Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 239 Banyak berpikir


__ADS_3

Bukanya Lulu senang, malah ia menolak dengan lantangnya," saya tidak mau cemilan anda. Saya mau pergi ke supermarket." Cetus Lulu melipatkan kedua tangannya, bibir mungilnya ia majukkan.


Dimana Marimar semakin senang dan suka, jika mengoleksi anak itu di rumahnya.


"Wah, kamu pandai melawan juga ya. Oh ya kamu cantik," ucap Marimar memuji Lulu, anak berumur tiga tahun itu, tampak senang dengan pujian Marimar." Pastinya dong saya cantik, seperti ...."


Belum perkataan Lulu terlontar semuanya, Intan mem


bekam mulut anak itu. Marimar tanpak heran dan repleks dengan tangan Intan.


"Maaf Nyonya Marimar yang cantik jelita, Lulu memang seperti ini, kalau berbicara asal jeplak."


Marimar menghentikan ucapan Intan, ia mulai bertanya pada anak manis berumur tiga tahun itu. "Nama kamu siapa?"


Lulu dengan wajah mengemaskannya itu mulai menjawab." Nama saya Lulu. Anda kenapa tanya tanya saya terus."


Intan tak tahu jika Lulu seberani itu dalam berkata, ia mencubit pinggang Lulu. Memelototi anak itu," Kak Intan sakit, cubit terus dari tadi."


Karena ucapan Nita, pada akhirnya Lulu melawan, dimana semalaman Nita mengajari Lulu agar berani melawan orang jahat, jangan lemah.


Namun perkataan Lulu, semakin membuat Marimar ingin mencubit kedua pipinya. Marimar menepuk kedua tangan, menyuruh para pelayan datang membawakan cemilan dan juga bermacam eskrim.


Lulu sangat menggemari cemilan coklat dan eskrim, hanya saja Anna selalu melarangnya, agar tidak berlebihan dalam memakan makanan ringan yang akan merusak gigi dan menganggu perutnya.


Para pelayan di rumah Marimar meletakan semua makanan yang di sukai anak-anak, dimana Lulu menelan ludah, tak sabar ingin mencicipi makanan yang berada di atas meja.


Marimar mengambil satu coklat dan juga permen dalam mangkuk besar, memperlihatkan pada Lulu, perlahan tanganya yang mulus membuka bungkus coklat.


"Tak perlu jauh jauh ke supermarket kalau di sini ada, tinggal ambil sepuasnya," ucap Marimar, perlahan mulutnya terbuka. Ia melahap pelan pelan coklat yang berada di tanganya.

__ADS_1


"Waw, ini sungguh manis. Dan gurih." Beberapa kali memakan setiap guratan coklat itu. Lulu tak bisa menahan, ia ingin memakannya saat itu juga.


"Hem, gimana? Kamu nggak tertarik sama sekali?" tanya Marimar, sembari mengunyah pelan coklat yang ada pada mulutnya.


Intan menyenggol lengan Lulu, ia membisikan perkataan pada telinga anak itu," sudah makan saja. Cepat. "


Marimar sudah yakin, jika anak dihadapannya pasti akan tergoda, apalagi melihat begitu banyak permen dan coklat yang selalu di gemari anak anak.


Samsul masih mengintip di jendela luar, ia tak mau melihat anak itu memakan coklat. " Gawat ini, kalau anak itu memakan coklat. Bisa bisa anak itu jatuh kepelukaan Nyonya Marimar."


Entah kenapa hati Samsul begitu kasihan terhadap anak itu, ia tak tega. Melihat Lulu jatuh ketangan sang Nyonya.


Dani kepercayaan Marimar, kini datang membawan koper berisi uang seratus juta, terlihat kedua mata Intan tak sabar menerima uang dalam koper itu.


"Ini nyonya, uang yang diinginkan nyonya," ucap Dani meletakan pada meja.


"Dani, buka koper itu. Sekarang juga," printah sang Nyonya, pada suruhanya.


"kamu suka ini?" tanya Marimar, tersenyum kecil, ia tak segan segan. Mengambil uang senilai seratus juta dihadapan Intan.


"Suka sekali!" jawab Intan, kedua tangan ingin sekali memegang uang yang tersusun rapi di koper itu.


Namun, Marimar menutup kembali koper itu," Kenapa di tutup, Nyonya."


"Aku hanya ingin memastikan apa anak itu sekarang mau bersamaku?" tanya Marimar. Terlihat kepolosan pada diri Lulu saat melihat obrolan mereka berdua.


Intan mendekat ke arah Lulu, membisikan perkataan, " Lulu, kakak tinggal kamu di sini ya. kamu mau tidak?"


Pertanyaan Intan membuat Lulu heran, " loh kok gitu. Kak Nita gimana kak, Lulu mau pulang."

__ADS_1


Rengekan Lulu membuat Intan berusaha menghentikan mulut mungilnya itu, ia menempelkan telunjuk jari tanganya, pada bibirnya sendiri.


"Husss, jangan merengek. Kak Intan nggak suka, kamu lihat di sini. Banyak makanan Lu, coklat, permen yang kamu suka ada semua di sini."


Intan menggoda Lulu hanya dengan sebuah makanan ringan, berharap jika Lulu tergoda dan ikut bersama Marimar.


"Dari pada tinggal sama Kak Nita, setiap hari kamu di tinggalin terus, apa nggak merasa kesepian kamu, sendirian terus. Mana nggak ada makanan, nggak punya uang jajan."


Intan berusaha merayu anak berumur 3 tahun itu.


Lulu terlihat berpikir sejenak, dia juga merasa senang ketika tinggal bersama Marimar. Wanita itu seperti orang yang baik, walau wajahnya sedikit menyeramkan.


"Gimana? Kalau Kakak jadi kamu, pastinya Kakak bakalan ikut sama Nyonya Marimar, apalagi di rumah Nyonya Marimar itu banyak sekali, es krim coklat, dan juga makanan lainnya. Kak Intan pastinya tidak akan bosan tinggal di sini, kamu bayangin aja Lulu ketika kamu tinggal di sini, bagaimana cerianya hidupmu, penuhi dengan makanan."


"Iya juga sih, tapi Kak Nita itu baik. Dia selalu menghabiskan waktu untuk Lulu walaupun Kak Nita sibuk bekerja. Lulu nggak sanggup ninggalin Kak Nita sendirian di rumah. Lulu rindu setiap pagi dan juga malam kalau ada Kak Nita, dia selalu menceritakan cerita dongeng untuk Lulu."


Marimar penasaran dengan percakapan kedua orang itu, iya berjalan menghampiri mereka berdua. Melipatkan kedua tangan," apa yang kamu inginkan Lulu, di sini pastinya kamu akan terpenuhi."


Marimar begitu meyakini anak berumur 3 tahun itu, berharap jika anak aku mau jatuh dalam pelukannya, " tuh Lulu, dengar tidak apa kata Nyonya Nita, dia akan menuruti semua keinginan kamu, jadi gimana ayo, tertarik tidak."


Lulu melamun sebentar, begitu banyak memikirkan suatu hal, tanpa memilihnya saat itu juga.


"Jadi gimana, Lulu?"


Intan kesal dengan jawaban Lulu yang begitu lama, membuat ia berulang kali melirik jam di dinding, karena sebentar lagi Nita pulang ke rumah. Ia tak punya kesempatan untuk mengambil baju-bajunya di dalam rumah sang sahabat.


"Ya ampun jawab gitu aja, banyakin mikir kamu, Lulu. Lulu," gerutu hati Intan yang begitu kesal, ia menatap ke arah anak itu yang tengah berpikir, sembari menatap ke arah Marimar dan juga Intan.


Samsul berusaha mencari cara, agar anak itu tidak diadopsi oleh sang nyonya, jika itu terjadi. Samsul takut jika anak itu mengalami hal yang sama dengan anak-anak yang lainnya.

__ADS_1


"Ayo Lulu, jadi apa pilihan kamu sayang," ucap Marimar berkata lembut di hadapan anak berumur 3 tahun itu, dia selalu bertingkah layaknya seorang wanita baik. Yang akan selalu menyayangi seorang anak kecil kesepian.


"Mm, gimana ya."


__ADS_2