Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 114 Tamparan.


__ADS_3

Palkkk ....


Tamparan keras dilayangkan oleh Anna pada pipi kiri sang kakak, Iya hilang kendali karena melihat kakaknya memikirkan orang lain daripada lelaki yang berada di sebelahnya yang tak lain ialah Deni, orang yang sudah sah menjadi suami Indah.


Seharusnya Indah itu lebih dewasa, memikirkan masa depan dirinya sendiri. dan menjadikan masa lalu sebuah pelajaran yang berharga agar tidak terulang kembali.


Indah memegang pipi kirinya yang mungkin terasa sangat sakit, kedua matanya menatap tajam ke arah Anna. Sang adik lupa jika dirinya tak bisa mengontrol emosi di depan orang lain malah menyebabkan rasa malu pada diri Indah.


"Kenapa kamu tega tampar kakak, kakak hanya peduli dengan Mas Danu karena dia sedang sakit dan kakak tidak ada niat untuk balik lagi pada dia. Kakak juga tahu sekarang kakak sudah menjadi istri sah Deni, sebaiknya kamu jangan ikut campur apa yang belum kamu rasakan Ana. "


Indah memarahi sang adik di depan tamu undangan, Galih berdiri di belakang Anna berusaha menenangkan istrinya agar tidak melawan.


Sedangkan Anna menatap ke arah telapak tangan, menyesali perbuatannya yang sudah menyakiti hati Sang Kakak. Pada saat itulah Anna mulai menatap lekat kedua bola mata Indah yang menatap tajam ke arahnya," peduli untuk apa Kakak? Peduli dengan mantan suami kakak! Itu hanya kebodohan kakak saja, aku sudah pernah mengingatkan pada kakak. Kenapa Kakak tidak pernah mendengarkan apa perkataanku, semua ini untuk kebaikan Kakak sendiri, aku tidak mungkin menyakiti kakak dengan alasan yang tidak baik. "


Indah yang memang diselimuti dengan emosi, tak bisa menyerap nasehat yang terlontar dari mulut Anna, walaupun itu demi kebaikannya padahal Anna berusaha mengingatkan untuk masa depan kakaknya sendiri. Agar ia tidak terjerumus lagi akan masa lalu yang menyakiti hatinya.


Melihat keributan itu, sebenarnya Deni malah. Ia merasakan rasa sakit yang berusaha ia tahan, karena Indah mempedulikan Danu dari pada pernikahnya dengan Deni.


Bu Sumyati sebagai seorang ibu hanya bisa menenangkan hati anaknya, yang tengah terluka. "Deni, cepat kamu samperin Indah. Kasihan dia, bagaimanapun dia tetap istri sah kamu. "


"Baik, bu. Deni akan menghampiri Indah. "


Deni mulai berjalan ke arah Indah dan juga Anna. Berusaha menenangkan masalah yang ternyata semakin berlanjut." Anna, aku sudah mengizinkan kakakmu untuk menemui mantan suaminya yang masuk ke rumah sakit, aku tahu aku baru saja menjadi suaminya. Tapi aku juga tidak berhak memaksa dirinya."


Deni terlihat pasrah, saking cintanya dia pada Indah. Membuat dirinya mengizinkan sang istri. Sampai tak memikirkan resiko yang akan terjadi. Di kemudian hari.

__ADS_1


Anna tentu saja kesal dengan sikap lembek Deni, padahal lelaki yang menjadi adik almarhum Daniel saat bertemu begitu tegas. Apalagi mengancam seperti ingin menelan hidup hidup. "Deni, ucapanmu itu malah membuat peluang untuk Danu merebut hati kak Indah. Seharusnya kamu tidak mengizinkan Kak Indah untuk pergi menemui Danu di rumah sakit. Biarkan saja dia mati di sana sekalian."


"Anna, jaga ucapanmu. Jangan sampai kamu membuat Kakak marah. "


Betakan Indah, membuat kedua mata Anna berkaca kaca. Ucapan Anna, seakan selalu salah di mata kakaknya sendiri.


"Kak, memang kenyataannya. Coba kakak buka mata hati kakak sendiri. Kakak itu sudah dikhianati. Sudah disakiti oleh Mas Danu, sekarang kakak malah peduli dengan orang seperti dia."


"Anna, sejahat apapun seseorang manusia, kamu tak berhak menghakimi dia membalas dendam terhadap dia. Seharusnya kamu buang rasa dendammu itu, semakin kamu membalas dendam, balasan itu tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada akan memicu masalah dan masalah lagi. Ayolah Anna, kakak benar-benar tak mau melihat Mas Danu tersiksa seperti dulu. Kakak tersiksa olehnya. "


Anna menundukkan pandangan setelah sang kakak berkata panjang lembar, hingga tanpa di sadari. Panggilan telepon yang memang belum terputus, membuat Bu Dela mendengar semua pertengkaran yang berada di pernikahan Indah, wanita tua itu haya terdiam dengan apa yang dipertengkarkan oleh adik dan kakak yang seharusnya merasakan kebahagiaan.


"Aku mengira mereka tidak akan bertengkar sejauh ini, karena memang aku mengira dari awal, hubungan persodaraan mereka akan baik baik saja. Hanya karena masalah sepele. "


Bu Dela yang tengah menjaga Danu, setelah pemeriksaan di ruang UGD, kini terduduk setelah mendengar penyakit yang diderita anaknya, wanita tua itu menutup panggilan telepon setelah mendengar pertengkaran antara Anna dan juga Indah, ada rasa sesal yang mendera pada hati Bu Dela.


Ketukan pintu terdengar, dari ruang rawat inap Danu.


Bu Dela mempersilahkan tamu untuk masuk, ia hampir mengira. Jika tamu itu adalah Indah mantan istri dari Danu.


sungguh disayangkan saat ia membalikkan wajah ke arah pintu depan ruangan anaknya, sosok wanita bernama Siren datang dengan menggendong anaknya.


"Bu."


Siren mulai menyodorkan tangan kanannya ka arah Bu Dela.

__ADS_1


Akan tetapi Bu Dela yang tak suka, tak mempedulikan tangan yang ingin bersalama denganya.


"Ibu, masih marah kepadaku? " Pertanyaan lembut terlontar dari mulut Siren.


Bu Dela yang memang tak suka dengan Siren dari dulu, tak menampilkan senyuman sebuah senyumana, saat Siren menyapa pun, wanita tua itu yang menjadi ibunda Danu terkesan cuek. Dan tak mempedulikan Siren.


Ia lebih fokus menjaga Danu, menunggunya dengan duduk di kursi yang sudah disediakan.


Sedangkan dengan Siren, berusaha membuat suasana menjadi sedikit tak menegangkan dengan ketidak sukaan mertua kepada Siren.


Siren menampilka senyumannya di hadapan mertuanya, berusaha merubah suasana. karena memang Siran dan dan Danu belum berpisah secara hukum dan pengadilan.


Bu Della melihat sang anak yang tengah d gendong oleh ibunya. Membuat ia sama sekali tak menyukai anak itu sama sekali.


Siren berusaha membahwa anaknya, bertemu dengan Danu. di mana Danu tengah terbaring lemah diranjang tempat tidur.


Bu Dela, yang memang tak suka dengan keadaan Siren dan juga anaknya yang tiba-tiba datang.


membuat dia malas bertanya.


Bu Della melipatkan kedua tangan membalikkan wajah malas Jika bertatapan dengan istri sah Danu, di tengah kerepotan kedatangan Siren, anaknya tiba-tiba menangis membuat Bu Dela dengan lantangnya berucap.


"Sebaiknya kamu keluar saja, tenangi dulu anak kamu, agar tidak mengganggu anakku dan kalau sudah tenang. kamu boleh lagi melihat Danu sebentar.


Ibu berharap Kamu jangan terlalu lama karena ibu takut jika Danu tercuci otaknya oleh kamu."

__ADS_1


Deg ....


Betapa tak sukanya Bu Dela kepada Siren dan juga anaknya. membuat peluang untuk mendapatkan harta warisan Bu Ayu, sangatlah kecil.'


__ADS_2