Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 251 Ribetnya polisi.


__ADS_3

"Akh, sial. Baru saja lolos dari kejaran polisi, malah nasibku seperti ini."


Intan merogoh saku celana, melihat ponsel barunya. Berharap ada orang yang akan menolongnya.


Namun sial, ponsel baru itu tidak menampakan siyal sedikit pun, apa mungkin karena di kurung dibawah tanah.


"Nasib, nasib."


*********


Di dalam penjara.


Polisi ingin mendengar keterangan dari Nita dan Bu Suci, karena mereka merasa curiga dengan wanita tua yang asal menyalahkan Nita tanpa bukti.


Baru saja meminta keterangan pada Bu Suci, dua polisi datang. Dimana kedua polisi itu bertugas untuk memburu Intan, mereka membisikan suatu perkataan pada polisi yang meminta keterangan pada Bu Suci.


Menganggukkan kepala mengerti dengan apa yang dikatakan sang atasan, Galih di persilahkan masuk ke ruangan kusus pelapor.


"Maaf kami sedikit terkendala dengan kasus Intan yang sebenarnya sudah kami selidiki."


"Jadi kalian segaja tidak menangkap Intan?"


"Ya, karena ada dalang persekongkolan di antar gadis itu dengan seorang wanita perjual beli anak! Jika kami terburu buru menangkap Intan, kami tidak bisa menemukan Lulu yang ternyata sudah di jual."


"Kalian tahu dari mana, kalau anak saya di jual.'


" Kami dapat laporan rekaman suara ini!"


Galih mendengar suara pecakapan kedua pasang wanita, dari rekaman yang diberikan oleh Polisi.


"Ternyata banyak kasus di kampung itu, seluruh warga di sana hanya diam tanpa melapor pada pihak berwajib."


"Kedua polisi, sudah menyelidiki rumah mewah bernama Nyonya Marimar, sebenarnya kami mencurigai wanita itu, tapi kenapa setiap penyelidikan dilakukan banyak warga bukam dan tak mau menjawab. Kasus tidak mungkin selesai hanya sekejap mata, semua butuh, proses mohon bapak bersabar."


Galih paling sebal saat mendengar jawaban polisi yang tak membuat hatinya lega. Padahal dia sudah banyak mengeluarkan uang, tapi hasilnya benar-benar tak memuaskan.


" Sudah berapa banyak uang yang saya keluarkan, jawaban bapak itu hanya cukup bersabar saja, masa hanya memburu satu gadis saja tak bisa."


kedua mata Galih memerah, ia tak bisa menahan amarah.

__ADS_1


"Saya mengerti pak, tapi .... "


Brakkk .... Galih tanpa sadar memukul meja, hingga polisi berucap tegas. " saya berharap bapak bisa menjaga etika bapak di sini."


Galih mengusap kasar wajahnya, ia menahan kendali dirinya dan meminta maaf." Maafkan saya pak."


Polisi mulai memahami Galih, ia menyuruh Galih untuk berdiri. Sampai informasi polisi datang kembali.


Ketukan pintu terdengar. Galih yang mulai beranjak pergi, dengar percakapan mereka terlebih dahulu.


"Masuk."


Polisi memperlihatkan poto Intan yang menaiki bus, dan kedua lelaki yang mengikuti Intan. Mereka berusaha menyelidiki terlebih dahulu, hingga mengikuti Intan yang diikuti kedua lelaki itu.


Awalnya penangkapan akan di lanjutkan, tapi melihat gerak gerik kedua lelaki itu, membuat polisi mengikuti kemana mereka pergi.


"Jadi Intan di bawa ke rumah Nyonya Marimar, berarti sudah jelas wanita itu harus kita selidiki. "


Polisi tidak semena mena menangkap Marimar jika ada pelapor dan bukti, tapi selama ini tidak ada sama sekali.


Hanya ada satu wanita bernama Nita, melapor dan tak cukup bukti, hingga kasus itu seakan hilang tanpa jejak.


Galih mendengar nama Intan, melihat poto itu tanpa polisi suruh. Galih sudah lacang dan tak sopan, " ini Intan, kenapa kalian tidak langsung menangkapnya."


"Sebaiknya bapak keluar sebentar, kami akan berdiskusi terlebih dahulu."


Galih terpaksa mengalah, walau sebenarnya amarah sudah mencapai ubun ubun. Ia hanya bisa mengikuti jalan polisi.


Lelaki berbadan kekar terpaksa keluar menemui sang istri. Dimana Anna tanpak gelisah,


"Apa kata mereka, mas?"


"Mereka sudah menemukan Intan, hanya saja belum menangkapnya, karena ada kasus yang harus di selidiki lagi, jika kita mengiginkan Lulu kembali!"


Menarik napas, Anna menangis, sang suami hanya bisa menenangkan dengan sebuah pelukan hangat. Berharap jika pelukan itu mampu membuat, jiwa Anna tenang dan tak bersedih lagi, walau kemungkinan kecil.


"Kamu jangan terlalu memikirkan hal yang membuat otakmu stres, Kamu harus ingat di badanmu ini ada seorang bayi yang harus kamu jaga, "


Anna mengganggukan kepala, di mana Galih megusap pelan perut istrinya.

__ADS_1


Mereka hanya bisa menunggu dan bersabar, hingga polisi memberitahu mereka berdua.


*******


Sedangkan Nita tanpak ketakutan, Saiful yang menemaninya hanya bisa berdoa agar Nita tidak masuk ke dalam penjara karena fitnahan dari Bu Suci tantenya sendiri.


Bu Nira menjalankan mobil anaknya untuk menyusal ke kantor polisi, ia takut jika Saiful dan Nita kenapa kenapa.


"Mudah mudahan belum terlambat."


Menjalankan mesin mobil, para ibu ibu datang menyusul, seketika menghentikan mobil yang akan Bu Nira kendarai.


"Ada apa lagi mereka ini."


Bu Nira kesal dengan tingkah para ibu-ibu di kampung mereka seenaknya menghentikan mobil.


"Bu Nira buka bu, kami ingin ikut ke sana. Melihat si Nita dan Bu Suci." Teriakan bergeming pada telinga Bu Nira, entah kapan mereka tak menganggu kehidupan orang lain.


Membuat suatu obrolan yang tak berguna, mengunjing Nita, membuat fitnahan. Dan kini para ibu ibu ingin melihat Nita dan Bu Suci berdebat, agar bisa membuat sarana gosip baru untuk topik obrolan mereka di setiap pagi dan sore hari.


"Bu, Nira, ayolah buka pintunya."


Bu Nira berusaha menghadapi para ibu ibu dengan sikap sabar dan tak ingin mengeluarkan emosi, agar tidak ada kesalah pahaman terjadi.


Menurunkan kaca mobil, dan ibu ibu saling berebutan ingin naik ke dalam mobil.


"Hih, dasar ibu ibu rese." Gerutu hati Bu Nira.


"Bu Nira ayo buka pintunya, kami mau ikut. Kami kuatir dengan Bu Suci, nanti dia kenapa kenapa loh, oleh Nita, kami ingin menjadi pembela Bu Suci," ucap para ibu ibu, saling dorong mendorong karena ingin ikut naik ke dalam mobil.


Bu Nira burusaha menolak mereka untuk ikut serta ke kantor polisi, karena pastinya mereka akan membuat keributan.


Bukanya malah menyelesaikan masalah, malah tambah runyam." Ibu-ibu. Maaf sebelumnya, saya buru-buru mau bertemu dengan anak saya, kasihan dia takut tersalahkan. Kalau nanti saya bawa ibu ibu, urusannya takut repot. Ibu Ibu mau masuk ke dalam penjara?"


"Kita nggak bakal bikin keributan kok Bu Nira, kami ikut ya, kami penasaran dengan Nita dan Bu Suci. Keadaan mereka sekarang bagaimana, solanya kami kesal sama si Nita selalu bikin ulah, padahal kasihan Bu Suci!''


Jawaban para ibu ibu membuat Bu Nira


menancapkan gas mobil, untuk segera pergi dari hadapan para ibu-ibu.

__ADS_1


"Maaf ya ibu ibu sekali lagi." Dengan melambaikan tangan, Bu Nira menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menoleh ke arah kaca mobil terlihat ibu-ibu di kampung begitu marah kepadanya.


__ADS_2