
Bu Sari mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur, pikirannya terasa tak menentu, sesekali ia memijat kepalanya.
" Sepertinya aku harus memakan obat, tumben sekali kepalaku ini sakit."
Perlahan Bu Sari turun dari ranjang tempat tidur, ia memegang tembok untuk membantunya berdiri dan berjalan ke luar kamar.
"Dimana ya, obat itu?"
Melihat kesekitar ruangan terlihat mulai tak jelas, Bu Sari merasa kesakitan dengan kepalanya yang berdenyut. Wanita tua itu terus meraba-raba dinding agar kedua kakinya seimbang untuk berjalan.
Obat yang ia cari akhinya ketemu juga, Bu Sari begitu senang, dengan perlahan membawa obat yang akan ia minum.
Duduk dengan tangan meraba ke arah meja mencari sebuah gelas.
Rasa pusing pada kepala wanita tua itu terasa semakin sakit, membuat Bu Sari tak bisa menahannya lagi.
Gelas yang kurang terlihat oleh kedua matanya, akhirnya teraba juga. Bu Sari perlahan memegang gelas-gelas yang baru saja ia ambil, menuangkan air yang berada di teko pada gelas itu.
Terlihat air minum berceceran ke mana-mana, Bu Sari dengan sekuat tenaga meminum obat yang ia pegang bersamaan dengan air yang baru ia tuangkan.
Wanita tua itu kini kembali berjalan, setelah me minum obat yang biasa ia konsumsi saat sakit kepalanya kambuh. kepalanya kini terasa mendingan, Iya perlahan berjalan untuk segera masuk ke dalam kamar.
Duduk dan kembali lagi menangis, ia kini sendirian di dalam kontrakan, tidak ada orang yang menemaninya hanya kesepian malam dan rasa sakit kepala yang ia rasakan.
Menatap ke arah jam, ternyata sudah pukul 02.00 malam. Bu Sari biasanya sudah tidur. Iya tak pernah tidur di jam larut tengah malam, hanya kali ini saja saat dirinya merasakan rasa sakit kepala karena memikirkan Raka.
Biasanya ketika ia sakit selalu ada Anna yang begitu perhatian kepadanya. Dia menyayangkan seorang menantu yang begitu baik kepadanya, karena keegoisan, membuat Anna kini sudah bukan menjadi bagian keluarganya lagi.
Malam ini begitu menjadikan malam tangisan untuk Bu Sari yang merasakan penyesalan yang baru saja datang.
Mengusap pelan air mata secara perlahan, Bu Sari kini merebahkan tubuhnya kembali untuk segera tidur, karena besok waktunya wanita tua itu menemui Ajeng di rumah sakit.
Mungkin dengan menemui Ajeng, wanita itu bisa menyelamatkan anaknya Raka di dalam penjera.
*********
Lelaki tua yang menjadi suami Bu Sari, tak bisa tidur semalaman, ia memikirkan sang istri yang tiba tiba saja menangis.
Hatinya sudah tak sabar ingin menemui Bu Sari, takut jika terjadi apa apa dengan wanita itu, hati seorang suami mana yang tega melihat istrinya menangis.
Pagi Hari bergegas untuk segera datang ke kota, menjemput istri tercinta, hati lelaki tua itu rapuh.
"Bu Semoga ibu baik-baik saja."
__ADS_1
Hanya doa yang dipanjatkan untuk sang istri.
********
Sosok wanita bernama Bu Sari akhirnya bangun dari tidurnya, melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Ia bergegas untuk segera mandi dan pergi menemui Ajeng di rumah sakit.
Karena ini adalah jalan satu satunya, untuk bisa membebaskan Raka di dalam penjara, kalau pun tidak bisa mungkin, semua adalah takdir tuhan untuk Raka, yang harus membekam di dalam penjara.
Yang terpenting Bu Sari sudah berusaha, untuk mendekatkan dirinya pada Farhan sudah tak ada harapan, kemarin saja saat acaman dilayangkan. Anak remaja itu malah diam, berbagai cara. Memperlihatkan kesedihan pun percuma.
Beres mandi, suara telepon berbunyi. Ternyata dari suaminya sendiri.
"Halo, pak. Ada apa?"
"Bu, bapak lagi di dalam perjalanan menuju kota!"
"Mau apa bapak datang ke sini?"
Betapa terkejutnya Bu Sari mendengar sang suami yang akan datang ke kota, menjemput dirinya.
"Bapak mau jemput kamu pulang, bapak nggak tega kamu di perbudak anak sendiri!"
Bu Sari ingat kejadian malam, saat dirinya menangis kepada sang suami.
"Bu."
"Bu."
Wanita tua itu bergegas untuk pergi ke rumah sakit, tak peduli dengan kedatangan suaminya.
"Bapak ini, kenapa juga pake acara kesini, sudah tahu ibu nggak mau pulang. Semalamkan hanya ingin meluapkan kekesalan saja." Gerutu hati Bu Sari.
Ia pergi dengan manaiki taksi, uang yang ia punya cukup lumayan banyak, karena Anna dan Farhan tak tanggung tanggung memberikan uanga kepada Bu Sari dengan nominal yang sangat banyak.
*********
Di dalam mobil bus yang mengantarkan ayah Raka menuju ke kota, membuat lelaki tua itu tak bersemangat. Karena ucapan sang istri yang memang selalu seperti itu.
Padahal betapa pedulinya lelaki tua itu kepada sang istri. Tapi kepeduliannya dianggap tak berarti.
Lamunan tiba tiba membuyar, bus yang ia tumpangi malah tak terkendali. Mengakibatkan para penumpang di bus panik.
"Ada apa ini."
__ADS_1
Jalanan seakan menyeramkan, bus semakin tak bisa di rem. Ayah Raka yang berada di dalam mobil hanya bisa berdoa dalam meminta keselamatan.
Hingga Brakkkkk .....
Ponsel jadul yang di pake Bu Sari tiba tiba jatuh mengenai kakinya, membuat wanita tua itu meringis kesakitan. Ia teringat dengan sang suami.
"Ada apa ya, kok. Perasaan jadi tak enak begini."
Mengusap pelan dada yang merasa tak karuan, Bu Sari berusaha menepis, bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi pada suaminya.
Karena rasa penasaran, pada akhinya Bu Sari menelepon ponsel suaminya. Memastikan tidak ada yang terjadi dengan lelaki tua itu.
Ponsel tak akitip. Tentu saja membuat Bu Sari sedikit tak tenang.
"Ada apa ya. Apa ponsel bapak mati."
Menggengam erat ponsel jadul itu, suara sang sopir mengagetkan lamunan Bu Sari yang memikirkan sang suami.
"Bu,"
"Bu."
Sopir itu menatap ke arah belakang, memanggil Bu Sari yang tak kunjung membalas panggilanya.
Hingga sopit itu memegang tangan Bu Sari.
"Bu."
"Eh, iya pak?"
"Sudah sampai, dari tadi ibu saya panggil nggak nyahut nyahut!"
"Maaf pak."
Bu Sari mulai tas mengambil uang untuk membayar ongkos taksi.
"Ini, pak."
Wanita tua itu kini turun di tempat tujuan, di mana Raka menunjukkan bahwa Ajeng berada di rumah sakit yang kini ia datangi. Perasaannya bercampur aduk ada rasa malu menghampiri Ajeng yang pernah ia hina, dan juga pernah ya Sakiti.
Namun dari semua yang ia perbuat dulu, membuat ia sangatlah membutuhkan Ajeng untuk bisa membebaskan Raka dari dalam penjara, agar Bu Sari bisa tenang dari anaknya yang selalu memerintahnya dengan seenaknya.
" Mudah-mudahan saja Ajeng mau menuruti apa perkataanku, karena tak ada cara lain lagi selain meminta kepada wanita cacat itu." Ucap Bu sari.
__ADS_1