Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 50 Memberi pengertian


__ADS_3

"Tapi pak, aku ingin segera mungkin memulai bisnis kita," ucapku pada Pak Galih, berharap jika lelaki itu menuruti keinginanku saat ini.


"Baiklah kalau begitu," balas Pak Galih. Pada akhirnya lelaki itu mau menuruti apa permintaanku.


Kami mulai melihat tempat usaha yang akan aku kembangkan di tempat yang sudah dipilih Pak Galih untukku.


Setelah sampai di tempat yang dituju, kami mulai turun dari mobil. tempat usahaku ternyata sudah dibangun dan mulai berdiri Kokoh.


Aku merasakan rasa tak sabar ingin segera menempati tempat ini, memulai usaha dan membuktikan kepada Mas Raka, jika aku mampu dan bisa menjadi wanita sukses tanpa harus diinjak harga diri oleh mantan suamiku sendiri.


"Bagaimana? kamu sudah puas melihat tempat yang sebentar lagi akan menjadi milikmu?" Aku tentu saja bersemangat menganggukan kepala di depan Pak Galih, hatiku benar-benar dibuat bahagia oleh lelaki yang berdiri di sampingku saat ini. kami mulai melanjutkan perjalanan kami untuk segera pulang ke rumah. Setelah aku puas melihat lihat usaha bisnisku untuk memulai hidup lebih baik lagi.


"Anna, aku berharap usaha kita akan berjalan lancar, karna dengan ini. Kamu bisa merubah hidupmu untuk menjadi lebih baik lagi." ucap Pak Galih, terus melontarkan kata kata positif kepada diriku agar aku lebih bersemangat dan bangkit dalam keterpurukan.


"Aku berharap begitu, Pak Galih. Aku ingin ketiga anak anakku bisa bersekolah tinggi, dan mengejar cita cita mereka," balasku dengan selalu memperlihatkan rasa bahagia di depan Pak Galih.


"Oh, ya. Sepertinya hari sudah mulai sore, tak terasa membuat kita lupa untuk pulang ke rumah," ajak Pak Galih, untuk segera pulang kepadaku.


Perjalanan menuju pulang, begitu membuatku bahagia. Kami dikelilingi dengan kebahagian di setiap perjalanan.


Setelah sampai di rumah.


Saat aku mulai turun bersama Pak Galih, saat itulah Mas Raka dan juga Ajeng tengah mengetuk ngetuk pintu, mereka berdiri di depan pintu, dengan berteriak teriak memanggil namaku.


"Heh, Anna. Cepat keluar."


Cara mereka begitu tak sopan, mengetuk pintu rumah kak Indah , dengan mengedor gedor dan berteriak keras. Mereka seperti tak diajarjan adab dan bertamu dengan baik ke rumah orang.


"Anna, kamu lihat mereka baru saja tadi bertemu di rumah sakit, mereka datang ke sini. Mereka itu kenapa? Seperti tak mau membuat hidupmu tenang saja," ucap Pak Galih, membuat aku merasakan hal yang sama.


Hingga dimana aku berjalan terburu-buru menghampiri mereka berdua. Ada rasa takut kepada ketiga anak anakku di dalam rumah, walau Kak Indah tak membuka pintu, mereka selalu melakukan hal yang membuat sang tuan rumah, marah.

__ADS_1


Aku benar benar ketakutan, saat ini, Aku takut mereka berhasil membuka pintu rumah Kak Indah, dan bisa saja melakukan hal yang tidak baik terhadap Kakakku sendiri.


"Ada apa kalian datang ke sini? Bukannya sudah jelas di pengadilan kemarin, bahwa. Hak asuh anak jatuh kepada aku, Mas." bentakku pada Mas Raka, berusaha membut ia mengerti.


Mas Raka dan juga Ajeng membalikkan wajah ke hadapanku," apa tidak boleh seorang ayah menemui anaknya sendiri ,bukannya Radit dan juga Lulu itu anak kandungku."


Sebenarnya aku tak suka jika harus menunjukkan Radit kepada ayahnya saat ini, aku takut jika Radit ingin ikut bersama Mas Raka.


Karna hati anak kecil yang masih plin plan, dan belum paham arah tujuan.


Maka dari itu, aku menyuruh Kak Idah menjaga Radit dengan baik. Apalagi sekarang, Radit cenderung ingin selalu bersama ayahnya. Entah kenapa Radit berubah seketika di saat aku berusaha menjadi wanita kuat."


Radit yang sekarang ini, selalu membuat aku kesal, sampai aku selalu melayangkan kata-kata yang tidak pantas, dan hampir melukai perasaan anak itu.


Padahal dari dulu aku lebih sabar menghadapi anak-anakku, tapi sekarang kenapa aku begitu lemah menghadapi anakku sendiri. Seakan tak bisa menasehati mereka untuk menjadi lebih baik lagi.


Mas Raka dengan amarahnya kini berucap dengan nada tinggi di hadapanku," kenapa kamu malah melamun seperti orang gila. Cepat. Tunjukkan Radit kehadapanku, aku sebagai ayahnya ingin sekali bertemu dengan anak itu."


Ajeng kini menimpal perkataanku, ia sering ikut campur akan masalah yang selalu aku hadapi dengan Mas Raka." Sudahlah Anna, kasihan Mas Raka. Kamu tega sebagai seorang ibu menjauhkan anaknya dengan ayah kamdungnya sendiri."


"Diam kamu jangan ikut campur masalahku. Kamu tidak akan mengerti," pekiku pada Ajeng.


Saat itulah, aku membuka pintu rumah dengan kunci candangan, menyeruh Pak Galih masuk. Dan membiarkan Mas Raka dan Ajeng berada di luar rumah.


"Maaf ya, mas."


Bruggg ....


Kututup pintu dengan begitu keras, agar mereka paham, jika aku memberi kode mengusir mereka untuk tidak berharap bertemu dengan Radit.


Mereka seperti kesal atas perlakuanku yang mengusir mereka.

__ADS_1


"Kak Indah."


Aku berteriak memanggil Kak Indah, berharap jika tidak terjadi apa apa dengan mereka.


"Kak Indah."


Akhirnya kak Indah keluar dari dalam kamar, segera menghampiriku. Mereka terlihat ketakutan, tidak dengan Radit.


"Apa mereka sudah pergi?" Tanya Kak Indah memeluk anak anakku.


"Kakak tak usah kuatir, mereka sudah aku usir pergi dari rumah ini!" jawabku pada Kak Indah.


"Syukurlah, kakak takut jika mereka membawa anak anakmu," ucap Kak indah memperlihatkan wajah kekuatiranya di depanku.


Aku begitu mengerti dengan kekuatiran kakaku, maka dari itu, aku langsung mengendong Lulu. Sedangkan Radit masih dengan wajah cemberutnya," Radit kenapa, Kak?"


Kak Indah menjelaskan semuanya, dimana Radit meronta ingin bertemu dengan ayahnya, hingga aku berusaha mendekat ke arah anak itu dan berkata," Radit, kamu kenapa sayang?"


Radit tetap saja diam, membuat aku terus mendekat agar anak keduaku merasakan nyaman saat dia berdekatan denganku.


Semejak mengurus surat cerai, dan kepegadilan. Aku jarang memperhatikan Radit, hanya Farhan yang mau menjaga adiknya.


Maka dari itu Radit yang masih membutuhkan kasih sayang, merasa terabaikan.


"Nak, sayang. Mamah minta maaf ya, mamah mohon sama kamu mengerti akan keadaan mama yang sekarang, mamah sayang sama kamu Radit. Jika waktu sudah menentukan mama janji akan bawa kamu menemui ayahmu. Mamah sekarang tak berani, mamah takut kamu kenapa kenapa seperti kemarin." Ucapku sembari mengusap pelan kepala rambut anakku.


Radit hanya menundukkan kepala," nak. Mamah juga tidak mau seperti ini, membuat kalian jauh dari ayah kalian, mamah melakukan semua ini untuk melindungi kamu."


Aku berharap Radit mengerti dengan nasehat kecilku, ia tidak membantah lagi.


"Radit, kamu mengertikan apa yang mamah katakan?"

__ADS_1


Aku bertanya lagi pada Radit, yang masih diam membisu.


__ADS_2