
Entah bualan omong kosong apa lagi yang terlontar dari mulut Raka, bisa bisanya memanfaatkan wanita cacat seperti Ajeng.
Kenapa Raka begitu tega? Bukanya berubah, malah semakin menjadi-jadi.
Senyuman Raka mampu membuat Ajeng terpana, padahal baru beberapa hari di hina, tapi Ajeng malah menerimanya kembali.
Apa sebegitu besar cinta Ajeng pada Raka? Sampai sampai Ajeng seperti orang bodoh yang dimanfaatkan.
"Kamu mengertikan apa yang aku katakan?"
Kedua orang tua Ajeng kini datang menghampiri Raka, terlihat raut wajah sedih terpacar dari diri Bu Ayu dan juga Pak Aryanto.
"Raka, kamu yang sabar ya. Nak. "
Apa yang dikatakan Bu Ayu membuat Raka merasa heran, sebenarnya apa yang sudah terjadi. Sampai Bu Ayu menangis dan tiba tiba menenangkan Raka begitu saja tanpa sebab yang pasti.
"Kenapa? kalian malah terlihat sedih begitu. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Bu Ayu mulai mengatakan tentang kecelakaan yang menimpa suami Bu Sari pada Raka.
"Sebenarnya bapak kamu."
Raka yang menundukkan wajah, kini menatap ke arah Bu Ayu dengan bertanya lagi?" sebenarnya kenapa dengan bapak saya. Apa terjadi sesuatu pada bapak saya?"
Bu Ayu ragu, ia menatap ke arah wajah suaminya, sampai dimana Pak Aryanto, menganggukkan kepala menyuruh istrinya mengatakan berita tentang kecelakaan yang menimpa ayah Raka.
"Bapak kamu, Raka, mengalami kecelakaan di perjalanan menuju ke kota."
Deg ....
Perasaan Raka hancur seketika, walau Raka tak dekat dengan sang ayah, bagaimana pun ia tetap menyayangi ayahnya.
"Kamu yang sabar ya, Raka. Kami hanya bisa mendoakan kamu, mudah mudahan ayah kamu baik baik saja."
Bu Ayu mencoba menenangkan Raka, agar tidak syok berat mendengar kabar dari tentang kecelakaan ayahnya.
__ADS_1
Lelaki berbadan kekar kini bertanya tentang keberadaan ibunya." Kemana ibu?"
Ibunda Ajeng mulai menjawab perkataan Raka dengan memperlihatkan ketenangan, berusaha tidak panik." Ibu kamu sekarang tengah menyusul ke rumah sakit. Melihat keadaan ayah kamu Raka."
Perasaan Raka, masih tetap hancur saat ini. Kenapa bisa ayahnya datang ke sini? Padahal sudah diingatkan agar diam di kampung.
"Raka, waktu penjengukan sudah selesai. Kami pamit dulu ya."
Raka mencium kening Ajeng terlebih dahulu, dengan memperlihatkan kemesraan dan kasih sayangnya, agar kedua orang tua belah pihak wanita percaya.
Jika Raka terlah berubah, "Sayang, kamu jaga diri baik baik. Ya."
Tangan kekar Raka memegang pipi Ajeng dengan memperlihatkan kepedulian yang hanya omong kosong belakang.
Ajeng yang bodoh karena cinta, hanya menurut dan menganggukkan kepala, memeluk sang istri dengan erat.
"Kamu jangan sedih lagi, mudah mudahan kita bisa bersatu dan menjadi suami istri yang bahagia." Terukir dari kedua ujung bibir Ajeng sebuah senyuman.
Tentunya membuat kedua orang tua Ajeng sangatlah bahagia, apa yang mereka lihat, adalah sebuah rasa bahagia dengan keceriaan Ajeng yang hampir saja hilang.
"Raka, terima kasih sudah mau menerima Ajeng apa adanya. Ibu sangat bahagia, melihat Ajeng yang tersenyum ceria kembali."
Dengan begitu pedenya, Raka menganggukan kepala, seakan ia benar benar orang yang mudah diberi kepercayaan.
"Bu Ayu dan Pak Aryanto tak usah kuatir, jika nanti saya bebas dari dalam penjara. Saya pastikan Ajeng akan bahagia dengan saya."
Waw, kata kata yang begitu sempurna keluar dari mulut Raka. Dimana mulut sang tahanan itu penuh omong kosong dan bualan semata.
Pak Aryanto, menarik kursi roda anaknya. Untuk pergi dari hadapan Raka, mereka seperti puas dengan apa yang dilakukan Raka pada Ajeng, sampai anak wanita satu satunya. Bisa berbicara dengan benar dan juga tak banyak melamun.
********
Melihat kepergian Ajeng dan kedua orang tuanya, Raka hanya bisa tersenyum kecil dan berkata." Akhirnya masuk juga dalam perangkap."
Mengusap kasar dagu, tersenyum lebar. Setelah semua bualan omong kosong begitu sempurna mendarat mengenai sasaran.
__ADS_1
Raka mulai digiring oleh polisi untuk masuk ke dalam penjara. Ia mulai duduk di dekat jeruji besi yang menahannya.
Ada rasa rindu yang membelenggu, yang hampir tertutup ruang sepi. Raka begitu merindukan Anna, ia tak memikirkan lagi nasib sang ayah yang mengalami kecelakaan. Padahal saat di depan kedua orang tua Ajeng, Raka begitu terlihat sedih.
Dan dimana kesedihan itu hanyalah sebuah, taktik palsu untuk di perlihatkan bertapa baiknya Raka yang sekarang.
Raka mengira jika yang diselidiki ibunya adalah Farhan dan juga Galih, agar kuasa hukum dengan gampangnya membebaskan Raka dari dalam penjara. Karena permintaan yang sangat kuat dari sang anak, membujuk ibunya.
Namun nyatanya, Bu Sari malah melibatkan Ajeng, membuat Raka harus berdrama disetiap kebencian yang meraja rela pada diri Raka untuk Ajeng.
Entah sampai kapan, terus menerus berpura pura baik di depan Ajeng, memperlihatkan sisi pribadi yang sering merayu dan memuji sang istri.
Sekarang Raka berusaha besikap tenang, ia sudah merayu Ajeng agar bisa dekat dengan Anna, karena ini salah satu cara memanfaatkan sakit Ajeng untuk meluluhkan hati Anna.
Walau mungkin tak mudah, tapi Raka harus berusaha membuat Ajeng menurut dan melakukan apa yang ia mau.
"Aku harus berusaha keras menekan Ajeng dan setelah berhasil, pastinya Ajeng bisa marayu Anna untuk membebaskanku."
Raka tertawa dalam kemenangannya, ia banyak berharap dengan rencananya sendiri, bahwa semua akan berhasil.
Karena ada niat setelah keluar dari dalam penjara, Raka ingin membuat Anna jatuh lagi kepelukannya. Ia ingin menyelidiki Galih, apa ada hubungannya Galih dengan kecelakaan yang terjadi di masa lalu.
Jika pun ada pastinya, Raka akan menggiring paska Galih agar membekam di penjara, seperti apa yang terjadi dengan Raka sendiri.
"Anna, lihat saja nanti. Aku pastikan kamu tidak akan bahagia. Asal kamu tahu aku sangat mencintaimu. Tapi cintaku malah terhalang oleh sosok lelaki yang menikahi kamu."
Raka hanya bisa mengerutu kesal dalam hatinya, ia mengacak rambut merasakan rasa sesak menjalar sampai ke ubun ubun.
"Siap siap saja. Kalau nanti berhasil, tentunya aku akan mengatakan pada dunia bahwa hidup ini adil. "
Raka tertawa terbahak bahak, tanpa ia sadari. Sampai seorang polisi mengecek Raka karena berisik menganggu ketenangan jiwa para tahanan.
Polisi itu kini memukul jeruji besi beberapa kali hanya untuk menyuruh Raka diam.
"Berisik, cepat tutup mulut kamu. Jangan sampai mengganggu semua tahanan di dalam penjara ini. kalau kamu masih tertawa dengan begitu kencang, saya pastikan membawa kamu ke rumah sakit jiwa saat ini juga."
__ADS_1
Mendengar yang dikatakan polisi yang telah membuat Raka pada akhirnya diam dan berusaha menahan tawa bahagianya karena drama berhasil di jalanakan. Di dalam penjara Raka hanya bisa menurut saja.