Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 155 Sadarnya Ajeng


__ADS_3

Indah memperlihatkan layar ponselnya yang menyala di depan Anna, membulatkan kedua mata melihat nama yang tertera pada layar ponsel sang kakak.


"Bu Sari? Ngapain dia telepon. Tuben amat."


Indah menyugingkan bibir bawahnya, masih tak percaya dan juga tak menyangka, kenapa bisa wanita tua yang menjadi ibu Raka mempunyai nomor ponsel Indah.


"Ya sudah angkat saja kak, siapa tahu penting."


ucap Anna, memberi kesempatan pada si penelepon untuk berbicara.


"Yakin nih?" tanya sang kakak dengan perasaan malas, jika mengangkat panggilan telepon dari ibunda Raka.


"Yakin kak, sejahat apapun Bu Sari, kita tidak berhak terus menerus menaruh rasa benci. Ada baiknya kita selalu mempererat silatuhrami!" jawaban yang menyejukkan bagi Anna.


Deni yang melihat semua itu, hampir saja membandingkan kedua adik kakak beradik yang jauh berbeda sifat dan kedewasaannya.


"Ayo kak, angkat. Bu Sari nelepon lagi tuh," ucap Anna menyuruh sang kakak untuk segera mungkin menggangkat panggilan telepon dari Bu Sari.


Rasa malas yang merasuki pikiran Indah terus menerus, membuat ia dengan segaja berlama lama mengangkat panggilan telepon dari Bu Sari.


Anna melihat tingkah sang kakak seperti itu, langsung merebut ponsel yang kini tengah dipegang sang kakak, dan mengangkat panggilan dari Bu Sari, wanita tua yang mejadi ibunda Raka.


"Halo, bu."


"Anna, ini kamu kah?" Terdengar suara Bu Sari begitu jelas, seperti orang yang tengah menangis. Anna merasa penasaran dengan suara tangisan wanita tua yang dulu pernah jadi mertuanya.


"Iya, bu! Ada apa?" Anna penasaran dengan niat Bu Sari menanyakan dirinya. Karena tumben sekali, tidak seperti biasa. Bu Sari terkesan cuek dan selalu tak peduli dengan Anna.


"Katanya kamu masuk ke rumah sakit, ya. An, ibu ingin melihat kamu, kamu di rawat di mana?" Tumben sekali Bu Sari memperlihatkan kepedulianya terhadap Anna. Ada sesuatu yang tak beres sepertinya.


"Iya bu!" Anna menjawab dan memberitahu tempat dimana dirinya di rawat.


Bu Sari berniat ingin menjengkuk mantan menantunya itu, ke rumah sakit.

__ADS_1


"Ya sudah, nanti ibu ke sana. Sebenarnya ada hal yang ingin ibu omongin sama kamu, An." Hati Anna sudah menduga jika ada sesuatu yang tak beres. Entah apa? Anna belum mengerti dan masih di abang rasa penasaran.


Wanita tua yang menjadi ibunda Raka, kini mematikkan panggilan telepon. Indah melihat percakapan sudah selesai kini bertanya pada sang adik. " Ada apa? Dia bilang apa?"


Anna menggelengkan kepala dan berkata, " entahlah, nggak jelas! Dia katanya mau ke sini."


Indah tentu saja kaget dengan jawaban adiknya," masa sih, nggak salah tuh nenek tua yang sudah jahat sama kamu mau datang ke sini."


"Anna juga tak mengerti kak, soalnya dia ingin mengatakan sesuatu hal yang penting. Yang entah Anna tak tahu, tentang apa?"


"Kamu harus hati hati, An. Kita nggak tahu niat dia seperti apa!"


"Iya kak."


******


Perbicangan dalam telepon sudah usai, di dalam penjara Raka memegang tangan sang ibunda dan berkata." Ibu harus bisa ya. Raka percaya sama ibu."


Perasaan sedikit tenang untuk Raka, karena sang ibu yang menjajikan dirinya akan membujuk Anna agar bisa mencabut tuntutan Raka.


*******


Di tengah-tengah keingin bebasan Raka, ada Ajeng yang terbaring di rumah sakit sembari melamun.


Bu Ayu mendekat ke arah anak semata wayangnya itu, dengan mengusap lembut kepalanya.


"Apa yang sedang kamu lamunin, Ajeng. Pagi begini kamu sudah melamun sendirian?"


Pertanyaan sang Ibu mampu membuat lamunan Ajeng membuyar, wanita bermata bulat dengan rambutnya yang pajang menatap ke arah sang ibu dengan tatapan sayu.


"Bu, Ajeng sudah bosan di rumah sakit. Kapan Ajeng pulang ke penjara," ucap Ajeng tampak sudah pasrah dengan nasibnya sekarang.


Melihat semua itu sang ibu tersenyum dalam baluran air mata yang mengalir desar, hingga menyetuh sang pipi.

__ADS_1


"Loh, kamu sekarang nggak bakal pulang ke penjara," balas sang ibu membuat Ajeng tentu saj heran, karena ia belum tahu jika Anna mecabut gugatannya di dalam penjara.


"Ibu jangan bercanda, " tekan Ajeng, menatap ke arah sang ibu. Jelas jelas dia sekarang adalah seorang tahanan.


"Ibu tidak bercanda, saat kamu dilarikan ke rumah sakit. Karena melakukan aksi bunuh diri, Anna datang dan mencabut gugatan kamu, nak, " ucap lembut sang ibu, Ajeng menangis, padahal baru saja ia memikirkan nasibnya setelah keluar dari dalam rumah sakit. Mendekap di penjara dengan penuh kesendirian, tanpa kebebasan dan keindahan yang seharusnya ia rasakan.


Memeluk sang ibu dengan bertanya?" sekarang Anna ada di mana? Apa dia sudah pulang, Ajeng ingin bertemu dengannya, meminta maaf dan berterima kasih.


Raut wajah sang ibu terlihat begitu bersedih, saat anaknya menanyakan keberadaan Anna," loh. Ibu kenapa? Kenapa ibu sedih begitu?"


"Kebetulan kemarin ibu telepon Galih, menanyakan kabar Anna, karena biasanya wanita itu menjenguk kamu, tapi sudah dua hari ini dia tidak ada," ucap sang ibu menjelaskan semuanya di depan Ajeng.


"Lah, terus apa kata Galih?" tanya Ajeng pada sang ibunda yang belum meneruskan perkataanya.


"Anna masuk ke dalam penjara, harus melakukan oprasi! " jawab sang ibunda, membuat Ajeng tentulah kaget.


"Anna, kenapa bisa musibah terjadi padamu. Padahal kamu orang baik, jelas sudah dikhianati dan di sakiti oleh Ajeng dia tetap mempunyai rasa simpati dan mau membebaskan Ajeng saat ini. Bu, Ajeng ingin bertemu dengan Anna, apa bisa ibu mengantarkan Ajeng ke rumah sakit, dimana Anna sekarang di rawat." Perubahan perlahan nampak pada diri Ajeng, awal yang tak menerima. Tapi Ajeng berusaha merubah diri dan menyadari kesalahanya.


Hampir saja Ajeng akan melakukan hal yang memalukan, dengan mengakhiri hidupnya. Karena tak tahan dengan hidup penuh kesalahan dan kesedihan.


Tapi sang ibu yang begitu hebat, mampu membuat Ajeng bangkit kembali dalam keterpurukan dan menyadari kesalahan yang sudah ia perbuat dari dulu.


"Ya sudah, nanti ibu minta izin dulu sama dokter. Apa kamu bisa keluar sekarang dari rumah sakit."


Ajeng menganggukkan kepala setelah sang ibu, akan mengusahakan dirinya untuk bisa bertemu dengan Anna.


Dan Ajeng juga berusaha mempersiapkan diri untuk bertemu dengan wanita yang sudah ia sakiti dari dulu, ia hina dan ia buat menderita.


Hingga di mana wanita itu begitu baik hati kepada dirinya, tak membalas semua perbuatan jahat.


"Bu, Ajeng berharap saat Anna bertemu Ajeng dia tidak kesal dan membuang muka."


Sang ibu tersenyum lebar." Anna, bukan orang seperti itu. Walau pun dia tegas. Dia tidak akan memperlihatkan kebencian terhadap orang lain yang sudah menyakitinya."

__ADS_1


__ADS_2