Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 171 keterpaksaan.


__ADS_3

Bu Sari dan Raka masih dalam obrolan tentang Galih. Lelaki yang menjadi matan suami Anna itu, kini berdiri, membelakangi sang ibu. Ia memikirkan jika atas kejadian kecelakaan ada kaitanya dengan Galih.


Karena semua yang terjadi tidak mungkin kebetulan, Raka sudah melihat dari gerak gerik Galih sendiri, awal mereka bertemu, saat Anna membawa Galih ke rumah untuk meminta tanda tangan gugatan cerai.


"Aku curiga bu, jika Galih juga ada hubunganya dengan kecelakaan Anna," ucap Raka asal menebak.


Bu Sari, ikut berdiri. Ia juga sebenarnya sudah mencurigai semua tentang Galih. "Ibu juga sepemikiran dengan kamu. Raka."


Raka membalikkan badannya ke arah Bu Sari, yang memegang erat kedua tangan yang sudah terlihat mengkerut, dengan memohon agar ibu nya mau menyelidiki tentang Galih.


Namun di tengah permohonan itu, Bu Sari malah melepaskan tangan anaknya, ia menundukkan kepala dan menjawab." ibu takut. Ibu tak mau menyelidiki lelaki bernama Galih itu ia bukan tandingan kita Raka, terlihat sekali dari kepintarannya kita akan kalah."


Belum apa-apa Bu Sari sudah menebak Galih dengan pandangan Kedua matanya, yang di mana membuat Raka kesal dan ingin memarahi sang ibu.


Raka berusaha membujuk sang ibu berkali-kali, berharap sekali jika wanita tua itu menuruti keinginnanya dengan berkata," Ayolah Bu. Ibu pasti bisa, Raka yakin sekali dengan ibu."


"Ibu kan sudah bilang. Ibu sudah lelah dengan penyelidikan yang kamu perintahkan. Sepertinya kamu memang harus membekam lama di dalam penjara." Keluh sang ibu yang tak bisa membantu anaknya lagi, karena fisik dan mental Bu Sari akhir akhir ini terlihat lemah.


Raka mengacak rambutnya, merasakan rasa frustasi karena sang ibu yang tak mau menuruti keinginan. "Ya ampun Bu. Masa iya, Raka harus membekam di penjara, yang benar aja. Bu. Raka ingin bebas menikmati dunia luar, agar Raka bisa balas dendam terhadap Anna."


"Ya harus bagaimana lagi Raka. Ibu kan sudah katakan pada kamu. Ibu itu sudah tua, Ibu ingin beristirahat dan pulang besok ke kampung menemui bapakmu," Berusaha membuat sang anak mengerti.


Raka berusaha sebisa mungkin membujuk sang ibu, agar mau membantunya. Meluluhkan hati wanita tua itu.


"Ya ampun, Bu. Masa Ibu tega kepada Raka, anak semata wayang ibu sendiri." Gerutu Raka, memperlihatkan wajah kekecewaannya pada sang ibu.


"Ibu bukan tega sama kamu, tapi kondisi ibu itu sudah melemah jadi ...."


Raka memotong pembicaraa ibunya, ia memegang kembali tangan yang terlihat berkerut itu. Wajah penuh kesedihan ditampilkan oleh Raka agar sang ibu merasa simpati.

__ADS_1


"Ayolah Bu. Ibu kan bisa deketin Farhan, membujuk anak itu.Siapa tahu setelah itu Galih bersimpati kepada ibu, setelah ibu sudah dekat dengan Farhan anaknya sendiri."


Mencoba memberi saran kepada Bu Sari.


Raka berusaha mencoba menggunakan air mata palsunya, untuk mengelabui sang ibu agar mau membantunya mencari biang keladi dalam kecelakaan yang menimpanya di masa lalu.


Bu Sari merasa iba ketika melihat Raka menangis, memohon sembari memegang tangannya. Hati seorang ibu mana tega melihat anaknya terluka,


tentunya ia akan menjaga segenap jiwa dan raga.


Bu Sari memalingkan wajah berusaha tidak menanggapi apa yang ada di hadapannya saat ini, Raka dengan bersikeras terus memohon sembari mencium punggung tangan ibunya.


karena kelemahan hati seorang ibu, membuat wanita tua dengan rambutnya yang terikat. Mau tidak mau kini menuruti keinginan sang anak.


"Baiklah kalau begitu, tapi sekali ini saja. Ibu bantu kamu Raka, setelah ini ibu tidak akan membantu kamu lagi."


Menarik napas pelan mengeluarkan secara perlahan, Bu Sari kini dihadapi oleh setiap keinginan anaknya. Padahal ia ingin tenang, tapi karena Raka yang memaksa pada akhirnya dia harus berpura-pura baik terhadap Galih dan juga mendekati anaknya Farhan.


Wanita tua itu tak menjawab rasa terima kasih dari anaknya, mungkin Ia melakukan semuanya karena keterpaksaan.


Tak ada senyuman terpancar dari bibir Bu Sari untuk Raka.


"Ya sudah, setelah ini Ibu mau menjenguk Ajeng di rumah sakit. Bagaimanapun kita tidak boleh memperlihatkan keburukan kita di depan orang lain, agar rencana kita berjalan dengan lancar. kamu tahu sendiri kan semua rahasia kamu dan ibu sudah terbongkar oleh Anna. Padahal selama ini Ibu diam itu hanya menutupi kebohongan kamu, kenyataannya gara-gara kamu membawa Ajeng Semua menjadi sia-sia."


Raka hanya diam setelah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut ibunya sendiri, semua sudah terjadi dan tak bisa terulang kembali.


Bu Sari mulai berpamitan untuk segera pergi kepada anaknya, karena hari sudah menunjukkan sore. Bu Sari takut jika tidak ada kendaraan yang melintas.


Berjalan keluar dari kantor polisi, memberhentikan mobil untuk segera pulang ke rumah.

__ADS_1


Di dalam perjalanan menuju pulang, terus hari menatap ke arah jendela kaca mobil. Terlihat pemandangan kota yang begitu indah, membuat wanita tua itu hanya menghelap napas, meratapi nasib yang begitu terasa melelahkan.


Ingin rasanya iya berada di titik tenang, tapi karena keadaan memaksakannya untuk tetap merasakan lelah, dan juga nasib yang terus mengelilinginya.


Membuat ia harus tetap kuat menjalani semuanya.


"Bagaimana bisa, aku bebas dari kebohongan ini."


Gumam hati Bu Sari.


Ponsel berbunyi.


Bu Sari mulai melihat layar ponsel jadulnya, terlihat nama dari seorang lelaki yang menjadi suami.


Iya mulai mengangkat panggilan telepon, dengan suara seraknya. Karena di dalam perjalanan menuju pulang, ya terus menangis meratapi nasib. karena tekanan Raka yang terus-menerus menyuruhnya.


"Halo, pak."


Suara lelaki tua yang menemani selama empat puluh tahun, kini menjawab ucapan Bu Sari.


"Bu, kapan pulang?" Sang suami ternyata mengharap kepulangan sang istri, membuatku Sari berusaha menahan air mata sebenarnya Ia juga ingin pulang hari ini, sudah mempunyai uang yang diberikan Farhan untuk dirinya.


Namun, karena merasa kasihan terhadap Raka, pada akhirnya wanita tua itu harus merelakan dirinya diperintah terus-menerus oleh anaknya sendiri.


"Entahlah pak, mungkin setelah Raka keluar dari dalam penjara!" jawaban Bu Sari membuat suaminya kesal. Lelaki tua itu sedikit memarahi sang istri dengan menasehatinya.


"Bu, mau sampai kapan diam di kota hanya untuk menunggu Raka keluar dari dalam penjara, Raka sudah besar biarkan saja dia mediasi diri agar berubah. Ibu sebagai orang tua tak usah terus menerus megikuti keinginnya, yang ada Raka malah semakin tak tahu diri."


Bu Sari tak tahan dengan rasa lelahnya, ia menangis sejadi jadinya. Tentulah membuat sang suami panik.

__ADS_1


__ADS_2