Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab143 Menegangkan.


__ADS_3

Indah hanya diam setelah bentakan itu dilontarkan oleh Galih, ia mulai duduk kembali. Membuang wajah ke arah samping. Hatinya seakan dipenuhi bara api, kesal, sedih bercampur mejadi satu. Gemuruh dada berusaha dikendalikan seadanya, tak bisa melawan karena ada Farhan di dekatnya.


Deni yang tak bisa apa-apa, duduk dan mendekat pada istrinya. " Aku tahu kamu ini kesalkan, terlebih lagi setelah di salahkan oleh Bu Dela. Perasaan kamu pastinya serba salah. Sedih, marah, kecewa. Dan kamu meluapkan semuanya pada Galih. Ayolah Indah, bersikap dewasa, kamu bukan anak kecil lagi. Aku tahu semua berat kamu rasakan." Deni memegang tangan Indah dengan erat. Menyakinkan semua akan baik baik saja.


Indah sangatlah beruntung mendapatkan Deni, ia mengerti tentang kegundahan hatinya. Terlebih lagi, setelah Danu meninggal dunia, hidupnya seakan tak menentu.


"Setelah Dokter mengizinkan kita masuk menemui Anna, aku akan mengantarkan kamu ke pemakaman Danu."


Perlahan ucapan lembut itu mampu membuat kepala yang menunduk kini menatap ke arah Deni, tatapan sejajar mampu membuat lekukan senyum terpancar pada kedua insan yang baru saja menikah dua hari yang lalu.


Menarik napas, Indah perlahan mulai tenang dari kegundahan dan kegelisahan yang menyerang dirinya perlahan demi perlahan.


Memegang pipi mulus sang istri dengan membelainya lembut," kamu jangan sedih lagi, buang semua amarah dan kekecewaanmu itu. Semua hanya akan membuat kamu lelah, Sayang."


Tangan kekar yang masih menempel pada pipi Indah, membuat ia menganggukan kepala. Berterima kasih karena sudah membuat hatinya tenang dan nyaman.


Menyenderkan kepala pada bahu sang suami, Indah merasa hatinya semakin lebih tenang.


Umur Indah dan Deni sangatlah jauh berbeda. Tapi pola pikiran mereka berbading balik. Berapa umur seseorang tak akan menjamin kedewasaan cara mereka berpikir.


Galih, hanya bisa menunggu Anna di keluarkan dari ruang UGD untuk segera di alihkan ke ruang oprasi, untuk saja penanganannya lebih cepat tidak ribet.


Farhan mendekat ke arah sang papah dengan bertanya." Apa semua ini ulah papah, mamah jadi masuk ke rumah sakit dan harus di oprasi?"


Lelaki berbadan kekar yang kini menjadi sosok seorang papah, masih merasakan cemas. Kini diberikan sebuah pertanyaan yang membuat jiwanya kesal.


"Kenapa kamu jadi bertanya seperti itu pada papah? Kamu menyalahkan papah, Farhan?"


Galih terlihat marah dan kesal dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut anak kandungnya sendiri, ia berusaha bertanya kembali dengan nada sedikit meninggi.


"Kenapa papah marah, kan Farhan tanya dengan baik baik!" Jawaban Farhan membuat Galih mengusap kasar wajahnya. Padahal dari tadi Farhan tidak banyak bertanya tapi setelah ia tinggalkan, anaknya itu jadi berubah.

__ADS_1


"Apa Tante Indah yang mengatakan semua itu?" Galih bertanya dengan melihat Indah duduk jauh dari hadapanya, hanya 10 langkah saja. Dan kemungkinan percakapan mereka tak akan terdengar.


"Mm, menurut papah!"


Galih yang tak mau membuang buang energi untuk mengeluarkan kemarahan, kini berusaha berucap dengan sedikit membuat anaknya diam dan tak banyak bertanya.


"Farhan, kamu hanya anak kecil dan tak tahu apa-apa. Jadi stoplah bertanya tentang siapa yang sudah membuat mamah kamu masuk ke rumah sakit. Stoplah buat bertanya di saat papah tengah merasakan kegelisahan tentang ke adaan mamah kamu, oke."


Tak salah lagi Galih sudah curiga dengan biang kerok yang sudah membuat Farhan berubah derastis.


"Papah, Farhan ini sudah memasuki usia remaja dan bukan anak kecil lagi.'


Galih menarik napasnya kasar, ia membuat sebuah candaan di depan anaknya. Tak ingin masalah yang terjadi sampai mengganggu mental Farhan yang masih menginjak usia remaja, diusia remaja Farhan, ia tak pantas harus tahu menahu dengan masalah kedua orang tuanya.


Mencubit pipi Farhan dan berkata," Farhan, kamu ini masih anak kecil, Papah."


Mendapatkan cubitan dari Galih, membuat Farhan mendengus kesal, bagaimana bisa seorang ayah mecubit pipi anaknya yang sudah remaja. Itu sangat memalukkan jika dilihat orang.


Galih berusaha tersenyum melupakan kepenatan dan juga kekuatiran akan oprasi yang sebentar lagi berjalan.


Suara pintu di buka, dimana wanita berbulu mata lentik itu terbaring di atas ranjang tempat tidur, untuk segera dibawa ke ruang oprasi.


"Anna."


Galih berdiri melihat istrinya yang akan pergi ke ruang oprasi, hatinya remuk. Andai saja ia tidak berkata jujur, mungkin semua itu tak akan terjadi. Anna tidak akan mengalami oprasi.


Farhan yang ikut melihat sang mamah, merasa tak tega, padahal tadi pagi wanita yang menjadi ibunya itu baik-baik saja.


Tapi sekarang. "Mamah."


Galih berusaha menahan Farhan agar tidak mendekat ke arah Anna, "Pah, lepasin. Farhan mau bicara dengan mamah."

__ADS_1


"Farhan, mama kamu mau di oprasi, jadi stop. Jangan dekat dengan mama kamu dulu, ya."


Medengar ucapan yang dilontarkan Galih, pada akhinya Farhan menurut, walau sebenarnya ia ingin sekali memeluk sang mamah yang tak membuka kedua matanya itu.


Anna dibawa ke ruangan oprasi, dimana Indah dan lainnya mengikuti suster. Galih yang menyusul dari belakang, kini di tahan oleh Indah.


"Kalau terjadi apa apa dengan adikku, aku tidak akan membiarkan kamu hidup tenang, Galih. Kamu harus menderita." Telunjuk tangan menujuk pada wajah Galih, melayangkan sebuah acaman.


Galih berusaha tenang dan percaya, jika istrinya itu akan sembuh seperti sidiakala.


"Aku yakin istirku akan sembuh, jadi kamu tak usah kuatir Indah."


Bisikan dengan debatan terus dilayangkan mereka berdua, seakan tak puasnya Indah menyalahkan Galih terus menerus.


Indah berjalan setelah membalas ucapan Galih, menuju Deni, ia tak mau jika suaminya tahu. Bahwa Indah mengacam Galih dan masih ikut campur.


Galih masih berdiri di tempat dimana, Indah mengancamnya, ia seakan enggan bergerak, karena tatapan sengit Indah, wanita yang menjadi sahabatnya dan kini menjadi kakak Ipar.


Suster datang keluar ruangan oprasi dan memanggil nama Galih. Dimana lamunan lelaki itu membuyar.


Mendekat ke arah suster dengan percakapan serius, dimana tak ada yang mendengar akan percakapan yang terdengar begitu pelan


Indah tentu saja penasaran, ia kesal pada dokter dan juga suster, kenapa bukan Indah saja yang tahu akan semua penyakit yang di derita Anna dan kenapa tidak meminta izin pada Indah, kenapa harus pada Galih suaminya.


Padahal Indah juga adalah keluarga Anna.


Farhan hanya bisa berdoa dan memohon agar sang mamah baik baik saja, hatinya gelisah. Karena semua ini begitu mendadak baginya.


Suster mulai masuk ke dalam ruangan oprasi, sedangkan Galih mendekat ke arah Farhan, menenangkan rasa takut Farhan akan sang mamah yang tengah menjalani oprasi.


"Pah, apa kata suster? Apa mamah baik baik saja? "Pertanyaan dilayangkan Farhan pada Galih.

__ADS_1


Apa yang harus Galih jawab.


__ADS_2