
Sebelum menunggu cerita Anna, yang akan bercerita pada kakaknya. kita lanjut ke party di mana Ajeng ditangkap polisi.
Keadaan Ajeng dan juga sang Papah kini mulai pulih, pihak rumah sakit sudah mengizinkan mereka untuk segera pulang ke rumah.
Pak Aryanto kini menerima keadaan Ajeng yang memang dalam hatinya begitu menyakitkan, anak semata wayangnya harus kehilangan kedua kaki karena kesalahannya sendiri, dan begitupun sang Papah yang terlalu memanjakannya. Menuruti permintaan yang ternyata membuat hidup mereka menderita.
Mereka kini mulai menaiki mobil taksi, karena Kebetulan sekali Bu Sumyati dan juga Deni memberi biaya untuk mereka pulang dan membantu mereka dalam perekonomian untuk sementara.
Sejahat apapun keluarga Ajeng. Bagi Bu Sumyati ia tak berhak membalas dan membuat keluarga Ajeng menderita untuk kedua kalinya.
Ini waktunya ia menolong orang yang sudah berubah dan meminta maaf kepadanya, dengan harapan keluarga Ajeng tak mengulangi kesalah yang kedua kalinya.
Apalagi dengan kondisi Ajeng yang sekarang, Bu Sumyati tak bisa menghukum Ajeng dengan keadaannya seperti sekarang. Biarkan pihak hukum yang bersuara atas kasus semua ini.
Saat ketiga Orang itu mulai menaiki taksi, beberapa Polisi datang menghampiri.
"Selamat siang, apa anda yang bernama, Ajeng?" Pertanyaan pak polisi membuat Ajeng menatap ke arah ibu dan sang ayah.
Dengan nada gugup, Ajeng mulai menjawab," Iya dengan saya sendiri!"
"Kami membawa surat laporan penangkapan saudari Ajeng. Untuk meminta keterangan kasus kecelakaan saudari Daniel."
Kedua orang tua Ajeng sudah menduga, semua ini akan terjadi. Dengan keadaan apapun Ajeng, dia akan masuk ke dalam penjara.
Kedua mata aja yang berkaca-kaca, melihat ke arah sang ibunda ada raut wajah meminta pertolongan agar dirinya tak ditangkap oleh Polisi.
Namun apa daya semua tak kuasa dan juga sang ayah tak bisa menolong anaknya sendiri. Menarik gugatan atas bersalahnya Ajeng, membuat orang yang sudah mulai terlihat menua memegang kedua pipi anaknya perlahan, air mata itu jatuh seketika. Ajeng tak kuasa ia kini menangis di hadapan kedua orang tuanya, membuat tangan yang sudah menuai itu mengusap perlahan air mata yang ternyata menetes mengenai kedua pipi anaknya.
"Maafkan Ibu, Ajeng. Ibu Bukan tak mau menyelamatkan kamu, ibu sudah berusaha semampu ibu, tapi apa daya Ana mengabaikan permohonan ibu."
Ini sudah jadi jalan takdir untuk Ajeng, karena meminta Anna mencabut tuduhan akan dirinya, bukan hal yang mudah, hanya kepasrahan yang kini dirasakan Ajeng, walau sebenarnya hatinya merasa sangat rapuh, dengan fisiknya yang tak sempurna seperti sekarang. Ia harus menerima kepahitan yang ia rasakan di depan matanya sendiri, semua ini adalah balasan dari apa yang sudah diperbuat dirinya sendiri. Dan kini Ajeng harus menanggung semua itu sendiri.
Baru saja menikmati kebahagiaan di bumi, kini Ajeng dihadapkan penderitaan dengan datang begitu cepat. Apakah masih ada kesempatan untuk merubah diri? Jika pun itu ada, Ajeng ingin sekali melakukannya!
__ADS_1
Sang ibunda memeluk Ajeng dengan begitu erat, seakan tak ingin berpisah dengan anak semata wayangnya itu. Berat sekali hatinya, melepaskan Ajeng yang kini harus membekam di dalam penjara.
"Kamu yang kuat ya, nak."
Perlahan Ajeng mulai melepaskan pelukan erat sang ibunda, karena polisi yang menyuruhnya untuk untuk segera ikut.
"Bu, Ajeng pergi dulu ya."
Sang ibunda menangis terisak isak, melihat Ajeng dibawa oleh polisi, kaki yang belum sembuh kini harus menerima segalanya.
Ajeng langsung ditangkap oleh pihak polisi karena kasusnya yang belum selesai kasus mengenai Daniel dan juga Anna.
"Pak, ibu mengira jika Ajeng akan pulang bersama kita ke rumah." Ucapan Bu Ayu dengan isak tangis, sang suami yang berada disampingnya hanya mengusap perlahan bahu sang istri dengan lembut," Ibu yang sabar ya, terima semuanya dengan lapang dada, jangan jadikan dendam. Semua ini teguran untuk keluarga kita semua."
Sopir taksi sudah menunggu dari tadi, membuat Pak Aryanto berkata," Ayo bu. Dari tadi sopir taksi ngelaksoni kita terus, sebaiknya kita masuk ke dalam mobil. Untuk segera pulang."
Wanita tua itu melirik ke arah Ajeng yang dibawa ke dalam mobil polisi.
Membuat hatinya merasa tak karuan, ia kini berteriak." Ajeng, nak."
"Ibu tenang, ya."
Pak Aryanto memaksa istrinya untuk masuk ke dalam mobil, ia tak mau melihat kesedihan Ajeng karena sang ibu yang terus menangis.
Ajeng yang kini sudah masuk ke dalam mobil polisi, hanya bisa menatap ke arah jendela, melihat jalanan yang ramai dengan orang berlalu lalang, membuat hatinya merasa sedih.
"Mereka ceria, sedangkan aku meratapi kesedihan. Sendirian, yang akan masuk ke jeruji besi."
Jam kini menunjukkan pukul 21:00 malam, dimana Farhan, Radit dan Lulu sudah tidur. Indah bergegas keluar kamar ketiga anak Anna.
"Kak."
Betapa kagetnya Indah, saat Anna tiba tiba datang mengagetkannya dari arah belakang.
__ADS_1
"Anna, kebiasaan deh."
Anna menggerakan kedua matanya, melihat keinginan yang ia ingin katakan pada sang kakak.
"Kenapa kamu mengedipkan mata ke kakak sampai segitunya."
Menarik tangan sang kakak menuju kamar tidur, Anna menyuruh sang kakak untuk duduk di kasur, memegang kedua bahu Indah.
"Kakak duduk di sini ya, jangan kemana- mana."
Perkataan Anna membuat Indah heran, ada apa dengan adiknya itu, benar benar Aneh.
Anna yang masih berdiri, menarik napasnya secara perlahan mengeluarkan terasa sangat berat.
"Kenapa An, kamu dari tadi bolak balik. Melulu, ada yang kamu ingin ceritakan?"
Pertanyaan sang kakak, tentu saja membuat Anna kini leluasa mengatakan isi hatinya yang sudah ingin ia ungkapkan.
"Kak, aku bingung sekarang!" Jawaban Anna membuat, Indah mengernyitkan dahinya, " Kamu bingung kenapa?"
Anna mengusap kasar wajahnya dengan berkata," Pak Galih, melamar Anna!"
Terlihat senyuman dari kedua ujung bibir Indah membuat Anna, menyipitkan matanya. Sang kakak kini berkata, " Ya bagus dong. Kamu terima nggak."
Dengan wajah seperti anak kecil, Anna menggelengkan kepala. Indah mendorongkan kepala sang adik." Bodoh kamu, Anna."
"Aduh, kakak ini. Anna kan belum selesai ngomong, sebenarnya Anna belum memberi jawaban apa apa pada Pak Galih, karena Anna bingung. Maka dari itu Anna meminta solusi yang jitu pada kakak, terima nggak ya, kak?"
Indah menarik tangan Anna agar duduk di sampingnya, dimana Anna malah berbaring dalam wajah kebingungan.
"Kalau saran kakak, ya terima lah. Pak Galih orangnya tampan, punya tubuh kekar. Dia juga baik hati, An."
"Iya juga sih, kak. Tapi. "
__ADS_1
"Aduhhh, An. Tapi apa lagi, kamu orangnya terlalu banyak mikir, sudah lah jangan jadi orang bodoh. "
Indah terlihat kesal dengan sang adik , membuat ia mecubit pipi Anna. "Banyak mikir nanti keburu di ambil orang, nangis lu, kecewa. Menyesal. ujung ujungnya galau."