Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 86 Pov Autor. Meminta pertolongan.


__ADS_3

"Tolong saya. "


Bu Ayu bersuara meminta pertolongan.


Rintihan Bu Ayu meminta tolong pada orang yang mendekat ke arahnya."Bu Ayu?"


Wanita itu ialah Bu Sumyati dan Deni, mereka secara kebetulan melewat  jalanan dimana kedua orang tua Ajeng tengah terdampar di pinggir jalan. 


"kenapa kalian ada di sini?" Pertanyaan Bu Sumyati sedikit membuat Bu Ayu malu, ia ingat akan kesalahanya selama ini. 


Bu Sumyati berusaha mendekat ke arah mereka berdua, mengajak masuk ke dalam mobil, dimana ada keraguan hati untuk menaiki mobil milik Deni. 


"Ayo, biar saya antarkan kalian berdua ke rumah sakit." Wanita tua bernama Bu Sumyati dengan baiknya menawarkan tumpangan, tak peduli dengan kelakuan jahat mereka berdua. 


"Sa-ya." Ingin mengatakan kata malu, tapi bibir malah tak kuasa, membuat Bu Sumyati semakin mendekat memegang tangan Bu Ayu agar beranjak berdiri. 


Sedangkan Deni terlihat tak suka dengan apa yang dilakukan ibunya, menolong seorang musuh dalam kesulitan. 


"Bu, ngapain ibu nolongin mereka? Biarkan saja mereka berdua di pinggir jalan. Biar mereka merasakan apa yang kita rasakan dulu, saat kehilangan kak Daniel!"


Bu Sumyati mengelengkan kepala dengan perkataan anaknya yang tak sepetutnya di ucapkan. 


"Kamu ini bagaimana, Deni. Kita tolongin saja mereka berdua kasihan, kalau kita biarin mereka menderita di pinggir jalan, apa bedanya kita sama mereka berdua. "


Perkataan sang ibu tentu saja membuat Deni menurut, di balik kekesalan dan amarah sang ibu. Masih tersimpan hati malaikatnya, " Ya sudah. "


Deni dan Bu Ayu kini berusaha mengangkat Pak Aryanto yang masih tak sadarkan diri, dengan sekuat tenanga yang mereka punya. Pada akhirnya Pak Aryanto bisa dimasukan ke dalam mobil. 


Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Bu Ayu masih dengan tangisanya, ia kuatir dengan ke adaan sang suami. "Yang sabar ya Bu Ayu, mudah mudah Pak Aryanto baik biak saja. "


Wanita tua yang menjadi ibunda Ajeng kini perlahan mulai menyadari dengan apa yang sudah menimpa dirinya. Kejadian itu seperti teguran agar dirinya berubah dan menyadari kesalahan. 


"Bu Sumyati, saya sebagai istri Pak Aryanto meminta maaf sebesar besarnya kepada ibu. Atas kejadian di masa lalu yang menyangkut kesalahan suami saya. "

__ADS_1


Jiwa muda Deni kini meronta, saat kata maaf terlontar dari mulut Bu Ayu, setelah kejadian yang sudah di perbuat oleh  suaminya. 


"Enak ya. Dengan gampang dan mudahnya, Bu Ayu mengatakan kata maaf setelah apa yang sudah terjadi. kemarin kemana aja bu, diam diam saja. Sudah menderita baru menyesali. "


Terasa lega, di saat Deni mengeluarkan kekesalanya. Tapi tidak dengan Bu Sumyati. " Deni, nak. Bisa tidak kamu jaga perkataanmu."


Bu Ayu menyadari apa yang dikatakan Deni memang benar, mereka hanya menyadari di saat penderitaan dan penyesalan datang." Sudah Bu Sumyati, jangan marahi Deni, apa yang ia katakan memang benar."


"Memang perktaan yang keluar dari mulu saya benar semua, makanya bu. Jadi orang banyak banyak introfeksi diri, biar apa? Biar kita tuh sadar kalau kita itu hanya manusia biasa, jangan semena mena. Ibu sekarang kena akibatnya bukan?"


Perkataan Deni mampu mengiris hati Bu Ayu, seorang anak muda menasehatinya, sungguh memalukkan untuk seorang wanita tua yang sudah menginjak umur empat puluh delapan tahun itu. 


Kedua pipi tuntulah memerah, karna menahan rasa malu. Akibat nasehat yang tepat sasaran.


"Maafkan anak saya ya, Bu Ayu."


Deni masih menatap ke arah kaca kecil  yang berada di dalam mobilnya, dimana ibunya begitu ramah. " sudahlah, bu. Ibu itu tak salah, tak seharusnya ibu meminta maaf pada orang orang yang sudah menghancurkan kebahagian kita. Jangan telalu ramah dan baik, nanti tuh orang kalau kita kasih hati lama lama minta jantung."


Deni benar benar meluapkan kekesalanya disaat itu juga, ia tak segan segan membuat Bu Ayu tak bisa berkata kata lagi. Hanya bisa menyadari dengan apa yang sudah suami dan anaknya lakukan. 


***********


Tak terasa perjalan yang dilalu kini sudah sampai, para perawat dengan sigap membawa Pak Aryanto ke ugd. Sedangkan Bu Ayu dengan sibuknya mencari suster menanyakan kejadian kecelakaan tadi siang. 


Bu Sumyati mengerutkan dahinya, bukanya menunggu keadaan sang suami, malah menanyakan korban kecelakaan di jalan raya. 


Deni mendekat ke arah sang ibu dengan berbisik." Ibu, lihat wanita itu benar benar aneh. Ngapai coba dia menanyakan soal kecelakaan tadi siang."


"Hus, kamu ini kalau ngomong, Deni."


Bu Ayu sudah basah dengan air mata, begitupun keringat dingin bercucuran. Belum rasa lelah yang menyerang. Membuat ia tak berdaya lagi, Bu Sumyati mencoba mendekat memegang bahu wanita dihadapanya." Bu Ayu, kenapa? Coba cerita sama saya?"


Deni yang memang tak bisa menjaga perkataannya kini menimpal," Alah, palingan sok soan caper. Biar kita merasa sangat kasihan."

__ADS_1


Bu Sumyati mengarahkan kedua matanya ke arah Deni, memelototi memberikan kode agar Deni berhenti berbicara. 


"Hus, kalau ngomong itu dijaga Deni?"


Deni menundukkan pandangan, jika sang ibu sudah marah dan mengulang perkataanya ia tak berani melawan.


Bu Ayu terlihat gelisah dan gugup, membuat ia menangis sesekali terdengar isak tangisnya." ayo cerita. Mm."


"Tadi siang ada korban tabrak lari, korban itu ialah Ajeng anak saya."


Setelah mendengar apa yang dikatakan Bu Ayu, Deni terlihat senang bukan main ia berucap." mampus."


Bu Sumyati memukul kepala anaknya." Ajeng mengalami kecelakaan, ya sudah kalau begitu ayo kita cari ruangan Ajeng, siapa tahu dia ada di rumah sakit ini."


Deni tertawa dalam hati, bagaimana tidak. Karma kini berlanjut.


Kedua wanita tua itu, meninggalkan Deni untuk menjaga Pak Aryanto. Deni yang malas kini duduk memainkan ponselnya ia tak peduli dengan keadaan lelaki tua yang menghancurkan keluarganya saat itu.


******


Bu Sumyati terus bertanya tentang Ajeng, ia juga ingin melihat ke adaan Ajeng yang sekarang. karna entah kenapa kejadian ini begitu kebetulan sekali. 


Seperti perbuatan kejahatan mereka terbalas dengan begitu sepontan, melihat Bu Ayu membuat rasa kasihan, karena Bu Sumyati pernah ada di posisi itu. 


Sakit, lelah. Semua menyatu, tidak ada yang menolong hanya kesedihan yang dirasakan. Bu Sumyati memegang dadanya yang terasa sesak. 


Hingga. Ahkkkkkkk. 


Teriakan terdengar dari sebuah ruangan yang sedikit jauh, membuat hati Bu Ayu dan Bu Sumyati tentu saja penasaran apa itu Ajeng?


"Suara itu? Apa itu anakku Ajeng."


Bu Ayu kini berlari, kearah suara itu. Berharap jika tebakannya benar. Karna ia sudah merasa lelah mencari keberadaan anaknya yang tak kunjung di temukan di rumah sakit. 

__ADS_1


Padahal beberapa kali bertanya pada suster, tak ada yang tahu, mereka seperti berpura pura tak peduli. 


Malangnya nasibmu Bu Ayu. 


__ADS_2