Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 275


__ADS_3

Bu Ita pergi dari hadapan para ibu ibu, ia berpamitan setelah menjelaskan semuanya. Ada rasa tak tenang dalam hati wanita bernama Ita itu, ia ketakutan dan berniat pergi dari kampung yang sudah ia tinggali selama empat puluh tahun lamanya.


"Aku harus pergi dari sini, jika tidak. Para ibu ibu pasti akan melaporkanku pada polisi, ini benar-benar tidak bisa dibiarkan."


Wanita itu kini mempercepat langkah kakinya, untuk segera sampai di dalam rumah. Saat itu Bu Ita dikagetkan dengan para polisi yang menunggunya di halaman rumah.


"Polisi? Kenapa bisa ada polisi sih? Apa Bu Suci melaporkanku?"


Rasa takut terus mengelilingi hati Bu Ita, ia tak tahu harus kabur ke mana lagi, kena harta bendanya ada di dalam rumah. Jika ia tidak membawa harta benda sedikitpun, bagaimana dengan nasibnya nanti, kemungkinan akan menjadi seorang pengemis.


"Kalau aku ke sana pasti polisi akan mencurigaiku saat itu juga, aduh aku harus bagaimana nih."


Bu Ita bersembunyi di balik semak-semak.


"Aku harus kabur." Wanita itu berlari menjauh dari semak-semak, hingga dimana ia tersungkur jatuh, sampai polisi mendekat.


"Itu dia. "


Bu Ita tanpa terkejut ia dengan terburu-buru bangkit, berlari untuk menjauhi polisi, " jangan kejar aku, aku nggak bersalah. "


Langkah kaki Bu Ita makin melemah, lihat tak sanggup lagi berlari, hingga akhirnya polisi mampu menangkapnya.


"Lepaskan aku. Aku tidak bersalah."


"Anda tenang dulu, biar kita jelaskan di kantor polisi. " Para polisi pada akhirnya menyeret paksa wanita itu untuk masuk ke dalam mobil.


"Tolong saya. Saya tidak mau masuk ke dalam penjara." Bu Ita meronta-ronta dari genggaman para polisi, para ibu ibu yang melihat semua itu tanpa ketakutan mereka juga menyesali perbuatan mereka yang dulu pernah ikut serta membakar ibunda Nita dan juga ayahnya.


Para polisi menatap ke arah Polisi, dimana tatapan balik polisi sangatlah menyeramkan.

__ADS_1


Para ibu ibu tak mau ikut campur dalam masalah Bu Suci lagi, mereka bergegas pulang ke rumah masing-masing.


Walau dalam hati mereka diselimuti rasa tak nyaman, bayang-bayang akan teriakan Siti di masa lalu kini terbayang oleh para ibu-ibu yang ikut serta dalam fitnahan Bu Suci.


Tak tenang rasanya, apalagi Bu Sarah yang bolak-balik ke sana ke mari di dalam rumah.


Hingga suami dan anaknya tanpak heran.


"Loh, kenapa bu?" tanya seorang lelaki tua yang menjadi suami Bu Sarah.


Mengacak rambut, membayangkan betapa frustasinya Bu Sarah saat itu.


"Pak, aku takut loh, masuk ke dalam penjara!" jawab Bu Sarah kepada suaminya, dengan raut wajah dan rasa takut menjelma di setiap bayangan kepalanya.


"Masuk penjara, lah. Emang ibu sudah melakukan kejahatan apa sampai berpikir takut dimasukan ke dalam penjara?" tanya sosok lelaki tua yang duduk di atas kursi sembari menyandarkan tubuhnya.


"Ish, bapak nggak ngerti sih. Asal bapak tahu ya, Bu Suci dan Bu Ita sekarang dimasukkan ke dalam penjara, karena kejahatan mereka kepada Nita!" jawab Bu Sarah, lelaki tua itu tak tahu apa-apa sampai ia terlihat kebingungan. Dengan cerita yang keluar dari mulut istrinya.


Bu Sarah mengacak rambutnya dengan kasar, kesal dengan sang suami yang tak mengerti mengerti, topik pembicaraan tak nyambung bersama suaminya.


"Haduh bapak ini sih kurang updet jadi begitu kagak ngerti ngerti, sudah ibu jelaskan juga, makanya gaul dong pak," pekik sang istri. Memperlihatkan rasa kesal semakin menggebu.


"Ya habisnya di kampung ini rusuh sih," ungkap sang suami yang emang jarang berkumpul dengan orang-orang di kampung.


"Ahk, Sudahlah pak. Ibu capek sebaiknya Ibu menghampiri ibu-ibu di kampung ini, untuk meminta maaf kepada Nita," balas Bu Sarah, pergi begitu saja meninggalkan suaminya sendirian.


Lelaki tua itu kini menikmati kopi hangat dan juga rokok yang terus ia hisap. Tak selalu memperdulikan omongan dan gosip belakang di kampung halamannya.


Bu Sarah mulai mengganti pakaiannya, untuk bergegas mencari para ibu-ibu, wanita tua itu berniat untuk melihat keadaan Nita, seraya meminta maaf atas kesalahan mereka di masa lalu hingga sekarang.

__ADS_1


Saat Bu Suci keluar dari rumahnya, Kebetulan sekali para ibu-ibu ternyata ikut serta keluar dari dalam rumah. Merekan mempunyai perasaan yang sama seperti Bu Sarah, ketakutan dan juga tak ingin masuk ke dalam penjara seperti Bu Ita yang mereka lihat tadi.


"Loh, kalian juga merasakan hal yang sama seperti saya rasakan."


"Iya Bu Sari, kita ini takut kalau masuk ke dalam penjara, gimana nanti nasib keluarga kita. Kalau kita masuk ke dalam penjara."


"Ya sudah, kita naik ke angkutan umum saja sama-sama, untuk melihat keadaan Nita."


"Ya sudah ayo."


Para ibu ibu rombongan menaiki angkutan umum untuk menengok Nita yang masih berada di rumah sakit, tak lupa mereka membawa sebuah makanan dan buah-buahan untuk Nita.


Perasaan mereka benar-benar kacau saat itu," Bu ibu, setelah sampai di rumah sakit, dan melihat keadaan Nita. Kita harus mengakui perbuatan kita masing-masing dan meminta maaf kepadanya ya."


Para ibu ibu menanggukan kepala mengerti dengan apa yang dikatakan Bu Sarah. Rasa tak sabar menyelimuti hati para ibu-ibu, mereka berharap jika keadaan Nita sekarang membaik. Di mana para ibu-ibu melihat Nita terluka parah.


Hanya setengah jam mereka menempuh perjalanan menuju rumah sakit, tempat di mana Nita dirawat.


Perasaan bercampur aduk, antara takut dan tak berani menghadapi Nita, terlalu banyak dosa yang mereka lakukan kepada gadis yatim piatu itu. Apalagi pada kedua orang tua Nita yang terbunuh oleh mereka semua.


Setelah sampai, para ibu-ibu langsung menanyakan ruangan Nita dirawat, hingga para suster mengantarkan mereka semua, para ibu-ibu terlihat tak sabar ingin sekali bertemu dengan Nita.


Namun saat mereka melangkahkan kaki masuk ke ruangan Ita, Bu Nira tiba-tiba menghentikan langkah kaki para ibu-ibu, melipatkan kedua tangan dan bertanya," mau apa kalian ke sini?"


Bu Nira berusaha menjadi sosok pelindung untuk Nita, agar gadis yang dicintai anaknya tidak menderita lagi. Bu Nira sangat ketakutan sekali, "Bu Nira, kami ke sini hanya ingin bertemu Nita, apa boleh kami melihat keadaan kita sekarang?"


"Tidak bisa!" Jawaban Bu Nira begitu tegas di hadapan para ibu-ibu, membuat mereka Langsung mengerutkan dahi.


"Loh kenapa?" tanya para ibu ibu, merasa aneh dengan sikap Bu Nira yang sangatlah berbeda dari biasanya.

__ADS_1


"Saya bilang tidak boleh!" tegas Bu Nira


__ADS_2