
"Terserah aku lah, mau benci anaknya, balas dendam pada anaknya. Apa urusannya denganmu, Nita," ucap Intan, seperti tak punya malu, dia bisa selamat dari kejaran polisi dan Galih berkat Nita.
Jika tidak ada Nita, mungkin hidupnya kini membekam di penjara. Atau luntang lantung tanpa tujuan, " Intan, harusnya kamu itu sadar akan kejahatan kamu sediri."
Intan kesal pada Nita yang terus menasehatinya, berdiri dan melempar remot yang ia pegang sendiri.
"Jangan sok benar lah," cecar Intan, membentak Nita, wanita itu pergi ke dalam kamar.
Brakkk .... Bantingan pintu berulang kali ia banting, seperti tak menyadari akan dirinya yang hanya sebagai tamu, Intan tak tahu malu.
Nita mengusap pelan dadanya, berusaha tetap tenang dan sabar menghadapi sang sahabat yang berwatak keras kepala seperti Intan.
Ia kini mengambil handuk, untuk segera mandi. Badan terasa lengket dan bau keringat, membuat rasa tak nyaman.
Dua puluh menit, Nita selesai mandi. Rasa pegal dan lelah kini terobati akan air dingin yang menyegarkan tubuhnya.
"Nyaman."
Wanita berumur dua puluh dua tahun itu, kini memakai baju sederhana untuk sekedar di rumah saja.
Setelah rasa lelah terobati, Nita di sibukan lagi dengan memasak, ia tak tega melihat Lulu kelaparan, wajah gembira Nita membuatkan masakan sepercial.
"Pasti Lulu suka."
Hanya waktu tiga puluh menit saja, Nita selesai memasak, bau wangi makanan menyeruak ke dalam kamar Intan. Perut terasa keroncongan, ia beranjak bangkit dari tempat tidurnya, berjalan ke arah dapur.
Nita membangunkan Lulu, untuk segera makan. Ia tak sabar akan pujian rasa enak masakanya terlontar dari mulut Lulu.
"Lulu, sayang."
__ADS_1
Mengusap pelan kepala anak itu, Lulu akhirnya bangun. Terdengar suara keroncongan dari perutnya." Lulu."
Anak berumur tiga tahun itu bangun dengan mengusap ngusap ke dua matanya, sesekali ia menguap menahan rasa ngantuk yang masih terasa pada dirinya," kamu masih ngantuk sayang. Kita makan dulu yuk."
Nita mulai membantu Lulu untuk membersihkan wajah dan juga mencuci tangannya, mereka kini bergegas berjalan ke arah dapur, langkah gontai lulur terlihat, membuat Nita merasa kasihan.
Saat sampai di meja makan, ruangan dapur. Terkejut Nita melihat Intan tengah memakan masakannya.
"Masakan kamu enak."
Rasa kesal memburu pada hati Nita, sudah kelelahan pulang kerja belum menyiapakan masakan, dengan lancarnya Intan memakan masakan itu tanpa meminta izin terhadap sahabat.
Nita sudah terlanjur kesal terhadap Intan, menarik makanan yang sedang Intan santap saat itu.
Intan terkejut dengan aksi yang dilakukan Nita, Intan dengan kesalnya memukul meja makan," apa-apaan sih kamu ini Nita, orang lagi makan juga kamu tarik segala, kembalikan makanannya. CEPAT."
Terdengar Intan membentak Nita, dengan rasa kesal Nita langsung melemparkan piring berisi nasi dan lauk pauk, yang baru saja Intan makan.
Intan berdiri dengan emosi yang meluap-luap pada dirinya, ia menatap tajam penuh kebencian terhadap Nita, menunjuk-nunjuk wajah sahabatnya dengan telunjuk jari tangan Intan, " kamu ...."
Nita seakan tak takut dengan telunjuk tangan yang mengarah pada wajahnya, ya malah berusaha memberanikan diri, melawan sang sahabat yang sudah keterlaluan.
" kalau kamu memang mau makan, masak sendiri lah, jangan ingin enaknya saja." ucap Nita membuat Intan membalikkan badan melangkah pergi, untuk segera masuk ke dalam kamarnya.
Dada Nita naik turun, menahan rasa sesak dan juga emosi, karena kelakuan sahabatnya yang sudah keterlaluan.
Terdengar Intan seperti melemparkan barang di dalam kamarnya, tentu saja membuat Nita menggelengkan kepalanya.
" kakak, Lulu nggak jadi makan aja ya," ucap Lulu tak enak hati setelah melihat kemarahan Intan pada Nita.
__ADS_1
Nita berusaha menenangkan diri dan juga hatinya, agar tidak membuat Lulu ketakutan, Nita memegang bahu anak berumur tiga tahun yang sedang duduk di atas kursi, menunggu untuk menyantap hidangan.
"Loh, Lulu nggak boleh begitu, bagaimanapun Lulu harus makan, kasihan nanti perut Lulu kalau Lulu tidak mengisinya dengan makanan. Nanti, dia bikin perut melulu sakit, memangnya kamu mau sakit perut."
Lulu menggelengkan kepala, tentu saja ia tak mau merasakan sakit di perutnya.
"Nggak mau."
"Ya sudah, sekarang Lulu makan ya, Kakak Nita langsung temani Lulu kok, kebetulan Kakak juga belum makan. Makanya Kakak masakin buat Lulu dan juga Kakak sendiri. Ayo dimakan."
Nita yang terus menyuruh Lulu, pada akhirnya membuat anak itu menurut, Nita mulai mengambilkan nasi beserta lauk pauk dan juga sayuran. Terlihat Lulu begitu tak sabar ingin segera menyantap masakan yang dibuat oleh Nita.
Lulu langsung menyuapkan makanan ke mulutnya, terlihat sekali anak itu begitu kelaparan, sampai makan dengan lahap," gimana masakan Kak Nita, enak nggak?"
Lulu dengan raut wajah cerianya menganggukkan kepala, dia menjawab dengan senyuman yang diperlihatkan dirinya kepada Nita, " masakan Kak Nita enak sekali, Lulu benar-benar senang dengan masakan Kak Nita."
Pujian Lulu, tentu saja membuat Nita senang. Bagaimana tidak senangnya Lulu, Nita selalu memperhatikan ia dengan penuh kasih sayang. Tanpa memarahinya ataupun memukul tubuhnya.
"Makannya, pelan-pelan loh nanti keselek," ucap Nita, seperti menganggap Lulu sebagai adiknya yang sudah pergi jauh bersama kedua orang tuanya.
Terkadang Nita ingin sekali bersama Lulu, menjaga anak kecil itu dengan penuh kasih sayang. Tapi apa daya dirinya, jika Lulu bukanlah anak yatim, dia mempunyai kedua orang tua yang utuh.
Pastinya kedua orang tuanya itu tengah mencari keberadaan Lulu, apalagi Nita sudah memberitahu, kedua orang tua Lulu di mana kini Lulu berada.
Nita tak mau melihat Lulu menderita, karena selalu dimarahi Intan dan juga disiksa oleh sahabatnya itu.
Ia tak tega jika melihat anak kecil menjadi korban balas dendam Intan, hanya karena mencintai seorang majikan. Intan dengan teganya membawa anak yang tak berdosa itu. Iya tak segan-segan memukul dan juga membentak Lulu setiap hari.
Hati seorang ibu mana yang kuat jika melihat anaknya diperlakukan tidak baik oleh orang lain. Pastinya dia akan marah besar dan juga membuat perhitungan kepada orang yang sudah melakukan hal yang tidak baik terhadap anaknya.
__ADS_1
Nita mulai bertanya, ia penasaran dengan jawaban Lulu," Lulu kalau nanti ayah dan ibumu datang ke sini, apa kamu mau ikut bersama mereka?" kedua mata Nita tak bisa dibohongi sepertinya ia tak mau kehilangan Lulu, padahal dirinya sudah memberitahu polisi dan juga kedua orang tua Lulu yang pastinya akan datang menjemput Lulu.