Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 274


__ADS_3

Saiful terbaring menatap ke sisi kiri Nita, wanita pujaan hatinya tengah ditangani oleh para suster dan juga dokter. Melihat luka bakar di seluruh tubuh Nita, membuat Saiful tak kuasa, kedua mata berkaca-kaca itu kini mengeluarkan banyak air mata.


"Nita."


Kedua mata sang kekasih hati masih tetap menutup, di saat dokter berusaha menyadarkan Nita. Apa masih ada harapan hidup untuk Nita?


"Nita."


Beberapa kali mulut Saiful terus berucap, memanggil nama sang Pujaan Hati. "Nita, bertahanlah."


Saiful menahan rasa sakit pada luka yang terbuka, akibat hantaman kayu, berusaha tetap sadar.


Beberapa menit berlalu, penanganan sang dokter berhasil membuat Nita sadar, wanita tua itu bernapas kembali.


"Nita, bertahanlah aku di sini menunggumu. "


Kalaupun terjadi dengan Nita, Saiful pastinya akan menyerahkan nyawanya sekali pada wanita yang akan menjadi calon istrinya.


Suara monitor masih terdengar normal, Nita masih punya harapan untuk hidup, entah berapa lama?


Bu Nira perlahan mendekat ke arah Saiful, ia bersykur jika anak satu satunya masih hidup.


"Saiful."


"Bu, Nita, bu."


Raut wajah sedih tergambar dari Saiful, iya tak bisa menahan isak tangis melihat keadaan Nita yang begitu parah.


"Ya, ibu tahu, kamu harus tenang ya, jangan mikirin hal hal yang aneh, Nita pasti sembuh."


Saiful menganggukkan kepala, berusaha tetap tegar. " Bu, apa Bu Suci yang melakukan semua ini?"


Bu Nira menganggukan kepala," iya, Bu Suci yang melakukan semua ini, sekarang dia sudah dibawa ke kantor polisi, karena Pak Galih memberikan bukti."


"Ada apa dengan wanita tua itu? Kenapa ia tega, membuat keponakannya sendiri menderita. Padahal selama ini Nita itu begitu baik kepadanya, tak pernah ada balasan ataupun kejahatan yang Nita lakukan kepada bibinya sendiri."


"Entahlah, Bu Suci benar-benar keterlaluan, akibat kebakaran itu Bu Anna kini kehilangan anaknya, Ibu tak tega melihat mereka berdua, saling menguatkan satu sama lain."

__ADS_1


"Bu Suci harus di hukum berat, Karena dia sudah menghilangkan satu nyawa yang sangat berharga di dalam perut Bu Anna."


"Bu Suci memang sudah keterlaluan, dia pantas di dalam penjara."


Bu Suci sudah mengungkapkan semua pengakuannya, karena ia bersalah sepenuhnya. Dan di masukan dalam penjara, tapi dalam pengakuannya itu seperti tak ada rasa sesal.


Ia seperti puas dalam melakukan tindakan yang keterlaluan, membuat seisi rumah mati dalam kebakaran itu.


Para ibu ibu, termasuk Bu Ita berusaha menghindari pembincangan. Karena ia juga ikut serta dalam tindakan kriminal yang dilakukan Bu Suci.


Di perbicangan para ibu ibu, Bu Ita melangkahkan kakinya melangkah ke arah belakang, terlihat ia berlari untuk pergi menjauh dari para ibu ibu di kampung.


"Saya nggak nyangka aja, Bu Suci kini masuk ke dalam penjara, karena kelakuannya sendiri, apa dia tak malu dengan kelakuanya itu," ucap Bu Ratna seperti paling benar di atara ibu ibu, padahal dia juga ikut serta dalam menghina Nita. Hanya sekarang saja, sok berpihak pada Nita karena wajah munafik itu selalu ditampilkan Bu Ratna.


"Ya, saya juga nggak yangka, karena wajah Bu Suci itu menyakinkan. Apa jangan jangan Si Siti adiknya itu, karena dia sendiri," timpal Bu Sarah, ia menduga duga.


"Ih, iya ya. Kok aku juga berpikiran Begitu," balas Bu Sari, merasakan hal yang sama.


Karena memang warga di sana lebih mengutamakan perkataan dari pada bukti.


"Iya sama, aku juga begitu." Balas Bu Sarah.


"Coba kita cari Si Ita, diakan tahu segala hal tentang Bu Suci, siapa tahu kita dapat info dari dia."


" Iya benar, mana si Ita?"


Para ibu ibu, mencari kebaradaan Nita yang dari tadi mengikuti mereka. "Ita."


Membalikkan badan, mencari keberadaan Ita, ternyata dia sudah pergi.


"Si Ita sepertinya kabur," ucap Bu Darmi. Dimana Bu Sarah menunjukk pada sahabatnya, melihat Ita kabur.


"Wah, sepertinya Bu Ita juga dalang dari semua kejahatan yang dilakukan Bu suci, ini tidak bisa dibiarkan."


Para ibu ibu, berlari mengejar Bu Ita yang berlari menjauhkan mereka semua.


Bu Ita sahabat paling dekat dengan Bu suci, menyadari bahwa para ibu ibu kumpulannya mengejar.

__ADS_1


"Gawat, mereka semua mengejarku."


Bu Ita semakin mempercepat larinya, ia melihat pohom besar, berniat bersembunyi di balik pohon itu.


Napas teengah engah karena berlarian, lutut kaki seakan lemas, Bu Ita mendudukan diri di balik pohon besar itu.


"Semoga ibu ibu tidak mengejarku, bisa gawat kalau mereka mengejarku terus terusan." Gumam hati Bu Ita, melirik ke sana kemari. Semua tampak sepi, Bu Ita berharap jika para ibu-ibu di kampung tidak mengejarnya lagi.


"Sepertinya sudah aman."


Bu Ita mulai keluar dari tempat persembunyiannya, berharap kepada ibu-ibu sudah pulang ke rumahnya masing-masing.


"Akhirnya aman."


Saat itulah, Bu Ita mulai pergi menuju ke rumahnya , sampai dimana para ibu ibu menghentikan langkah Bu Ita. "Wah, wah Bu Ita kenapa lari saat kami memanggil anda. Apa sesuatu terjadi. Apa Bu Ita menyembunyikan sesuatu pada kami semua."


Terlihat raut wajah Bu Ita begitu ragu, dan ada rasa takut menyelimuti hati wanita itu.


Para ibu ibu semakin mendekat ke arah Bu Ita, dia menatap tajam ke arah wanita yang sudah lari dari kejaran mereka.


"Kenapa diam saja, Bu Ita. Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kami semua?"


Beberapa kali para ibu-ibu melayangkan sebuah pertanyaan, tapi tetap saja Bu Ita diam, tak menjawab satu patah kata pun.


"Jawab cepat." Bu Darmi ternyata membentak Bu Ita agar berkata jujur.


Ada rasa gemas menyelimuti para ibu-ibu di kampung, Bagaimana tidak Bu Ita menutup mulutnya begitu rapat-rapat, yang menundukkan wajah.


Salah satu ibu ibu bertepuk tangan," bagus, Bu Ita sepertinya ingin masuk ke dalam penjara sama seperti Bu Suci ya."


Mendengar kata penjara, membuat Bu Ita begitu ketakutan, wanita itu kini menangis terisak-isak. Berharap jika para ibu-ibu tidak menjebloskan dirinya ke dalam penjara.


Mulut yang tadinya bungkam kini berucap mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, Bu Ita menceritakan kejadian di masa lalu, membuat para ibu-ibu merasa semakin bersalah, mereka juga ikut serta membuat Siti menderita hingga disiksa dan dibakar hidup-hidup.


"Jadi selama ini kejahatan itu, sudah dibuat buat oleh Bu Suci."


Bu Darmi merasa semakin bersalah, dimana Ingatan masa lalu terlukis di kepalanya, di mana ia begitu kejam menjambak rambut Siti membuat hati Nita terluka, ikut serta menumpahkan minyak tanah tanpa mendengarkan penjelasana Siti dan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2