Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 57 Berangkat


__ADS_3

Keesokkan harinya.


Aku bergegas bangun pagi sekali, untuk memandikkan Lulu anakku. karna tak mungkin setiap kali harus merepotkan kak Indah, apalagi Kak Indah juga mempunyai kesibukan sendiri.


Ia juga harus bekerja untuk mencari uang sendiri, untuk makan dan biaya keperluannya lainya.


Setelah beres dengan rutinitas pagi yang terasa melelahkan, aku bergegas masak untuk sarapan pagi.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dimana Farhan sudah wangi dan segar, ia selalu aku biasakan bangun subuh dan melakukan kewajiban salat.


"Farhan, cepat panggil adikmu Radit."


Diam terdiam sejenak, ia menatapku dalam dalam, kak Indah dengan baju khas kantornya, baru saja ke luar dari kamar tidur.


Bergegas menuju meja makan," waw. Giat sekali kamu Anna setiap jam segini, pasti di atas meja sarapan selalu tersedia. Dan juga sarapan kamu selalu enak di lidah kakak."


Aku tersenyum disaat kak Indah memuji masakanku. "Farhan, kok diem aja. Ayo panggil Radit."


Semua diam, dua mata sepasang kini menatapku kembali. " Anna, apa kamu lupa, Radit itu kemarin di ambil oleh mantan suamimu."


Ya ampun, aku sampai lupa, Farhan hanya terdiam, dimana aku kini duduk memikirkan nasib Radit bersama ayahnya yang tak bisa mengurus anak kecil.


"Mamah, tenang ya. Setelah sarapan Farhan bakal jemput Radit," ucap Farhan seakan menyemangatiku.


Anak yang bukan darah dagingku sendiri, begitu pintar menyembuhkan luka pada hati ini. Bagaimana aku tidak menyayangi dia sepenuh raga, Farhan adalah anak kebanggaan dalam hidup ini.


Aku mengusap pelan kepala anakku dan berkata," kamu bisa saja membuat mamah kemabali bersemangat. Oh ya, kamu tak usah menjemput Radit sendirian, biar mamah datang saja ke sana, kebetulan hari ini mamah mau pergi, kamu jagain rumahnya, biar Lulu mamah bawa."


Farhan yang umurnya masih meginjak belasan tahun, selalu menurut dengan apa yang aku katakan.


Kak Indah masih dengan mengunyah nasi goreng di mulutnya kini menimpal perkataanku.


"Apa tidak repot, kamu datang ke rumah sakit dengan membawa Lulu. Biar kakak saja yang jaga Lulu, kamu selsaikan masalahmu, dan lagi kamu telepon saja Pak Galih. Agar kamu terjaga dalam perjalanan."


Ucapan kakaku memang ada benarnya, tapi tetap saja. Aku tidak mau merepotkan terus menerus kak Indah, dan juga Pak Galih.

__ADS_1


Mereka juga mempunyai kesibukan masing masing, mereka rela membantu masalahku, demi mengabaikan pekerjaan dan juga tanggung jawab mereka masing masing.


Aku menghelap napas berat, dengan perlahan menjawab perkataan Kak Indah." Tidak usah kuatir kak, Anna tidak akan kerepotan kok, hanya menemui Bu Sumyati dengan membawa Lulu. Kakak tak usah kuatir ya. Dengan Anna, kakak fokus saja dengan pekerjaan kakak."


Kak Indah sepertinya tak bisa membantah ucapanku. ia pasrah dan mengizinkanku pergi sendirian.


Sarapan selesai, waktu dimana aku mulai bersiap siap menuju rumah sakit jiwa, dimana Bu Sumyati di rawat.


Tid ... Tid ....


Suara kelakson mobil berbunyi, aku mengertukan dahi dengan suara druh mobil dan kalakson itu. Suara tak asing yang selalu kudengar setiap hari.


"Apa itu Pak Galih."


Kak Indah melihat ekpresiku yang kebingungan, dan segera mungkin bangkit melihat siapa yang datang. Kak Indah seperti menyadari jika mobil yang datang itu mobil Pak Galih.


"Pucuk di cinta ulampun tiba. Sudahlah Anna, lelaki emang begitu." Kak Indah tertawa dengan begitu reyahnya, menyindirku dengan tatapan senang.


"Apa sih kak, enggak lucu tahu." Aku mengkerutkan bibir atas dan bawah, bergegas melihat ke depan rumah, siapa yang datang.


Kak Indah menghampiriku dan berkata," cie cie. Jodoh itu enggak kemana."


Wanita berambut pendek dengan bibi tipisnya. Mengoyang goyangkan, badan. Meledek dan membuat kedua pipiku memerah.


"Apa sih kak, enggak lucu tahu enggak."


"Enggak lucu, tapi bikin hati berbunga bunga kak?"


Perkataan kak Indah, membuat aku ingin sekali melemparkan vas bunga pada badanya yang berjoged riang itu.


Hingga pada akhirnya ketukan pintu terdengar, membuat aku membuka pintu rumah, dan benar saja penampakan Pak Galih dengan membawa makanan dan mainan yang mungkin untuk Farhan.


"Ada apa pak, tumben sekali pagi pagi begini?" tanya Kak Indah, yang selalu bercanda. Membuat Pak Galih terlihat malu.


"Itu mau ketemu Farhan, katanya hari sabtu ini. Farhan liburkan. Mau ajak dia jalan jalan!" Jawabnya seperti sebuah alasan saja.

__ADS_1


"Owh, saya kira gerak cepat mau antar Indah menemuin Bu Sumyati?"


Pak Galih terlihat mengaruk belakang kepalanya, yang dimana sindiran terus dilayangkan Kak Indah, membuat pipi mulus lelaki di hadapanku terlihat memerah.


"Ya sudah kak, aku mau berangkat dulu." Aku mulai berpamitan pada Kak Indah yang belum juga berangkat bekerja, wanita berambut pendek itu. Malah menyindirku kembali." Anna, kamu bawa anak repot, sudah diantar saja sama Pak Galih ya. Pak."


Pak Galih langsung merespon ucapan kakaku dengan berkata," mm iya. Benar Anna, dari pada nanti kamu repot dengan anak kamu. Bagaimana kalau aku antar kamu sekarang juga ke rumah sakit jiwa. Biar Farhan dan Lulu saya ajak saja jalan jalan."


Memang ide yang sangat bagus, tapi masa ia harus mengandalkan lagi Pak Galih.


"Ayolah Anna, jangan sok munafik gitu deh. Kalian kan duda dan juga janda cocok."


Aku menatap tajam kearah kak Indah dengan memelototinya, membuat wanita beda usia denganku itu menundukkan wajah.


"Bapak kan punya perusahan, memangnya perusahaan bapak bisa di tinggal tinggal gitu?"


Tanyaku pada Pak Galih, yang tengah mengajak Lulu bercanda.


"Anna. kamu tenang saja, masalahku sudah bisa di handel oleh beberapa asisten dan juga pegaweku. Jadi jamu jangan memikirkan kesibukanku!" Jawaban yang membuat Kak Indah tiba tiba tertawa terbahak bahak.


Entah kenapa kakakku yang satu ini, selalu mempet mempetkanku pada Pak Galih, Kak Indah seperti senang jika aku selalu bersama lelaki yang ada dihadapanku saat ini.


Kak Indah tiba tiba saja berpamitan untuk pergi bekerja."Oh ya, kakak berangkat bekerja dulu. Anna mudah mudahan masalah kamu cepat selesai oke."


Aku tersenyum kecil dikala kata semangat itu datang dari mulutku, " Ya kak, terima kasih."


Setelah kepergian Kak Indah, barulah Pak Galih mengajakku untuk menemui Bu Sumyati.


Aku mulai naik ke dalam mobil dengan Farhan yang ikut serta, saat aku melihat kekaca mobil, kami seperti sepasang keluarga yang lengkap dengan dua anak.


Saat di dalam perjalanan, Pak Galih mulai berucap," Kapan semua ini nyata."


Apa maksud perkataannya aku sungguh tak mengerti.


"Maaf paK, Apa ya maksud bapak?"

__ADS_1


__ADS_2