
Anna masih dengan ponsel yang menyala, menyorot pada wajah cantiknya. Ia bergulang guling ke sana kemari, seperti orang baru merasakan jatuh cinta. kedua ujung bibir melebar menandakan sebuah senyuman, kedua mata sesekali mengedip, menggelengkan kepala dan badan saat menerima pesan dari Galih.
Antara senang, dan juga bingung. Anna seakan kembali dimasa masa anak remaja yang baru saja mengenal cinta. Pipi masih menampilkan kemerahan, pertanda dirinya malu saat kata kata gombal dilayangkan lewat pesan oleh Galih.
"Mamah, kenapa? " Pertanyaan tiba-tiba dilayangkan oleh salah satu anak Anna, yang tak lain ialah Farhan.
"Farhan! " Tiba tiba saja Farhan sudah berdiri pada pintu kamar sang ibunda yang ternyata terbuka.
"Mamah, ngapain senyum-senyum sendiri begitu?"
Anna mempersilahkan anak pertamanya masuk ke dalam kamar, terlihat raut wajah Farhan merasa tak senang. Entah kenapa dengan anak itu?
Membuat Anna duduk di pinggir tempat tidur, melihat raut wajah kesedihan dari anaknya yang sudah berumur tujuh belas tahun. Umur yang mulai menginjak masa masa remaja.
Mengusap pelan rambut Farhan, dan bertanya pada anak pertamanya." Apa yang tengah kamu pikirkan, nak? "
Hanya cara itu Anna, bisa tahu kesedihan yang dirasakan Farhan. Kelembutan dan kasih sayang. Dengan harapan Farhan bisa terbuka dan menceritakan semua yang tersimpat dalam benaknya.
"Ayo cerita sama, mamah? "
Farhan menatap dengan kedua mata sayunya, ia malah menunduk, dan kini menjawab apa yang sebenarnya terpendam dalam hati kecilnya.
"Farhan sebenarnya keberatan jika mama menikah lagi. Farhan gak mau lihat mama terluka untuk kedua kalinya, Mama tahu sendiri kan Papa Raka juga begitu jahat dan tega meninggalkan mama."
Deg ....
Ana terdiam, setelah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Farhan, Iya seakan mewakili hati Anna yang memang sebenarnya sedikit ragu-ragu menikah dengan Galih, karena takut akan terluka untuk kedua kalinya.
Namun, karena keseriusan Galih, Anna yakin jika dia akan menjadi laki laki yang baik untuknya dan juga anak anak, jika pun Ana sampai salah mengira akan kebaikan Galih, mungkin semua itu adalah nasib dalam hidupnya.
Karena jodoh, takdir. Sudah di atur oleh sang maha kuasa.
Anna mendekat sang anak yang sudah menginjak umur 17 tahun, ia memeluk dengan rasa kasih sayang.
"Pak Galih itu laki-laki baik, Farhan. Enggak mungkin dia jahat seperti papah Raka. Mamah yakin itu."
Setelah menasehati Farhan, perlahan Ana mulai melepaskan pelukannya. Ia melihat air mata keluar dari pelupuk kedua mata anaknya, kedua tangan Anna mulai mengusap air mata yang sudah berjatuhan mengenai pipi Farhan.
__ADS_1
" kamu jangan nangis, Farhan."
Farhan menganggukkan kepala setelah mendengar nasehat dari sang mamah."Maafpin Farhan ya. Mah."
" Kenapa harus minta maaf, kamu kan nggak salah, nak? Mama senang jika kamu selalu memperhatikan keadaan Mama dan juga perasaan mama."
kedua ujung bibir Farhan kini terangkat memperlihatkan sebuah senyuman di hadapan Anna." ini sudah malam, sebaiknya kamu cepat tidur Besok kan kamu sekolah."
"Iya, mah."
Farhan mulai beranjak berdiri, ia kini berpamitan untuk segera tidur kepada sang ibunda. Punggung anak pertama Anna, kini mulai tak terlihat lagi, setelah ia menyuruhnya untuk segera tidur.
Wanita ber bola mata hitam dengan bulu matanya yang lentik, kini menarik napas menahan rasa kegelisahan dan juga rasa sesak yang mendera setelah mendengar perkataan Farhan.
Tring ....
Nada pesan kini terdengar dari ponsel Anna, perlahan tangan kanannya mulai meraih ponsel, melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
(Anna, kenapa tidak di balas.)
(Apa kamu sudah tidur.)
Ternyata Galih mengirim pesan beberapa kali pada ponselnya. Membuat rasa semangat untuk membalas pesan dari Galih seketika menghilang,
Rasa bimbang kini dirasakan oleh Anna, padahal pernikahannya sebentar lagi segera dilaksanakan.
"Ayolah, Anna. Kamu kenapa jadi seperti ini, dua hari lagi acara pernikahan kamu."
*****
Di tengah lamunan Anna. ponsel kini kembali bersuara, Anna mengira jika Gali menelpon. Namun ternyata sang kakak.
"Ada apa Kak Indah menelepon?"
Tangan kanan mulai menggeser benda berwarna hijau yang ternyata mengangkat panggilan telepon dari kakaknya. " Halo Anna."
Baru saja Anna mulai berbicara, ternyata kakaknya sudah terlebih dahulu mengatakan kata Halo.
__ADS_1
"Anna."
Terdengar suara gelisah dari nada suara kakaknya, membuat Anna sedikit." Kakak kenapa? Seperti gelisah."
"Iya An, hati Kakak kini merasa gelisah, karena dua hari lagi kakak akan menikah dengan seorang lelaki muda yang baru saja kakak kenal. kamu bisa bayangkan kakak yang sudah berpengalaman ini, harus menikah dengan Deni yang masih berusia 20 tahun. Itu rasanya tak mungkin Ana, apa bisa kakak menjalani hidup Kakak dengan seorang anak muda? Bukannya kamu tahu sendiri saat menikah dengan Danu, Kakak disakiti apalagi sekarang kakak menikah dengan lelaki muda bernama Deni itu."
Anna tak menyangka jika bukan dirinya sajalah yang sekarang mengalami kegelisahan, karena memang Anna dan juga kakaknya tak jauh berbeda harus mengalami pernikahan yang gagal.
"Kakak, tenang dulu ya. Anna juga paham dengan apa yang kakak rasakan saat ini, jadi sebaiknya kita saling menguatkan saja, kak. mudah-mudahan pernikahan yang kedua kali ini. adalah jodoh kita selama-lamanya walau memang itu hanya perkiraan kita sendiri dan kita tidak tahu nasib kita kedepannya seperti apa, apalagi menyangkut tentang takdir."
"Apa yang kamu katakan memang benar. An. Tapi, bagaimana caranya menghilangkan kegelisahan. Kakak dari tadi belum bisa menutup kedua mata untuk tidur."
" Ya sudah coba Kakak telepon Deni."
Anna memberi petunjuk kepada kakaknya agar bisa menghilangkan kegelisahan dalam diri yang terus semakin merusak pikiran.
" Kamu gila ya, An. Mana mungkin Kakak menelepon Deni."
"Kak, itu cara satu-satunya untuk menghilangkan kegelisahan kita Kak. Coba saja Kakak telepon Deni sekarang, Ana jamin kegelisahan itu akan hilang dengan kata-kata manis dan juga keyakinan Deni pada kakak."
"Tapi. An, masalahnya?"
" Masalah apa lagi Kak?!"
" Kakak gengsi lah nelepon Deni." Oceh sang kakak seperti anak kecil, Ana menepuk jidatnya dengan berkata." Mm, ya sudah nanti ...,"
Belum perkataan Ana terlontar semuanya, saat itulah Indah berteriak histeris, terdengar dari sambungan telepon ia berkata bahwa Deni meneleponnya.
Sang kakak yang memang masih merasakan kegelisahan, malah bertanya kepada Anna dengan pertanyaan yang sedikit konyol," ini gimana, An. Deni menelpon kakak."
Ana semakin kesal dengan tingkah kakaknya, yang semakin kekanak-kanakan, "Ya angkat lah kak. Masa di anggurin."
"Ya sudah. kakak angkat dulu ya. Mudah mudahan dengan mengobrol bersama Deni hati kakak tenang."
Sambungan teleponpun terputus sebelah pihak, Anna tertawa kecil sembari menggelengkan kepala," Kakak Indah, ada ada aja ya memang dia."
Dreett ....
__ADS_1
Ternyata setelah sambungan telepon bersama sang kakak terputus Galih kini menelepon, karena pesan yang tak kunjung di balas.
"Pak Galih." Membulatkan kedua mata ada kegelisahan terbesit pada hati Anna.