
"Saat aku bertanya seperti itu kamu malah diam," ucap Anna, melihat perubahan dari wajah suaminya.
Anna mulai membisikkan suatu kata-kata yang membuat Galih, semakin gugup." jujur saja. Jangan kamu simpan kebohongan di antara kita berdua."
Menelan ludah, berusaha melongarkan dasi." Kalau untuk rasa cinta di hatiku sudah tidak ada pada Ainun, yang ada saat ini hanya pada kamu Anna. Sudah aku jelaskan tadi, aku hanya kuatir tentang mental Ainun, karena menyebuhkan dia bukanlah waktu yang sebentar tapi lama. Aku tidak mau semua itu terjadi, jika semua terjadi siapa yang akan mengurus dia, aku takut. Menyusahkan keluarga kita. Aku ingin hidup tanpa ada penganggu satu orang pun."
Anna hampir salah menduga, tadinya ia mengira jika Galih masih ada rasa, hingga tengah malam datang menghampiri Ainun di rumah sakit.
"Walau sekarang tersangka sudah masuk dalam penjara, kalau kita tidak lihat dalangnya siapa, Ainun akan terancam dan bisa bisa orang itu akan membuat sebuah rencana lagi, lebih sadis dari pada pemerkosaan."
Anna menundukkan pandangan setelah mendengar kembali penjelasan dari Galih, ia menarik napas berusaha menenangkan pikiran.
"Jadi sekarang dalangnya siapa?" tanya Anna. Membuang wajah ke arah sisi kiri, dimana ia masih enggan menatap sang suami.
"Dalangnya adalah Intan!" jawab Galih, menunjukkan sebuah video yang ia ambil dari Andi.
"Coba kamu lihat ini," ucap Galih, Anna mendekat dan melihat rekaman video dari ponsel suaminya.
"Aku masih tak percaya jika dalangnya adalah Intan, padahal dia hanya pembantu di rumah ini dan kamu tugaskan dia bekerja di rumah Ainun bukan.
Galih lupa memberi tahu Anna masalah ini, " maaf sayang, aku lupa memberi tahu kamu. Intan sudah aku pecat."
"Sepertinya, dia balas dendam dan kesal pada Ainun. Sampai tega melakukan hal jahat," balas Anna, perlahan ia memberanikan diri menatap ke arah Galih.
Mereka berdua kini saling memahami satu sama lain, berusaha melupakan masalah semalam.
"Jadi kamu memaafkan aku, Anna."
Anna kini menganggukkan kepala, berusaha memaafkan suaminya, walau masih ada rasa kesal dalam hatinya. Apalagi seorang wanita mudah memaafkan tapi susah melupakan.
__ADS_1
"Ya, aku maafkan kamu."
Kedua insan yang sudah saling memaafkan, kini berpelukan seperti sesuatu tak terjadi apa apa.
*******
Farhan masih menunggu sang Ibu di rumah sakit, waktunya ia memberi sarapan bubur kepada Ainun. Melihat tubuh Sang Ibu begitu lemah, Farhan mulai menyuapi bubur pada mangkuk, yang sudah disediakan suster di rumah sakit.
"Ayo sarapan, bu."
Ainun menganggukan kepala, membuka mulutnya. Mengunyah setiap suapan bubur yang masuk pada mulutnya.
Ainun merasa tak bersemangat, ketika hanya ada Farhan menunggunya di rumah sakit, ia berharap sekali jika Galih datang menjenguknya seperti tadi malam.
Wanita berhijab putih itu, sangatlah membutuhkan kehangatan dari lelaki yang selalu memperhatikannya dari dulu.
Walau itu terdengar tak baik, tapi sebagai wanita Ainun tak bisa membohongi hatinya.
"Bu, apa yang sedang ibu lamunkan sekarang?"
"Apa ibu. Tengah memikirkan papa?"
Sontak Ainun terkejut, pikirannya bisa dibaca oleh anaknya sendiri. Memang ia sekarang tengah memikirkan Galih, karena hanya mantan suaminya yang bisa mengerti dirinya di saat rasa trauma itu hampir datang dan membuat kegilaan pada pikiran Ainun, untuk berbuat hal yang merugikan dirinya sendiri.
Ainun membutuhkan support dan juga semangat, ia sekarang tak butuh nasehat. karena nasehat itu malah membuat pikirannya terganggu,
"Kenapa kamu berkata seperti itu, Farhan. Mana mungkin ibu memikirkan papahmu, dia itu suami mamamu, " ucap Ainun berbohong. Ia tak mungkin mengatakan kejujuran, jikapun mengatakan kejujuran yang ada Farhan akan marah.
"Farhan hanya bertanya saja bu, karena dari semalam ibu seakan senang ketika melihat papah, padahal ibu tahu sendirikan papah itu milik mamah, " balas Farhan, seperti suatu teguran untuk dirinya, agar tidak mendekati lagi Galih.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, ibu bukan wanita perebut. Kamu tahu sendirikan ibu sangat sayang pada mama kamu," ucap Ainun. Sebenarnya hatinya tak sesuai apa yang dikatakan dari mulutnya sendiri.
"Farhan berharap sekali, jika ucapan ibu itu benar. Bukan hanya manis di mulut saja, ibu tahu kan sudah banyak penderitaan yang dirasakan Mamah Anna, jadi ibu jangan sampai menghancurkan kebahagianya," tegas Farhan. Anak remaja itu tak mengerti artinya tekanan pada Ainun. Seharusnya Farhan lebih bersabar mengatakan hal semacam itu pada ibunya sendiri.
"Iya, Farhan. Kamu tenang saja, ibu tidak akan membuat mama kamu menderita. Jadi tenang saja, ya, " jelas Ainun, agar anaknya tak bertanya kembali.
Tangan mulai memegang dada, terasa menyakitkan. Ketika hati berusaha melepaskan tapi tak bisa.
"Ibu, ayo habiskan buburnya, Farhan mau lihat ibu sembuh lagi." Walau pun Farhan tegas dan tak memandang situasi dalam berbicara, ia tetap memberi semangat pada ibunya sendiri.
Karena bagi Farhan tak ada rasa kebencian sama sekali, bagi dirinya. Ia menyayangi Ainun dan juga Anna. Tak ada yang ia beda bedakan, bagi dirinya kedua wanita dalam hatinya sangatlah berjasa.
"Terima kasih ya, Farhan kamu mau menjaga ibu, walau pun ibu meninggalkan kamu dari dulu, ibu sangat beruntung mendapatkan anak seperti kamu."
Mendengar hal yang diucapkan Ainun, Farhan tak bisa mengatakan bahwa dirinya adalah orang baik. Ia hanya di didik agar bisa menjadi anak yang berguna.
"Farhan bisa seperti ini karena Mamah Anna, dia yang menyayangi Farhan dan selalu melindungi Farhan tak pernah membeda bedakan Farhan dari Radit dan Lulu, makanya Farhan begitu sayang pada mamah Anna, karena ia orang yang ikhlas mengurus Farhan."
Ada rasa iri menjelama pada hati Ainun, bagaimana tidak irinya dia, Farhan selalu mengistimewakan Anna sama seperti Galih. Seakan dunia terasa tak adil bagi Anna.
Padahal dunia dari dulu selalu berpihak pada Ainun. Tapi karena keegoisannya, dunia bagi dirinya seakan menjauh.
"Ibu iri sekali pada mama kamu, " ucap Ainun. Terlihat raut wajah penyesalan ia perlihatkan di depan anaknya.
"Kenapa ibu harus iri, dengan Mama Anna? Ibu juga adalah wanita yang hebat bisa melahirkan, Farhan, berjuang antara hidup dan mati saat Farhan lahir ke dunia, Ibu juga mempertahankan Farhan dalam kandungan."
Ainun merasa senang dengan ucapan yang keluar dari mulut Farhan, ia memeluk tubuh anaknya dengan begitu erat, mengusap pelan kepala rambut Farhan.
"Terima kasih Farhan, ibu janji tidak akan merusak kebahagian Mamah Anna dan juga papah Galih, kamu tak usah kuatir."
__ADS_1
Tanpa di sadari dari obrolan keduanya ada dua pasang telinga yang mendengarkan, " Jadi seperti itu, waw ini kesempatan yang bagus."