Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 31 Debat.


__ADS_3

Mulut Mas Raka, kenapa sekarang tidak bisa dijaga, ia begitu mudahnya mengatakan sesuatu yang membuat hati seseorang kecewa.


Padahal dulu, Mas Raka orang yang pandai menjaga ucapannya, menyakitiku pun tak pernah. Tapi, semenjak menikah dengan wanita alot itu, dia menjadi lelaki yang temperamen.


Membentak dan menamparku, tanpa perasaan. Apa sebegitu cintanya dia pada sosok wanita yang mulai menua seperti Ajeng?


Farhan berlari ke luar rumah sakit, membuat aku berusaha mengejar anak pertamaku," Farhan, Nak."


Tangan Pak Galih, kini meraih tanganku, menghentikan langkah kaki, membuat aku menoleh kearahnya.


"Anna, biar saya saja yang mengejar Farhan, kamu jaga Radit di sini dan Lulu."


"Tapi, Pak?"


"Sudah, percaya pada saya!"


Aku hanya terdiam, dikala hati merasakan rasa tak karuan, melihat anak pertamaku menangis, kecewa setelah mengetahui bahwa dirinya bukan anak kandung Mas Raka.


Padahal rencanaku memberi tahu Farhan di saat usianya menginjak dewasa, agar dia bisa menerima tanpa rasa kecewa.


Sekarang? Mas Raka menolehkan luka pada hati Farhan, dia memberi tahu Farhan di saat amarahnya tak terkendali.


"Semoga Pak Galih bisa membujuk Farhan."


Radit dengan wajah pucatnya menoleh ke arah wajahku." Mamah, kalau misalkan Kak Farhan bukan anak mamah dan papah. Lalu Kak Farhan anak siapa?"


Kedua mata yang basah karna air mata keluar terus menerus, membuat tangan ini mengusap pelan jidat anak keduaku.


"Radit, Kakakmu tetap anak mamah dan papah. Jadi kamu jangan tanya siapa orang tua Kak Farhan ya."


Aku berusaha memberi pengertian pada Radit, agar dia tidak membahas lagi siapa kedua orang tua kakaknya yang sebenarnya.


Bagaimana pun, Farhan tetap anakku. Walau dia tidak lahir dari rahimku.


"Maafin Radit ya, mah."


Menampilkan senyum lebar dihadapan Radit, kucium keningnya." Radit tidak salah, hanya saja sekarang sekarang kita harus menjaga ucapan kita agar tidak melukai hati kakak kamu, ya. Radit."


Radit menganggukan kepala, tanda mengerti dengan perkataan yang aku lontarkan untuknya.


@@@@@


Setengah jam menunggu, akhirnya Pak Galih datang bersama Farhan, terlihat anak itu tersenyum padaku, ia berlari dan memeluk tubuh ini.

__ADS_1


Menangis dengan suara tersedu sedu, membuat aku tak kuasa menahan air mata. Kutumpahkan saat ini juga di depan Farhan, memeluk tubuhnya erat.


"Farhan, nak."


"Mamah."


Kini kulepaskan tangan Farhan yang memeluk tubuhku, membungkukan badan agar sejajar dengan wajahnya. Memegang pipinya yang ternyata sudah basah oleh air mata.


"Farhan, maafkan mamah, ya. Nak. Mamah tidak bermaksud menyimpan kebohongan ini. Mamah berniat memberitahu kamu ketika mamah sudah mengetahui kedua orang tuamu."


"Farhan, tidak butuh kedua orang tua Farhan, yang Farhan butuhkan sekarang mamah."


Balasan anakku, dengan tangisannya tersedu sedu.


Kupeluk erat kembali tubuhnya, hatiku rasanya tenang setelah mendengar ucapan Farhan.


"Ya, nak."


Tepuk tangan terdengar kembali, Ajeng datang menghampiriku dengan menenteng map biru.


Ia tersenyum di saat menatap aku dan Farhan berpelukan." Terlalu banyak drama."


Melepaskan pelukan Farhan dan bertanya," ada apa kamu datang ke sini? Bukankah cukup tadi aku sudah mengusirmu dan Mas Raka lewat satpam!"


"Sombong."


Ajeng kini menyodorkan map berwarna biru yang berada di tanganya kepadaku.


"Ini."


"Apa ini?"


"Mm, coba kamu lihat. Mungkin setelah kamu lihat ini hati kamu akan tenang!"


Aku mulai mengambil Map berwarna biru itu dari tangan Ajeng, perlahan kubuku Map itu.


"Ini kan Map gugatan cerai yang aku berikan kemarin pada Mas Raka."


"Iya, benar. Di sana Mas Raka sudah menandatangani surat gugatan cerai itu, tinggal besok datang ke pengadilan. Bukan begitu?"


Hatiku senang jika semua berjalan dengan lancar, sebentar lagi aku bebas dari jeratan Mas Raka.


"Oh ya. Untuk hak asuh, Mas Raka berharap dia yang memenangkan hak asuh anak anaknya. Tapi denganku, aku berharap kamu yang memenangkan hak asuk anak anakmu, karna malas rasanya mengurus kedua anak anakmu itu yang nakal," ucap Ajeng, dengan begitu santainya.

__ADS_1


"Baguslah kalau kamu berkata seperti itu," balasku pada Ajeng.


Mungkin sekarang Ajeng senang hidup bersama Mas Raka dengan dirinya yang bergelimangan harta. Tapi jika suatu saat hartanya habis, aku tak nyakin jika Mas Raka dan ibu sanggup bertahan.


Hah, sudahlah. Aku tak mau memikirkan apapun tentang mereka, yang terpenting aku fokus pada diriku dan juga anak anak.


"Oh, ya. Anna. Untuk kamu, jangan terlalu kepedean ya. Aku tidak berpihak sama kamu, aku hanya ingin menghempaskan wanita pengganggu rumah tanggaku," cetus Ajeng.


Apa maksud wanita Alot di depanku ini, bukannya dia perusak rumah tanggaku. Dia yang membuat Mas Raka berubah?


Aku tak habis pikir dengan pelakor tua ini, bisa bisanya seakan dirinya yang teraniaya.


Jika aku melayani dia, mungkin perdebatan tak akan kunjung usai. Hanya buang buang waktu saja.


"Ya sudah semua sudah selesai. aku akan pulang dari sini, jijik rasanya melihat wanita dekil tak terawat seperti kamu. Oh ya Anna, kalau kamu jadi janda, kayanya kamu enggak bakal laku deh."


Di situasi seperti ini pun Wanita Alot dihadapanku, masih sempat sempatnya menghina dan mencaci maki fisikku yang sekarang.


Berusaha diam dan tenang.


"Oh, ya. Aku berharap jika kamu sudah lepas dari Mas Raka, kamu merubah penampilanmu yang kumuh itu, karna ....."


Belum percakapan wanita alot itu terucap semuanya. aku langsung membalas dengan lembut.


"Oh Iya Ajeng, aku berharap setelah aku lepas dari Mas Raka, wajahmu masih terlihat seperti ini. Mudah mudah wajahmu enggak cepat menua ya. Takutnya bertambah usiamu kamu makin peot, Alot dan bau tanah."


Ajeng sepertinya marah dengan perkataanku, ia hampir melayangkan suatu tamparan pada wajahku, hingga di mana, aku berusaha menghentikan tangan yang hampir melayang pada pipi kiri.


Tangan Ajeng kini aku pegang, hingga dimana aku berucap di dekat wajahnya." Kamu bisa lihat perbedaan tanganku dan tanganmu Ajeng. Beda jauuuhhh. Berkerut dan masih segar, perubahan wajahmu saja yang oplos tapi tidak dengan tanganmu ini."


Ajeng berusaha melepaskan tanganya dari gengaman tanganku.


"kamu lihat, tenagamu hampir melemah, jadi aku sarankan kamu banyak beristirahat. Karna kamu hampir mendekati masa tuamu, alias jadi nenek nenek."


Ajeng menujuk jari tanganya ke wajahku dan berkata," kamu lihat saja nanti, setelah kamu bercerai dengan Mas Raka, siapa yang akan bahagia?"


"Wah, wanita alot ini nantangin aku ya!"


"Ya, memangnya kenapa?"


"Tidak kenapa kenapa, aku hanya senang saja dengan nyali peotmu itu!"


"Heh, Anna. Bisa tidak kamu hilangkan kata kata peot itu dari mulutmu?"

__ADS_1


__ADS_2