
***** Masih Pov Raka, sebentar lagi akan ada Pov autor. ******
Saat masuk ke kantor polisi, aku tak menduga. Ada sosok seseorang yang datang menghampiriku. Ternyata ia adalah Pak Aryanto, lelaki tua yang aku lihat kemarin berbaring di rumah sakit, sekarang berada di hadapanku dengan kursi rodanya.
Wajahnya memperlihatkan amarah yang menggebu, begitu pun dengan istrinya.
"Kenapa mereka ada di sini? Apa Pak Aryanto ikut ditahan di dalam penjara? "
Aku kira perkataanku tak di dengar oleh Anna," Kamu mau tahu kenapa lelaki tua yang sudah merusak hidupku ada di sini. "
"Kenapa? " Menelan ludah, pasti jawabanya akan menegangkan. " Jelas, ia sudah dikeluarkan dari jabatanya, karna melakukan hal yang tak baik di masa lalu. Begitupun dengan Ajeng. Kini polisi tengah memburu wanita itu, karna terlibat dalam masalah masa laluku bersama Daniel. Oh ya, mas. Sekarang kerangka Daniel sudah di temukan tinggal menunggu hasil dari otopsi, aku berharap tidak ada hal hal mengerikan yang kamu lakukan pada Daniel di masa lalu. "
Beberapa kali aku menelan ludah, perasaanku tak karuan. Tegang karna rasa takut, karena kata kata Anna yang terdengar menyeramkan.
"Badanmu bergetar, mas. Kamu takut ya. " Bisikan Anna membuat aku tentulah semakin kesal.
Bruggg ....
Tanpa sadar aku memukul meja, hingga para polisi yang berada di sini menatapku. Sedangkan Anna masih dengan posisi seakan tak mau tersorot, " kurang ajar kamu, Anna. "
Tawa pelan itu masih terdengar padaku. " Santai mas. "
Aku yang memang sudah kesal dibuatnya kini membalas. "Anna, kamu harus tahu. Memang saat kejadian itu. Aku dan keluarga Ajeng bersekongkol untuk menyembunyikan kebenaran, tapi asal kamu tahu. Jika tidak ada lelaki bermotor itu, mungkin kamu dan Daniel tidak akan tertabrak olehku. Tidak akan ada kejadian seperti ini. Apa kamu lupa, masih mending aku menikahi wanita amnesia sepertimu. "
Aku masih dengan kesombonganku, dimana Anna terlihat menggerutu kesal. Berbicara pelan kembali. " Heh Anna, masih banyak orang yang terlibat dalam kasus ini. Kamu tahukan aku ini bukan orang kaya. "
"Maksud kamu apa, mas? "
Anna sepertinya terpancing akan perkataanku. " Kamu pikirkan saja sendiri. "
Tiba tiba saja, mantan istriku ini. Sedikit menekan bahuku dengan keras, membuat aku berkata. " maksud kamu masih ada orang lain dari kejadian tabrakan ini. "
"Anna, kamu menyakitiku." Tangan Anna yang aku kira lemah kini terlihat bertenaga. Dia seperti menganiayaku, " Coba jawab, mas. "
Aku mengobrol dengan pelan, berusaha berbisik satu sama lain dengan mantan istriku ini. " Lepaskan dulu."
__ADS_1
Aku berusaha menyuruh Anna melepaskan tanganya yang terasa menyakitkan, hingga dimana ia melepaskan tangannya dari bahuku.
"Cepat jawab. Berapa nomor plat motor orang itu. "
"Untuk apa? Kamu sudah menahanku ini? "
Ini kesempatanku untuk meminta agar di bebaskan jika Anna menekan dan ingin tahu orang yang sudah membuat mobilku tak sengaja menabaraknya.
Tangan Anna semakin mencekram erat bahuku. " Katakan. "
"Aku akan katakan. Jika kamu mau membebaskanku. "
"Dasar lelaki licik. "
Apa katanya dia bilang aku licik, bukanya dia yang lebih licik dariku. " Anna. Semua tidak ada yang geratis. "
"Heh, mas. Baru saja tadi kamu sadar akan kesalahanmu mengigat Radit dan Lulu, sekarang kamu membuat lagi suatu masalah."
Apa yang dikatakan Anna memang benar, kadang manusia bisa berubah di suatu keadaan sulit, tapi perubahan itu malah membuat aku balik lagi pada suatu kesalahan.
"Oh ya mas, kamu tahukan jika kamu tidak mau mengatakan nomor plat nomor motor itu, bisa saja. Aku mengiring ibumu masuk ke dalam penjara. "
"Heh, Anna. Kamu tidak bisa seenaknya menahan ibuku, ingat itu. "
Anna kini mengusap kasar rambutku dengan berkata. " Mas, apa kamu lupa. Aku punya bukti percakapan ibumu dan kamu. "
"Heh, percakapan apa? "
Sial, aku hampir ingat dengan ponsel ibu yang selalu aku pakai. Lupa menghampus pesan dan membiarkan pesan itu menumpuk.
Anna kini memperlihatkan ponsel ibu.
"Ponsel ibu. Kenapa bisa ada di tanganmu, An. Kamu ini. "
"Kamu kan bilang sendiri, aku licik. Ini kan buktinya, aku bisa dengan mudah mengambil ponsel dari saku celanamu tanpa kamu sadari. "
__ADS_1
Mantan istriku ini punya kepintaran dari mana? Kemarin menjebakku, sekarang mengambil ponsel dari saku celana. Anna kenapa kamu berubah ganas secepat ini, sedangkan aku benar benar bodoh dibuat oleh kepintaranmu.
"Ayo mas, kamu mau ibu, wanita tua yang sudah melahirkanmu masuk ke dalam penjara sampai ajal mejemputnya. Ingat mas, dia sudah tua. "
Ahk, sekarang aku mengaku kalah. " Baik aku akan katakan nomot plat motor yang menghalangi jalanku. Ini nomornya 746**** . "
Sepertinya Anna langsung mencatat nomor plat motor itu," warna apa motornya. "
"Merah, aku juga tak yakin jika motor itu masih seperti dulu, atau sudah di rubah oleh pemiliknya, karna bisa saja plat dan cat warna motor tahun makin ke tahun berubah. "
"Tumben kamu bijak mas, memberi tahu aku. "
Obrolan pelan kami tiba tiba berhenti, saat salah satu polisi ingin menanyakan kasus masa lalu yang hampir aku lupakan.
Menghelap napas, aku mulai mengakui semuanya. Hingga ini waktunya aku membekam di dalam jeruji besi.
Setelah pertanyaan itu, polisi mulai mengantarkan aku menuju jeruji besi yang mungkin terasa dingin dan tak nyaman. Tidak ada kasur empuk.
Sesaat aku yang akan di masukkan ke dalam penjara.
Pak Aryanto menyuruh polisi untuk berhenti sejenak, membuat aku hanya menunduk pasrah, mungkin lelaki tua itu akan memarahi aku saat ini juga.
"Raka, sekarang Ajeng ada di mana? "
Deg .... Kenapa Pak Aryanto malah bertanya dimana Ajeng. Bukanya Ajeng sudah berpamitan kepadaku untuk pulang ke rumah.
"Raka, jawab? "
Aku mulai mengangkat wajahku kehadapan mereka berdua. " Saya tidak tahu keberadaan Ajeng, pak. Karna kami bertengkar, sampai Ajeng meninggalkan saya di pinggir jalan. Saya mengira Ajeng pulang ke rumah untuk meminta maaf pada bapak dan ibu. "
Pak Aryanto mengusap kasar wajahnya, terlihat rasa takut dan gelisah dari raut wajah lelaki tua itu.
"Raka, jangan bercanda kamu. Ajeng dari tadi pagi belum pulang pulang." Tegas wanita tua yang menjadi ibu Ajeng. Membuat aku hanya menarik napas dan berkata. " saya tidak bercanda, memang kenyataanya. Ajeng juga bilang akan mengugat saya kepengadilan. "
"Mah, Ajeng kemana? Harusnya dia ada di sini. Memberi kesaksian, agar dirinya tak di penjara. Jika tidak, Ajeng akan di buru oleh para polisi dan otomatis akan di jebloskan ke penjara. "
__ADS_1
Ucapan Pak Aryanto membuat aku hanya terdiam, " aku mengira hanya aku saja yang masuk ke dalam buih penjara. Nyatanya Ajeng ikut serta. "
Polisi yang tak berlama lama, kini mengiringku lagi untuk masuk ke dalam penjara.