
Ciuman tulus dari Indah, membuat hati Deni sedikit terobati. Tidak ada yang mau melerakan istrinya menemui mantan suami, apalagi tanpa ditemani, pasti lelaki akan merasa sakit hati. Hanya saja Deni tak mau menekan Indah, ia tahu jika Indah tidak seperti yang ia bayangkan.
Wanita bermata sipit dengan hidungnya yang mancung, pasti akan kembali menemui Deni.
"Indah, aku tahu hati kamu pasti tetap untukku."
Punggung Indah kini sudah tak nampak terlihat, ia sudah keluar dari rumah, menyalakan mesin mobil. Deni masih berdiri di dekat meja makan, seakan enggan melihat kepergian istrinya menemui mantanya.
Padahal, Deni dengan lapang dada mengizinkan, begitulah namanya manusia, dari mulut bisa berkata ia, tapi hari tak rela. Deni duduk, memijit belakang kepalanya dengan kedua tangan.
Baru saja menjalankan pernikahan sudah banyak unjian dan halangan untuk mendapat kebahagian.
Di kursi tanpa seorang teman, Deni berusaha kuat dan bersikap bijak dalam menangani masalah. Apalagi dengan masalah yang dihadapi Indah.
"Indah, semoga saja Bu Dela dan Danu tidak membuat kamu berpaling padaku."
Suara ponsel kini kembali menyala, Deni mengira itu adalah Bu Dela, tapi saat melihat layar ponsel yang mengeluarkan suara dan berkedip beberapa kali membuat ia menatap.
"Galih, tumben ia menelepon, ada apa ya?"
Mengangkat panggilan telepon, " Halo, Galih ada apa?"
"Deni, Indah mana?"
"Indah baru saja pergi, memangnya ada apa!?"
"Anna, masuk ke rumah sakit. Dari tadi saya telepon Indah kakaknya Anna, nomornya tak aktip. Jika Indah sudah kembali tolong sampaikan kepada Indah ya."
"Baik, Gal."
Panggilan teleponpun terputus sebelah pihak, Deni mulai bergegas berangkat menyusul Indah, hingga dimana ia berdiri, melihat ponsel Indah berada di meja makan.
"Indah ternyata dia tidak mambawa ponsel."
Lelaki muda itu, menyalahkan ponsel yang sengaja dimatikan Indah, melihat panggilan telepon dari Galih dan juga Bu Dela tak terjawab.
Deni bergegas mengambil jaket, ia mencari kunci motor istrinya, menyusul ke rumah sakit.
__ADS_1
*******
Di rumah sakit.
"Bu, Indah sudah datang belum?" pertanyaan Danu membuat relung hati sang ibu tak bisa menahan isak tangis, air mata kini lolos membasahi kedua pipi wanita tua itu.
Tangan yang sudah mengkerut tak nampak segar seperti dulu, kini meraih tangan Danu yang begitu tak berisi. Terlihat tulang tangan begitu jelas menonjol.
Sesekali Danu merasakan rasa sesak, yang menjalar pada dadanya," Bu, kenapa ibu tidak jawab pertanyaan Danu, apa Indah sudah datang."
Sang ibu hanya bisa mencium tangan yang tak berisi itu, menangis dan berkata." yang sabar ya nak, kamu jangan dulu banyak bicara, kondisi kamu belum setabil. Jangan memikirkan hal yang aneh. Indah pasti datang, ibu sudah menelepon dia."
Betapa hancurnya hati seorang ibu, melihat tubuh anaknya yang semakin hari semakin kecil, pipi yang berisi kini terlihat tirus, kedua mata semakin terlihat menonjol ke dalam.
Danu berusaha tersenyum, menatap wajah tua ibunya. Dengan memegang perlahan pipi Bu Dela dan berkata, " maafin Danu ya, bu. Selama ini Danu tidak pernah menurut, Danu sudah mengecewakan ibu."
Sang ibu berusaha kuat, ia menasehati anaknya dengan isak tangis yang terus keluar." kamu ngomong apa nak, ibu ini sudah maafin kamu. Danu kamu harus kuat, kalau kamu menyerah, siapa yang menemani ibu di hari tua nanti? Siapa yang memperhatikan ibu saat ibu sakit? Danu ibu sayang sekali sama Danu. Bertahan ya, nak."
Perlahan demi perlahan, air mata itu jatuh dari kedua mata Danu, membuat sang ibu berusaha mengusap dengan lembut." jangan menangis, ibu yakin kamu pasti bisa melawan peyakitmu. Kamu harus kuat ya, nak."
Senyuman dengan tangisan diperlihatkan oleh Danu pada sang ibu, membuat wanita tua itu. Memperlihatkan ekpresi marah dengan air mata yang terus menerus keluar dari kedua matanya.
"Jangan bicar seperti itu, nak. Ibu yakin kamu ini kuat, jangan bicara seakan akan kamu ini mau pergi selamanya."
Tangan yang terlihat seperti tulang berlulang itu, kini mulai memegang tangan sang ibu. Dengan berkata. " maafin Danu."
Napas seperti tak terkontrol lagi, Danu tak bisa menahan sesuatu yang tiba tiba menyakiti badanya. Entah apa itu, seperti dorongan yang kuat, membuat napas tak beraturan. Wajah Bu Dela begitu panik, ia menekan tobol untuk memanggil para perawat, hatinya tak karuan.
Sang ibu terus saja menangis, melihat anaknya bertaruh nyawa menahan penyakit yang di derita. Suara langkah kaki terdengar, membuat wanita tua itu melihat ke luar ruangan.
"Indah."
Betapa senangnya, Bu Dela melihat mantan istri anaknya datang. Dia ternyata berlari untuk segera sampai di ruangan Danu.
"Bu, Mas Danu mana?" Bertanya dalam panik, Indah memegang kedua tangan wanita yang menjadi ibunda Danu.
Bu Dela masih dengan tangisanya, karena melihat Danu tengah ditangani perawat.
__ADS_1
"Bu, jawab. Kenapa?"
Perawat datang mencoba memberi tahu, agar tidak masuk ke dalam ruangan, karena pasien mengalami kejang-kejang.
"Penyakit Danu, semakin parah. Ibu juga bingung padahal dokter sudah menangani penyakitnya."
"Penyakit, jadi maksud ibu. Mas Danu mempunyai penyakit. Penyakit apa?"
Pertanyaan belum terjawab, dokter datang dengan menggelengkan kepala, seakan ia menyerah menangani Danu.
Untuk menjawab pertanyaan Indah, seakan di tekankan dengan dokter dan perawat yang menampilkan wajah gelisa.
"Ada apa, dok."
"Pasien tak bisa kami selamatkan. "
Suara itu seperti sambaran petir bagi Indah dan juga Bu Dela. Jika Danu sudah tiada, Bu Dela tak menerima dengan kenyataan sang dokter ia menekan dokter dengan berkata." jangan becanda, dok. Baru saja saya mengobrol dengan anak saya, meceritakan apa yang ia rasakan."
"Ibu yang sabar ya, ini sudah menjadi takdir, kami hanya bisa berusaha semampu kami."
Bu Dela tak terima, ia meraung menangis sejadi jadinya di depan Indah, " Dokter, bohongkan. Dokter ini bercanda kan."
Teriakan dan tangisan terdengar begitu jelas semakin membuat Indah tak tega.
Bu Dela duduk di atas lantai, masih dengan tangisanya.
"Bu, kita duduk di kursi yuk. "
Indah berusaha membujuk Bu Dela agar bisa kuat dan sabar menerima kenyataan yang sudah terjadi, walau mungkin sangatlah menyakitkan.
"Tidak Indah, ibu ingin Danu hidup, ibu tidak mau dia mati."
Bagaimana Indah membujuk Bu Dela, ia bingung. Wanita tua itu sangat kehilangan dan ia hanya hidup hanya bersama Danu. Jika tidak ada Danu, hidup sendirian walau dalam gelimangan harta rasanya menyakitkan.
"Danu."
Isak tangis, menyebut nama Danu, membuat hati Indah terasa sakit dan teriris, dia juga belum sempat melihat wajah Danu dan menuruti keinginan Danu.
__ADS_1