Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 79 Pov Raka Diamnya Ajeng.


__ADS_3

******Hai hai. Masih dengan pov Raka ya. *****


Selamat membaca.


Ajeng keluar dari dalam mobil, membuat aku tentu saja heran. Ia tiba tiba menghampiri pintu mobil, membuka dan menarik tanganku.


"Cepat keluar, mas. "


Aku berusaha menahan tubuhku, agar tidak keluar dari dalam mobil. "Kamu ini kenapa? "


Ajeng melepaskan tanganku, ia kini berkacak pinggang dan berkata kasar. " kamu masih bilang kenapa? Bukanya tadi kamu menyalahkan aku. Hah. "


Kedua mata bulat itu semakin membulat, seperti ingin keluar tiba tiba. Aku yang merasa bergantung dengan Ajeng kini memperlihatkan wajah sedihku.


"Kenapa hah, masih mau menyalahkan aku lagi. " Bentak Ajeng dengan seenaknya kepadaku.


"Ayolah sayang, aku hanya bercanda. Kenapa kamu malah marah marah begitu. " Rayuku pada Ajeng, berharap wanita yang beda jauh umurnya denganku berubah pikiran.


Ajeng terlihat sedang berpikir, sedangkan aku merapatkan kedua telapak tangan dengan memohon mohon pada istriku ini. Memang terdengar tidak tahu malu, tapi ini yang aku lakukan dikala wanita marah, bukanya wanita akan luluh ketika lelaki merayunya dengan lembut.


"Come on my wife, don't be angry. We settle everything with a cool mind. Ayo kamu masuk lagi ke dalam mobil, ya. Sayang. "


Aku berharap rayuan mautku mampu menebus hatinya yang paling dalam, " Come on dear, kamu tidak mau suamimu yang malang ini mati di mangsa hewan buas di pinggir hutan begini. "


Ajeng terlihat mulai luruh dengan gombalan dan rayuanku, ia memperlihatkan wajah tak teganya di depan mataku.


Menarik napas, melihat Ajeng kini menurunkan kedua tangan yang tadinya berkacak pinggang.


Sepertinya wanitaku ini sudah sadar akan kesalahnya, ia tak mau bercerai denganku atau meninggalkanku begitu saja, karna aku tahu. Bertapa bucinya Ajeng kepada lelaki tampan seperti wajahku ini.


Ajeng mulai menutup pintu mobil dengan membantingnya keras, aku tahu amarah wanita itu pastinya lama, jadi aku biarkan dia menenangkan pikiran yang sudah kacau.


Ia mulai menyalahkan siara radio untuk mendengarkan musik. Di dalam mobilnya, mungkin ingin menenangkan diri dan tidak mau bebicara sementara waktu denganku. Ya aku paham, aku salah.

__ADS_1


Suara radio terdengar membuat aku terdiam sejenak, dimana pada siaran radio di mobil Ajeng memberitahukan tentang Daniel. Korban yang aku kubur di tengah hutan kini sudah di temukan.


Secepat itu, aku berusaha tenang. Mengatur napas, awalnya Ajeng mau memutar radio itu ke siara lain. Tapi aku mencoba untuk menahan tangannya. " Jangan di putar, "


Ajeng kini mengurungkan niatnya, tidak memutar siara radio lagi, aku kini fokus mendengar berita tentang Daniel.


Jika aku menjadi orang lain, mungkin akan mengatakan kata kata kasar dan kesal, karna memang aku pelakunya. Ya aku hanya bisa diam dan mendengarkan dengan seksama.


Terdengar dari berita itu, pelaku belum di temukan karna melarikan diri. Pastinya aku melarikan diri, karna tak mau dijerat hukuman.


Ajeng mulai menyalakan mesin mobil kembali, ia terlihat masih marah kepadaku. Tak ada ucapan ataupun perkataan yang terlontar dari mulutnya.


Sedangkan aku yang memang tak mempunyai rasa sayang sedikit pun pada dia, hanya diam. Dan berusaha cuek, siapa suruh dia mau menikah denganku.


Tak terasa perjalanan mulai sampai ke tempat tujuan, Ajeng membawaku ke sebuah villa mewah yang jauh dari permukiman. Apa ini tempat persembunyian yang bagus. Villa siapa ini?


Saat Ajeng turun, tak ada ucapan ia mengajakku keluar dari dalam mobil, ia pergi begitu saja. Apa semua wanita begitu, jika marah mendiamkan lelakinya. Aku yang memang masih bergantung padanya, mulai turun mengekori setiap langkah kakinya.


Villa ini benar benar megah, indah. Aku baru pertama kali datang ke tempat semewah ini. Ajengpun baru mengajakku saat ini.


Aku bertanya, akan tetapi Ajeng tetap saja diam, entah kenapa dengan dia? Padalah dari tadi aku berusaha berkata lembut.


Ajeng menyuruh pelayan vila itu, untuk segera meyiapkan makanan untuk dirinya.


Memang jika menjadi orang kaya dan banyak uang itu hidup terasa indah, menjadi jahat pun, masih bisa selamat.


Makanan sudah siap, dimana pelayan datang memberi tahu Ajeng. Aku yang baru saja duduk, kini berdiri lagi. Ajeng tetap saja merapatkan bibirnya.


Melirik wajahku pun dia seperti enggan.


Saat perdebatan itu, aku benar benar diabaikan. Seperti tak berguna di depan Ajeng.


Saat duduk di meja makan, hidanganpun hanya ada satu. Sedangkan untuk diriku tak ada?

__ADS_1


Ajeng dengan lahapnya menyantap makanan yang berada di depannya, terlihat sekali makanan itu begitu lezat. Membuat aku berkata. " Sayang. Aku juga lapar, masa kamu makan sendiria. "


Ajeng tetap saja terdiam saat keluhan aku lontarkan, "Sayang. kamu masih marah padaku. Ayolah jangan begitu. Aku minta maaf. "


Aku berusaha meminta maaf dengan kata kata malas, Ajeng seakan mengabaikan ucapanku, apa yang harus aku lakukan. Ketika sang istri mendiami suaminya ini, berasa hidup tak ada arti.


Setelah Ajeng selesai menyantap makananya, ia pergi membuat aku berlari untuk mengeluarkan jurus rayuan mautku, agar dia berubah manjadi baik lagi kepadaku.


Langkah istriku begitu cepat, membuat aku berlari. Hingga dimana ia telah sampai di depan pintu, membuka pintu kamar. Dan Brakkkk .... Menutup pintu dengan keras, tentulah membuat aku kaget. Hampir saja kepalaku terkena pintu kayu itu.


Mengetuk pintu perlahan, dengan harapan istriku membuka pintu.


Tok .... tok .... tok.


Ketukan pintu terus aku ketuk, berharap istri yang tidak aku cintai ini kembali lagi seperti semula. Tidak mendiamkanku seperti sekarang.


"Ajeng, buka sayang. Apa kamu tega terus menerus membiarkan aku kedinginan di sini, tanpa kamu peluk. Ayolah sayang buka pintunya. Kumohon. "


Aku terus memohon dan meminta maaf, hingga akhirnya Ajeng membuka pintu kamar. Dimana ia masih dengan wajah cemberutnya.


Aku tersenyum senang, dengan hayalan jika Ajeng akan membiarkan aku masuk ke dalam kamar. Untuk segera tidur di kasur yang sudah aku bayangkan betapa empuknya.


Aku yang mulai masuk, malah tertahan dengan pintu yang segaja dibuka sedikit. Ajeng kini melemparkan sebuah selimut ke arah wajahku.


"Sayang, izinkan aku masuk. Masa kamu tega. Ayolah sayang. Cuman di kasih selimut. Aku tidur di mana nanti sayang? "


Teriakanku tetap saja tak di gubris oleh Ajeng sama sekali. Ia tetap saja diam, tanpa mengeluarkan satu patah katapun.


Aku kini berjalan gontai dengan tubuh keroncongan, "Lapar, lemas. "


Hingga dimana aku bertabrakan dengan sosok gadis cantik berkulit kuning langsat yang ternyata seorang pelayan di Villa. Melihat pada ujung kaki hingga ujung kepala, pelayan ini lumayan juga jika untuk menemani kegalauanku karena didiamkan oleh Ajeng.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu. "

__ADS_1


Lamunanku membuyar, di saat pembantu itu sedikit melekukan tubuhnya memancing kedua mataku. Untuk berbuat nakal.


__ADS_2