1


Tubuh Radit terlihat menggigil. membuat aku begitu panik.


Padahal aku berencana untuk segera mengobati Radit di rumah saja.


Tok .... Tok .... Tok ....


ketukan pintu kini terdengar kembali. Farhan dengan terburu-buru melihat siapa orang yang datang ke rumah?"


Aku menyuruh Farhan untuk mengintip terlebih dahulu di balik jendela rumah, siapa yang datang ke rumah?


Takut jika orang itu adalah Mas Raka, yang akan mengambil kembali Radit.


Badan Radit kini berubah suhu menjadi panas, apa ini karna luka pada kakinya. " Radit, bertahan nak. Mamah telepon dulu tantemu sebentar ya, sayang."


Saat aku menelpon Kak Indah, nomor teleponya tak aktip, membuat aku semakin panik.


"Bagaimana ini."


"Anna."


Suara seorang laki laki memanggil namaku, ternyata itu adalah Pak Galih.


Aku tak menyangka, lelaki duda itu datang ke rumah diwaktu yang tepat, di mana anakku membutuhkan pertolongan untuk dibawa ke rumah sakit.


"Pak Galih."


Aku menangis, memeluk anakku yang akan segera aku bawa ke rumah sakit.


"Iya pak."


Lelaki itu begitu cekatan, membawa anakku langsung ke dalam mobil, untuk segera di larikan ke rumah sakit.


"Semoga kamu tidak kenapa kenapa nak."


Mobil kini melaju untuk segera pergi ke rumah sakit, perasaanku benar benar tak tenang. Berharap jika Radit anakku tidak kenapa kenapa.


Setelah sampai di rumah sakit, Pak Galih. Mulai membuka pintu mobil, di mana para perawat dengan sigap membawa anakku.


Radit dilarikan ke ruangan UGD, aku yang menemaninya dari awal merasa panik dan terus menyalahkan diriku sendiri.


"Radit, maafkan mamah nak, Radit." Bulak balik ke sana ke mari dengan perasaan tak tenang. Lulu berada di pagkuan Farhan. Ia menangis mungkin merasakan kegelisahan pada mamanya ini.


Pak Galih menghampiriku, ia mengendong Lulu untuk diberikan kepadaku.


"Anna, kamu harus tenang ya. Percaya pada saya, Radit pasti baik baik saja. Kasihan anak perempuan muini, pasti dia kehausan, Ia terus menangis memanggil kamu."


Perasaan panik membuat aku lupa harus menyusui Lulu, kini kugendong anakku. Memberikan air susu untuknya.


"Terima kasih, Pak."

__ADS_1


Pak Galih, terus menenangkan rasa kekuatiranku.


Lelaki itu tersenyum ramah.


Jika terjadi apa apa dengan Radit, aku akan meminta pertanggung jawaban mereka semua, ibu dan Mas Raka begitupun dengan Ajeng.


"Awas kalian."


Dokter kini keluar dengan wajah, terlihat sedikit berbeda. Aku yang tak sabar ingin mengetahui anakku kenapa, langsung bertanya.


"Dok, bagaimana dengan anak saya?" Pertanyaan aku layangkan pada sang dokter.


"Anak ibu baik baik saja! Hanya saja?"


Wajah dokter terlihat seperti kebingungan menjawab pertanyaanku.


"Hanya saja kenapa, dok?!"


Aku bertanya dikala dokter seakan berat menjawab pertanyaanku.


"Dok, cepat jawab kenapa?" tekanku terus bertanya.


"Sepertinya anak ibu trauma akan kekerasan fisik!"


Jawaban sang dokter begitu mencengangkan, membuat aku tentulah terkejut dan bertanya kembali.


"Maksud dokter?" Dokter itu kini menatap ke arah wajahku dengan begitu serius.


"Banyak luka lebab di tubuhnya, akibat pukulan dan juga tamparan."


Seketika hatiku hancur setelah mendengar semua itu terjadi pada Radit, siapa yang berani melukai anakku?


Aku menangis sejadi jadinya, jika aku terlambat mungkin anakku mati dengan keadaan mengenaskan karna siksaan dari orang orang tak berguna seperti Mas Raka.


"Mereka benar benar gila."


Pak Galih berusaha menenangkan setiap tangisan dan sakit hati yang aku rasakan, mana bisa aku harus tenang dan bersabar.


"Anna, kamu tenangin dulu hati kamu ya. Nanti jika kakak kamu datang, kamu kasih tahu dia, biar ini kasus di bawa ke jalur hukum."


Perkataan Galih benar, aku harus membuat mereka menyesal akan perbuatan mereka terhadap anakku, dengan melaporkan kejahatan fisik terhadap Radit.


Apa mereka belum puas menyakitiku, hingga Radit jadi sasaranya, kenapa? kenapa harus Radit? Dia masih kecil, dia tak salah apa apa.


Jika memang mereka tak mau mengurus Radit, Kenapa mereka harus mencegahku membawa Radit saat itu. Di mana akal pikiran Mas Raka dan juga Ibu. Mengapa mereka begitu mementingkan keegoisan mereka, tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Kemarin wajahku? Sekarang Radit?


Mereka benar benar gila. Apa mereka tidak punya hati nurani?

__ADS_1


"Anna."


Teriakan itu terdengar, memanggil namaku, berlari dengan wajah panik dan gelisah.


__ADS_2