
Farhan mendekat dan kini duduk di samping kiri Anna, " Farhan, apa ada yang pernah kamu pikirkan saat ini? Kata papah kamu berbeda sekali dari sebelumnya, setelah menemui nenek. Apa Nenek mengatakan sesuatu kepadamu, nak?"
Farhan, terdiam.
"Farhan kok kamu diam saja." Raut wajah anak remaja itu menatap ke arah sang Papa, seperti tak mau percakapannya didengar oleh ayah kandungnya sendiri.
Ponsel tiba-tiba berbunyi, Galih kini mengangkat panggilan telepon, dan pergi dari hadapan anak yang juga istrinya.
Setelah kepergian Galih membuat Farhan akhirnya ingin mengungkapkan semua perkataan sang nenek, yang terus ia pendam dalam pikiran dan juga hatinya.
"Kalau Farhan bercerita kepada Mama tentang nenek, Mama akan marah?"
Anna mengukir senyum pada bibirnya, perlahan ia mengusap rambut anak remaja yang kini berusia tujuh belas tahun, Anna selalu mengnggap Farhan masih seperti anak kecil.
" Memangnya apa yang kamu ceritakan kepada Mama tentang nenek?" tanya Anna, berusaha bersikap bijak di depan sang anak. Agar Farhan tidak merasa tertekan dengan pertanyaan yang terlontar dari mulutnya.
" Tapi mama jangan bilang siapa-siapa ya, apa yang Farhan ceritakan, cukup menjadi rahasia kita berdua!" jawab Farhan menempelkan telunjuk pada bibir tipisnya, Ana yang menyaksikan kelakuan anak pertamanya itu tertawa kecil."kamu ini ada-ada aja, kayak anak kecil pakai rahasia-rahasia segala."
" Sebenarnya yang mau Farhan ceritakan pada Mama, tentang nenek."
Farhan mengerutkan dahi merasa heran dengan perkataan anaknya," memangnya kenapa dengan nenek."
" Sebenarnya tadi sore saat Farhan mengantarkan nenek ke rumhanya dan nenek sempat memohon dan meminta agar membebaskan Papah Raka di dalam penjara."
Anna sudah menduga jika wanita tua itu tak berhasil membujuk dirinya, tentulah ia akan berusaha mendekati Farhan untuk bisa membebaskan mantan suaminya itu, padahal dengan cara apapun wanita tua itu tak bisa dengan seenaknya merayu Farhan dan juga dirinya. Karena bagaimanapun Raka harus diberi pelajaran karena ia berani dan tega membunuh Daniel.
" Terus kamu jawab apa pada nenek?" tanya anak takut jika anaknya menyetujui apa keinginan sang nenek. karena Ana tahu bagaimana watak wanita tua itu, Jika ia menginginkan sesuatu pastinya itu harus terpenuhi.
"Farhan, tak jawab apa-apa sama nenek? karena Papa Galih yang langsung memanggil Farhan saat itu," ucapan membuat Anna sedikit lega. Wanita dengan rambut panjangnya yang terikat, bernapas lega.
__ADS_1
"Sykurlah kalau begitu."
Namun dibalik yang ia ceritakan kepada sang ibunda, tentulah membuat dirinya tak tega, apalagi sang nenek yang kini mengontrak sendirian. Membuat Farhan merasa kasihan dan juga ingin membantu neneknya, Ana melihat kesedihan itu dari raut wajah anaknya sendiri, hingga bertanya
"Apa yang tengah kamu pikirkan lagi, Farhan. kenapa kamu malah terus-menerusan melamun. Apa masih ada sesuatu yang mengganjal hati kamu saat ini. "
Ana berusaha memberi pertanyaan dengan begitu lembut dan juga penuh pengertian, agar Farhan tidak keras kepala saat menceritakan semuanya.
Anak remaja itu semakin terbuka dengan sang ibunda, ketika bercerita karena Ana tak pernah menekan ataupun membuat Farhan kesulitan. Untuk bercerita tentang apa yang kini ia rasakan.
" apa kita bebaskan saja Papa Raka di dalam penjara, agar nenek tidak sedih lagi Farhan merasa kasihan pada nenek."
Ana tentu saja tidak setuju dengan perkataan Farhan yang menyuruh Raka bebas dari dalam penjara.
Ana tetap berusaha tegas dan bersikap tenang, walau sebenarnya hatinya sudah kesal dengan nenek tua yang terus membujuk anaknya, untuk bisa merayu Anna agar membebaskan mantan suaminya itu.
"Lalu dengan cara apa? Kata nenek kalau Papa Raka tidak keluar dari dalam penjara, nenek merasa akan menderita dan lagi tidak ada yang membantu nenek dalam bekerj, begitupun dengan kakek yang kini berada di kampung halamannya."
Nenek tua itu begitu pintar dalam merayu anak muda seperti Farhan, hingga Farhan luluh dan merasa kasihan terhadap Bu Sari.
" Kita kan bisa nyuruh nenek tinggal di rumah bersama kita."
" Farhan sudah mencoba hal seperti itu, mengatakan jika nenek bisa tinggal di rumah bersama Radit dan juga Lulu. Tapi nenek bersih kuku ingin Papah Raka keluar dari dalam penjara, nenek menangis nangis dan memohon pada Farhan."
Begitu hebatnya Bu Sari bisa membuat Farhan sampai memikirkan dirinya, Ana sampai kewalahan merayu anaknya sendiri agar tidak mendengar Bu Sari yang hanya berdrama kebohongan.
" Mama bisa kan bebaskan Papa Raka. Kasihan nenek kalau Papa Raka tidak keluar dari dalam penjara, bisa-bisa nenek sakit-sakitan karena terus-menerus memikirkan Papah Raka."
Entah Kenapa Farhan begitu peduli dengan wanita tua yang sudah menyakiti hatinya, dari waktu ia kecil. Tak ada rasa kasih sayang ditunjukkan Bu Sari kepada Farhan sedikitpun, karena wanita tua itu tahu jika Farhan bukan anak kandung dari Raka.
__ADS_1
"Farhan, Mama tidak bisa mengabulkan keinginan nenek kamu, jadi sudah cukup ya kamu jangan terus memaksa mama."
Farhan terlihat kecewa dengan perkataan yang terlontar dari mulut Anna,ia menundukkan pandangan tak berani menatap ibu angkatnya.
Setelah menerima panggilan dari beberapa klien, Galih kini menghampiri anak dan juga istrinya, terlihat sekali raut wajah keduanya terlihat begitu muram apalagi dengan Farhan yang terlihat sedikit menangis.
Sedangkan Ana menatap perlahan ke wajah anaknya yang tiba-tiba berubah, dari yang tak suka kepada neneknya kini merasa begitu sayang. Sebenarnya apa yang sudah dilakukan Bu Sari hingga Farhan menjadi anak yang begitu menyayangi nenek tua itu.
"Anna, Farhan. Kok, kalian diam saja, apa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian berdua?" itulah Galih dia selalu mencurigai apa yang terlihat di depan matanya, akan kecurigaan yang benar-benar dirasakan Farhan dan juga Anna kalau memang mereka sedang mempunyai masalah.
Wanita tua yang seperti ingin memecah belahkan perasaan ibu dan juga anaknya.
" Tidak ada kok mas, Farhan memang terlihat kelelahan dia tak bisa berpikir jerni dalam berbicara pun dia selalu tiba-tiba saja berubah, tidak seperti dulu."
Seperti sebuah kode untuk Galih agar mengerti dengan apa yang dikatakan, Anna.
"Farhan mau pulang dulu. Ketemu Radit dan juga Lulu."
"Ya sudah, nanti bareng saja sama papa. "
"Tak usah Pah. Farhan bisa pergi sendiri naik taksi. "
"Ya sudah, kamu hati-hati ya. "
Farhan pergi begitu saja, tak menjawab lagi perkataan beliau. lelaki berbadan kekar dengan tubuhnya yang tegap, bertanya kepada sang istri. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan Farhan. Kenapa tiba-tiba saja wajahnya seperti orang yang muram dan juga marah, kecewa terhadap kamu, Anna?"
Anna juga sedikit bingung dengan perubahan anaknya yang tiba-tiba saja mengasihani Bu Sari? Sebenarnya apa yang sudah Bu Sari katakan terhadap Farhan, sampai anaknya sendiri begitu sayang terhadap nenek tua itu.
Atau jangan jangan ada sebuah ancaman?
__ADS_1