
"Maaf nyonya apa ada wanita bernama Intan membawa seorang anak berumur tiga tahun ke sini?" pertanyaan Nita, membuat sang Nyonya hanya terdiam.
Sedangkan Bu Suci menimpal perkataan Nita," sudahlah, kamu mengaku saja. Jangan menyalahkan Nyonya Marimar, ini semua pasti rencana jahat kamu ya."
Deg ....
Bu Suci kembali memfitnah Nita, dimana ia melawan, " jaga bicara anda Bu Suci, saya tidak melakukan hal itu, justru saya datang ke sini hanya menanyakan kepada Nyonya Marimar tentang keberadaan Intan dan juga Lulu. Apakah mereka sempat datang ke sini?"
Marimar berusaha bersikap santai, ia tak mau jika polisi mencurigai dirinya, melipatkan kedua tangan dan bertanya?" Intan, Lulu? Siapa mereka?".
Petanyaan Marimar, tentu membuat Nita terkejut, padahal Ia sudah mencari informasi kepada Pak Kosim, jika intan dan juga Lulu datang ke rumah Marimar.
Tapi pada kenyataannya Marimar tidak tahu tentang Intan dan juga Lulu, Nita curiga jika wanita bertubuh ramping baju seksi itu berpura-pura tidak tahu.
"Nyonya Marimar saya tahu, anda berbohongkan?" tanya Nita dengan lancangnya.
Sedangkan Bu Suci yang berada di sana, berusaha membela Marimar daripada keponakannya sendiri.
"Nita, kamu jangan asal menuduh orang. Bukannya, kamu sendiri yang berbuat jahat, menyembunyikan Intan dan Lulu di rumah kamu."
Nita langsung menatap ke arah Bu Suci dengan tatapan penuh kekesalan, wanita tua itu dari dulu tak pernah berubah. Ia selalu membuat Nita kalah dan tak bisa membela diri.
"Bu Sari itu tidak tahu apa apa, jangan asal nyerobot omongan orang." Hardik Nita memberanikan diri melawan sang tante.
Satpam penjaga gerbang kini menghampiri sang nyonya, ia menatap ke arah Nita dan juga Saiful," loh kalian kenapa masih ada di sini?"
Ini kesempatan Marimar untuk membela diri," maksud pak satpam mereka dari tadi ada di sini?"
Satpam penjaga rumah menganggukan kepala dan menjawab." ia mereka dari tadi di sini, ingin bertemu dengan Nyonya, tapi saya sudah memberitahu mereka bahwa Nyonya sedang pergi ke luar kota. Tapi mereka tetap ngeyel ingin menemui nyonya."
"Kamu dengar sendiri kan, Nira. Apa kata satpam saya, jadi saya sudah katakan sama kamu. saya ini tidak mengenal yang namanya Intan dan juga Lulu."
Marimar bergegas berjalan meninggalkan Nita yang butuh penjelasan, wanita berbadan ramping dengan tubuh seksinya masuk ke dalam gerbang.
__ADS_1
Ia berhasil lolos dari kejaran polisi, dan pastinya ia sudah senang dan bahagia menerima uang dua kali lipat yang diberikan kedua suami istri yang mengadopsi Lulu.
Nita tak ingin berputus asa, Iya terus berteriak memanggil Marimar, sampai Bu Suci terus ikut campur, wanita tua itu menarik tangan keponakannya untuk masuk ke dalam mobil polisi.
Karena kemungkinan besar mereka akan memberikan kejelasan tentang hilangnya intan dan juga Lulu.
"Tante ini apa apaan sih."
Nita mengepaskan tangan kanan hantunya sendiri, membuat sang tante dengan tanpa berpikir panjang.
Menampar Nita.
Plakkk ....
"Tante ini kenapa, malah tanpar aku. "
"Ini untuk anak kecil seperti kamu yang tak tahu diri."
Sedangkan Saiful tak bisa berbuat apa apa lagi, ia hanya bisa mengikuti polisi yang membawa Nita dan juga Bu Suci.
Baru saja ingin mengikuti mobil polisi, suara ponsel Saiful berdering, panggilan dari sang ibu.
Ada perasaan ragu mengangkat panggilan telepon. Karena mobil polisi sudah melaju jauh.
" Halo. Ada apa bu?" tanya Saiful pada sambungan telepon.
"Saiful gimana keadaan Nita, Ibu sangat mengkhawatirkan dia, kamu tahu sendiri kan di rumah Nita kini banyak polisi!" jawab Bu Nira terlihat begitu cemas memikirkan anaknya dan juga Nita.
"Ya, Saiful juga tahu, barusan Polisi datang menyusu Nita dan juga Saiful, asal ibu tahu Bu Suci juga ikut campur masalah ini. Dia malah memfitnah Nita macam-macam, di mana Bu Sari mengatakan bahwa Nita bersekongkol dengan sahabatnya itu," ucap Saiful menjelaskan semuanya.
Bu Nita tampak sok setelah mendengar apa yang diungkapkan anaknya dalam sambungan telepon. " Bu Suci itu kenapa sih, padahal Nita itu adalah keponakannya sendiri, iya begitu kejam membuat anak malang yang tak punya kedua orang tua, ia fitnah dan juga buat menderita. "
"Entahlah, Saiful juga tak mengerti dengan akal pikiran Bu Suci. Ya sudah sekarang Saiful matikan panggilan teleponnya ya Bu, soalnya masih banyak urusan Saiful dengan Nita, kasihan Nita jika ditekan terus oleh suci yang malah memfitnahnya dan memojokkan tak agar bersalah dan menjadi tersangka."
__ADS_1
"Baik, Nak. Kamu harus hati hati ya."
Panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, dimana Bu Nira kini balik lagi ke tempat Nita.
Saat ya berjalan menuju ke rumah Nita yang tak jauh dengan rumahnya.
Membuat ia merasa heran dengan mobil yang terparkir di halaman rumah Nita," siapa itu?"
Saat menatap ke arah dua orang yang tengah duduk di depan rumah Nita, membuat Bu Nira langsung menghampiri mereka berdua.
"Permisi, kalian ini siapa ya?" tanya Bu Nira, pada Galih dan juga Anna, yang ternyata sudah sampai di depan rumah Nita.
"Kami ke sini, mau mencari Nita!" jawab Galih, Bu Sari bingung harus menceritakannya dari mana dulu.
"Sebenarnya Nita itu sekarang berada di kantor Polisi untuk menjelaskan tentang anak kecil yang dibawa Intan ke rumahnya,"
Mendengar Bu Nira berkata seperti itu, membuat Anna kebingungan.
"Maksud anda bagaimana ya?" tanya Anna, yang memang belum tahu menahu, jika Nita orang yang baik itu berada di kantor polisi.
Galih, berusaha menyimpan rapat-rapat tentang kejadian yang menimpa Nita, tapi apa daya Bu Nira sudah mengatakan semuanya.
"Ya sudah kamu sekarang akan pergi ke kantor Polisi untuk menemui Nita. Terima kasih atas informasinya."
Galih langsung berpamitan pergi pada Bu Nira untuk melihat keadaan Nita yang berada di kantor polisi.
Anna masih menyimpan rasa penasaran dan juga keraguan, rasa bimbang pada hatinya," mas, maksud wanita tua itu apa sih? Kenapa orang yang memberitahu keberadaan Lulu malah diharuskan memberi penjelasan kepada polisi, apa pelakunya dia.".
Galih, menempelkan telunjuk Jari tangannya ke arah Anna, dan berkata. " sudah kamu tak usah memikirkan Nita, yang terpenting anak kita selamat dulu. "
Mereka berdua pada akhirnya bergegas pergi menuju ke kantor Polisi untuk melihat Nita, dan menanyakan di mana keberadaan intan dan juga Lulu.
Nira melihat kedua Insan itu tampak bersedih, Bu Nira merasakan ketika rasanya di kehilangan seorang anak, apalagi anak itu sampai diculik dan dijadikan ladang uang."
__ADS_1