
Radit yang sudah dipaksa masuk ke dalam mobil, membuat Farhan terburu-buru langsung menyalahkan mesin mobil, dia bergegas pergi menuju ke rumah sakit.
Anak berumur sebelas tahun itu, mengerutkan bibirnya, duduk menyandar pada kursi, melihat ke arah depan mobil. Farhan menyadari jika adiknya terlihat tidak mood, saat ia bawa menaiki mobil menuju rumah sakit.
"Kita mau ke mana?" tanya Radit, dengan nada terlihat tak suka.
Farhan hanya tersenyum kecil dan fokus kembali mengendarai mobil, dia menatap pada kaca mobil yang bergantung, melihat wajah cemberut adiknya itu.
"Kamu ini kenapa, kesal terus sama mama. Coba bilang pada kak Farhan?" Bukannya jawaban yang didengar oleh Radit, Farhan malah melayangkan sebuah pertanyaan.
Radit berusaha tak memperdulikan perkataan sang kakak, ya malas menjawab pertanyaan yang tak seharusnya ia jawab.
"Radit kenapa kamu malah diam saja, kakak kan tanya sama kamu, " ucap Farhan berkata dengan begitu lembut, berharap jika adiknya mau mengatakan semua isi hatinya tentang kebencian yang ia rasakan kepada Anna, mamanya sendiri.
"Ngapain kakak tanya begitu, dari dulu kan kakak tidak pernah peduli terhadap Radit dan Lulu, " balas Radit, membuat Farhan berusaha berpikir dengan perkataan adiknya itu.
"Tak peduli apa maksud kamu, Radit?" tanya Farhan kembali.
"Sudahlah tak usah pura pura, mama lebih sayang Kakak daripada Lulu dan juga Radit!" jawab Radit, benar benar membuat Farhan tak mengerti.
"Sepertinya kamu salah paham, Mama itu sayang kita bertiga, hanya saja mama jarang mengungkapkan kasih sayang itu kepada kita, karena ia terlalu sibuk mengurus pekerjaannya," ucap Farhan menjelaskan semuanya, jika sang adik langsung mengerti apa yang dikatakan Farhan saat itu juga.
"Alah, sibuk kerja apa? Hanya mengurus restoran? Bukannya di restoran sudah banyak pelayan, jadi tak usah lah Mama bersusah payah dan capek-capek mengurus restoran yang banyak pelayannya," balas Radit, pola pikir anak itu benar-benar kekanakan sekali. Mungkin pengaruh umurnya yang masih kecil, dapat dipengaruhi oleh orang lain.
"Radit, Radit. Kamu ini kalau ngomong asal tebak saja, walau pun banyak pelayan tetap saja mama sibuk mengurus gaji dan restoran agar berkembang, kamu tahu sendirikan. Betapa begitu banyaknya perjuangan Mama untuk kita, dari ayah Raka yang tak pernah peduli, kamu Ingatkan semua itu. Mama itu tak pernah membeda-bedakan kasih sayang, kepada kita bertiga. Hanya kita saja yang terlalu serakah ingin selalu dimanjakan dan diberi pengertian oleh Mama, yang di mana Mama begitu banyak kesibukan untuk kita sendiri, tanpa melakukan kesenagan untuk dirinya sendiri."
Farhan berharap jika adiknya mengerti dengan penjelasan yang ia lontarkan.
__ADS_1
Radit hanya diam saja setelah mendengar penjelasan dari sang kakak, melipatkan kedua tangan tetap pada posisi duduknya, melihat ke arah jendela pemandangan luar yang sungguh menyejukkan.
Farhan yang sudah menjelaskan, tak dianggap seperti angin berlalu. Tidak ada respon sama sekali dari sang adik, padahal Farhan berharap sekali jika adik pertamanya itu mengerti, tidak terus-menerus menyalahkan sang mama.
Sampai di rumah sakit, Radit tak mengerti kenapa kakaknya membawa dia ke rumah sakit. Padahal tadi tidak sakit sama sekali," kenapa kita ke sini?"
Farhan dengan sengajanya mengerjai sang adik," karena kamu tidak mau menurut, terpaksa Kakak bawa kamu ke rumah sakit."
"Apa?"
Radit terlihat ketakutan, ia mencoba tetap duduk di dalam mobil. Tidak mau turun sama sekali, karena takut dengan jarum suntik.
Farhan yang sudah turun, mulai membukakan pintu mobil. Terlihat anak berumur 11 tahun itu merungkut ketakutan, menutup wajah untuk tidak melihat depan rumah sakit.
Farhan yang melihat tingkah adiknya, ingin sekali tertawa saat itu juga.
Mendengar nama jarum suntik lagi, semakin membuat Radit ketakutan sekali. Mana mungkin bisa ia menahan setiap suntikan menyakitkan itu, rasanya sungguh mengerikan.
"Ayo, Radit."
"Nggak, aku nggak mau, "
"Ya sudah kalau nggak mau, kakak paksa kamu. Mau."
"Nggakk .... "
Radit berteriak, membuat orang orang yang berada di rumah sakit itu, menatap kearahnya.
__ADS_1
Kedua pipi Farhan dan Radit memerah, sepertinya mereka malu.
"Ayo, cepat. Mau kakak panggilkan dokter." Kini Farhan memaksa adiknya dengan nada pelan, walau hanya gunyonan. Tapi membuat Radit benar benar ketakutan setengah mati.
"Mau atau tidak?" tanya kembali Farhan." Kalau kamu tetap saja tak menurut kakak pastikan akan memaksa dan menyuruh dokter datang ke sini."
Karena acaman sang kakak yang terlihat begitu serius, pada akhirnya Radit keluar dari dalam mobil. Ia mau ikut masuk ke dalam rumah sakit, walau Ia juga tak yakin apa yang akan dilakukan sang kakak.
Radit mulai berpikir keras," Sejak kapan ada suntikan untuk orang yang tidak mau menurut, benar-benar tidak masuk akal."
Farhan melihat sang adik terus saja berpikir dengan apa yang ia katakan, membuat Farhan ingin sekali tertawa saat itu juga, ya sudah tak sanggup menahan rasa tawanya.
Setelah sampai, Radit berjaga-jaga, ia takut jika nanti ada dokter datang membawa jarum suntik untuknya, maka ia berusaha untuk menghindar dan lari secepat mungkin. Tak ingin mendapatkan jarum suntik yang menyakitkan itu.
Farhan membuka ruangan Ainun, terlihat Radit yang bersembunyi di balik punggung kakaknya, kini menatap sosok seorang wanita yang begitu cantik memakai hijab berwarna putih terbaring. tak sadarkan diri, banyak alat yang menempel pada tubuh wanita itu.
Seperti sosok seorang putri tidur yang menunggu pangeran datang untuk menciumnya, aura Ainun begitu terpancar memperlihatkan betapa cantiknya dia.
" Bukanya itu Ibu Ainun?" Radit baru menyadari sosok wanita yang terbaring lemah tak sadarkan diri itu, Iya ingat dengan Ainun karena wanita itu pernah tinggal di rumahnya.
"Ya, sebenarnya kakak berbohong ingin menyuntik kamu, kakak membawa kamu ke sini hanya ingin memperlihatkan Ibu Ainun!" Balas Farhan membuat Radit sedikit merasa aneh.
"Lah, memangnya dia siapa Kak Farhan, sampai bela-belain mau datang ke sini?" tanya Radit yang belum tahu apa-apa masalah orang tua Farhan yang sebenarnya.
"Kakak belum menceritakan semuanya kepada kamu, asal kamu tahu ibu Ainun itu adalah ibu kandung Kak Farhan," ucapan Farhan kepada sang adik, di mana Radit membulatkan kedua matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan sang kakak.
"Maksud kakak?" tanya Radit.
__ADS_1
"Kakak ini hanya anak angkat Mamah Anna, kalian berdua bukan adik kandung kakak!" balas Farhan, Radit hanya bisa mengerutkan dahinya, perkataan sang kakak sangatlah rumit untuk ia pikirkan.