
Bulak balik ke sana ke mari, membuat dirinya memikirkan Deni, lelaki yang baru beberapa hari bertemu denganya kini menyatakan cinta dan datang melamar.
Remaja itu tanpa tahu menahu, membuat Indah syok berat.
Bagaimana tidak remaja baru berusia 20 tahunan itu datang dengan membawa ibunya ke rumah Indah.
Kedua tangan bergetar, tak bisa di ajak rileks, beberapa kali ia menelepon Anna tapi nomor telepon tak diaktip.
"Anna, kamu ini kemana sih? "
Gugup, bingung. Itu yang kini dirasakan Indah. Padahal dia sudah berpengalaman menikah, tapi saat lelaki datang bersama orang tuanya rasanya gugup dan canggung.
Menarik napas beberapa kali, berusaha tenang dengan mengeluarkan secara perlahan, " Oh tuhan apakah ini mimpi. " Indah terus melakukan penarikan napas agar dirinya rileks dan tenang.
"Oke, fixs sekarang aku harus hadapi mereka berdua. Agar perasaanku tidak gundah seperti ini. "
Indah perlahan mulai melangkahkan kakinya, menuju ruang tamu. Ia memperlihatkan senyuman lebarnya.
Bu Sumyati ibu Deni, duduk dengan begitu sopan sembari menatap wajah cantik Indah.
"Sebenarnya, ada apa ya ibu dan Deni datang ke sini?"
"Kami datang ke sini, untuk melamar Nak Indah untuk Deni! "
Jawaban Bu Sumyati membuat Indah kaget, dugaanya ternyata tak salah, anak remaja bernama Deni itu begitu serius menyukainya.
"Jadi bagaimana, apa Nak Indah, mau menerima Deni? "
Pertanyaan seakan menyulitkan Indah, suara seperti tertahan di tengah kerongkongan. Bagaimana Indah menjawab lamaran Bu Sumyati, terima atau tidak?
Baru saja Indah ingin menjawab perkataan Bu Sumyati untuk menolak lamaran, suara gedoran pintu terdengar jelas.
"Siapa yang datang? "
__ADS_1
Pintu tiba tiba saja dibuka, tanpa ada etika sopan santun sedikit pun. Sosok lelaki itu ternyata Danu, lelaki yang sudah menjadi mantan suami Indah yang selalu mengusik hidupnya.
"Dia lagi datang, apa lagi sih."
"Indah."
Bu Sumyati berdiri di saat nama Indah terlontar dari mulut Danu, Indah mulai mengeluarkan suara pada Danu " ada apa lagi, mas?"
"Aku ingin menyelesaikan semuanya, aku tak mau pisah denganmu! "
Indah memijit kepalanya yang terasa berdenyut, pusing dengan kedatangan Danu tiba tiba, "apakah bisa sehari saja, Danu tak menganggu hidupku. " gerutu hati Indah.
"Anda siapa? " tanya Bu Sumyati kepada Danu. Karena lelaki itu datang tanpa mengetuk pintu seperti tak punya adab dalam bertamu.
"Saya suaminya Indah! " jawab Danu. Bu Sumyati tentu saja heran, anaknya mana mungkin melamar wanita yang sudah bersuami.
Indah tak mau semua jadi salah paham, pada akhinya ia menjelaskan, " Bu, jangan salah paham dulu, dia itu mantan suami Indah. Indah sudah lama bercerai dengan dia, tapi dia selalu menganggu hidup Indah. "
"Memang kenyataanyakan, mas? " Indah tak mau balik lagi dengan Danu, hingga dimana ia menarik tangan Deni dengan berkata! " sudah jangan usik hidupku lagi mas. Satu tahun kamu mengkhianatiku dengan menikahi perempuan lain, dan sekarang perempuan itu malah mengkhianatimu, kamu malah memohon ingin rujuk lagi kepadaku. Itu tak mungikin, mas. Karena kamu sudah menandatangani surat gugatan cerai, walau porsedurnya lewat orang lain, tapi semua itu sudah sah, tinggal kita menghadapi pengadilan bersama sama, sudah ya mas. Jangan usik hidupku lagi, sudah cukup aku merasakan penderitaan saat kamu menghiantiku saat ini. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Deni, calon suamiku. "
Deg ....
Ucapan Indah mampu membuat relung hati Danu terluka dan sakit hati, " kamu jangan bercanda Indah, pernikahan kita .... "
Indah menghentikan ucapan Danu, mengusirnya dengan tegas, " cukup mas, sebaiknya kamu pergi dari rumahku, jangan rusak dan usik kebahagianku saat ini. "
Deni tak menyangka jika pada akhirnya Indah memilihnya dan menerima lamaranya di depan sang mantan, Bu Sumyati yang merasa kasihan terhadap Indah kini ikut mengusir Danu. " Sebaiknya kamu pergi dari sini, jangan sakiti calon menantuku, kamu tak pantas bersanding dengan Indah, karna kamu sudah membuat hatinya terluka. "
Apa yang dikatakan ibunda Deni, sangat membantu sekali, dimana Danu mulai melangkah mundur, terlihat ia meneteskan air mata. Tak percaya jika Indah akan menikah secepat itu. Tubuh Danu terasa lemas, hatinya seakan remuk, ia seakan tak sanggup berjalan.
Setelah kepegian Danu, Bu Sumyati mendekat ke arah Indah, wanita tua itu memeluk Indah dengan erat seraya berkata, " kamu tenangin dulu kamu ya, Indah. "
"Terima kasih ya, bu. Sudah membantu Indah mengusir lelaki itu dari rumah ini."
__ADS_1
"Kamu tak usah kuatir, ibu akan menjaga kamu sama seperti anak ibu sendiri. "
Pelukan Bu Sumyati, membuat kehagatan pada Indah, sudah lama ia baru mendapatkan dekapan dari sosok wanita tua.
Bu Sumyati dan Deni mulai mengajak Indah untuk duduk di sofa, menenangkan semua rasa kesedihan dalam hati Indah.
"Setelah kamu menikah nanti dengan Deni, ibu akan melindungi kamu. Dari lelaki jahat itu, kamu jangan kuatir Indah. "
Deni masih ragu, dimana Indah mulai tenang Deni mulai bertanya kembali pada Indah. " jadi kak Indah menerima lamaran Deni saat ini. "
Indah menganggukkan kepala, tanda ia sudah menerima lamaran anak remaja di hadapanya. Walau sebenarnya ia ragu, apakah bisa menikah dengan lelaki yang lebih muda darinya.
Deni mulai memasangkan cincin pada tangan Indah, tanda lamaran itu jadi. Dan pernikahan akan di gelar antara waktu yang lumayan dekat.
Anna dan Galih datang, mereka terkejut saat melihat Bu Sumyati datang bersama Deni. " Loh, ada apa ini? "
Deni tesenyum begitupun dengan Bu Sumyati, Anna mulai melihat cincin yang terpasang pada jari tangan Indah, membuat ia berkata, " wow. Habis lamaran ya. Pantas saja senyum semringah. "
Anna menghampiri Bu Sumyati mencium punggung tangan wanita tua itu.
"Anna, tuben kamu datang ke sini? " tanya Bu Sumyati. Membuat Indah memberi kode untuk tidak memberitahu bahwa datanganya Anna ke sini karena Indah yang terus menghubungi sang adik.
"Oh, kebetulan Anna datang ke sini, ada barang yang ketinggalan. "
Bu Sumyati melirik ke arah Galih yang terus mengikuti Anna dari belakang punggunya. Bu Sumyati sebenarnya sudah lama melihat ke arah Galih, entah kenapa Galih membuat Bu Sumyati mengingat pada sahabat Almarhum Daniel saat itu.
"Kenapa bu, ngelihat Pak Galih sampai sebegitu ya? " tanya Anna pada Bu Sumyati dengan tatapan aneh.
"Enggak, ibu jadi teringat masa lalu Daniel, wajah Pak Galih ini begitu percis dengan sahabat dekat Daniel anak ibu! " jawab Bu Sumyati.
Deni tentu saja tertawa dan berkata, " teman Kak Daniel banyak kan Bu, kemungkinan ada kesamaan pada wajah Pak Galih dengan sahabat Kakak. "
"Iya juga, sih. " balas sang ibu.
__ADS_1