
Sebelum pernikahan Nita diselenggarakan, ia berniat untuk menemui Bu suci dan Bu Ita di dalam penjara, walau bagaimana pun mereka berdua tetap saudara alamrhum ibunda Nita.
"Kamu mau ke mana, neng?" pertanyaan Saiful membuat Nita menghentikan langkahnya, ia tersenyum menatap sang calon suami," loh, Aa. Kebetulan Nita mau pergi ke kantor polisi, menjenguk Tente Suci dan Bu Ita."
Saiful membalas senyuman calon istrinya itu, " pantesan gaya busananya beda!"
Nita mengerutkan dahi setelah mendengar apa yang dikatakan Saiful, " tidak apanya sama-sama aja kayak kemarin-kemarin, Aa. "
"Ya beda aja, lebih cantik, " balas Saiful yang ternyata menggoda Nita.
Nita mencubit lengan Saiful," mm. Gombal, si aa mah."
Saiful tertawa, kedua pipi memerah," gombal apanya, beneran ih."
"Udah ah, Nita malu. Oh ya, a. Sekalian Nita juga mau pergi ke rumah sakit, liat ke adaan Intan," ucap Nita, Saiful begitu semangatnya ingin mengantarkan sang calon istri.
"Ya sudah, ayo biar sekalian Aa anterin," balas Saiful.
Nita tak bisa menolak, pada saat itulah ia berangkat pergi bersama dengan Saiful menaiki mobil.
Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. " Motornya ke mana A, biasanya kan pake motor, tumben amat pake mobil."
Saiful tersenyum dan menjawab." lagi pengen aja pake mobil, habisnya sayang kalau mobil di anggurin terus."
"Emangnya, ibu nggak marah?" tanya Nita pada Saiful penuh dengan keraguan.
"Ngapain marah, ini kan mobil punya Aa!" jawab Nita, merasa tenang. Ia takut jika apa nanti kata orang kalau pake mobil.
Nita selalu ingin tampil sederhana. " Sudah, kamu jangan terlalu mikirin kata tetangga, nanti kamu lihat saja, mereka bakal ngapain ke kamu, Neng! "
Penasaran dengan perkataan Saiful, Nita kini bertanya," memangnya kenapa dengan para tetangga."
"Liat saja nanti pas kita pulang dari rumah sakit dan kantor polisi, " ucap Saiful merasa penasaran.
__ADS_1
Nita berharap tidak ada yang menakutkan atau masalah yang terjadi.
********
Para ibu ibu terlihat begitu cemas setelah mendengar kabar bahwa Nita sudah kembali lagi ke kampung halaman, tapi mereka belum juga melihat keberadaan Nita yang berjalan setiap pagi melewatu rumah para ibu-ibu ketika hendak pergi bekerja.
"Katanya si Nita sudah pulang dari rumah sakit, kok saya nggak lihat dia lewat ke sini ya?" tanya Bu Sarah, berharap sekali bisa bertemu langsung dengan Nita, meminta maaf agar dia tidak dimasukkan ke dalam penjara.
"Sama bu, saya juga tadi pagi ke rumah Nita tapi dia tidak ada, soalnya sudah beberapa kali saya Ketuk pintu rumahnya, tidak juga dibuka-buka!" jawab Bu Ratna, menatap ke sana kemari berharap jika ia melihat Nita.
"Bu Sarah lihat, itu kaya Bu Nira," ucap Bu Ratna menunjuk wanita tua yang tengah berjalan pagi.
"Ya sudah ayo kita samperin dia. Siapa tahu dia tahu keberadaan Nita. " Para ibu ibu ikut serta menghampiri Bu Nira yang terlihat berjalan, melewati rumah para ibu ibu, dimana Bu Ratna dan Bu Sarah menghentikan langkah kaki wanita tua itu.
"Bu Nira, tunggu."
Mendengar panggilan, Bu Nira seketika menghentikkan langkah kaki . "Oh kalian."
Pertanyaan Bu Nira membuat para ibu-ibu sebenarnya enggan bertanya soal Nita.
Karena wajah Bu Nira yang dulunya ramah kini berbanding balik," oh ya bu, katanya si Nita pulang ke rumah ya?"
"Mm, iya memangnya kenapa!" jawab Bu Nira malas meladeni para ibu-ibu.
"Kebetulan sekali, kami mau meminta maaf kepada Nita. Tadi pas kami pergi ke rumahnya dia tidak ada," ucap Bu Ratna, sudah tak sabar ingin bertemu dengan orang yang sudah ia sakiti.
Bu Nira merasa kasihan dengan para ibu-ibu yang mengharapkan Nita memaafkan mereka," Kebetulan sekali tadi Nita itu pergi dengan anak saya ke rumah sakit. Katanya dia mau menemui Intan. Terus Nita mau menengok Bu suci dan juga Bu Ita."
"Lama nggak ya pulangnya?" tanya Bu Sarah, terlihat tak sabar ingin menemui Nita.
"Kayanya sore deh mereka pulang, ini perkiraan saya!" jawab Bu Nira. Membuat rasa tenang pada hati Bu Sarah.
"Ya sudah kita nanti ke rumah Nita saja sore," ucap para ibu ibu, berterima kasih kepada Bu Nira yang sudah memberitahu mereka. Pada saat itulah Bu Nira pulang dengan perasaan senang, kepada akhirnya Nita mendapat pembelaan dan juga kebaikan.
__ADS_1
**********
Nita sudah sampai di rumah sakit, ia kini mencari ruangan Intan bersama Saiful.
"Ruangannya di sini."
Membuka pintu ruangan Intan, terlihat gadis itu tengah melamun menatap ke arah jendela kamar rumah sakit.
Nita melangkahkan kaki mendekat ke arah sahabatnya itu," Intan?" Mendengar suara Nita, lamunan Intan kini membayar, menatap ke arah suara yang ia rindukan.
"Nita, kamu ke sini?"
Harapan ingin bertemu dengan sahabat, kini terkabul sudah. Nita semakin dekat ke arah Intan, hingg di mana Gadis itu langsung memeluk sang sahabat dengan begitu erat," kamu akhirnya datang juga, aku benar-benar merindukan kamu."
"Aku juga sama, sangat merindukan kamu."
Pelukan keduanya menyimpan kesedihan yang amat paling dalam, mereka seperti Kedua saudara yang terpisahkan." Maafkan aku Nita."
Kata maaf itu berulang kali terlontar dari mulut Intan, Nita hanya bisa mengusap pelan punggung sang sahabat," sebelum kamu meminta maaf. Aku sudah memaafkan kamu Intan, Syukurlah jika keadaanmu sekarang baik-baik saja."
"Ya, Terima kasih atas kebaikan kamu, maafkan aku karena sudah menghilangkan Lulu, aku juga tidak tahu sekarang dia ada di mana."
Nita mendengar perkataan Intan yang terlihat begitu menyesal karena sudah menjual Lulu," pihak polisi sudah mencari keberadaan Lulu, walau mungkin Lulu sekarang belum ketemu."
"Apa Nyonya Marimar sudah memberitahu siapa yang membeli Lulu?" pertanyaan Intan tentulah membuat Nita menjawab, " alamat yang sudah diberikan Nyonya Marimar sekarang sudah tidak berguna sama sekali."
"Loh, kenapa bisa seperti itu, apa pihak polisi tidak menekan Nyonya Marimar?" tanya Intan, masih tak mengerti dengan perkataan Nita.
" Orang yang berada di alamat itu sudah pergi jauh, orang itu ternyata membawa Lulu entah ke mana, pihak polisi juga belum menyelidiki asal orang itu dari mana. Yang pastinya penyelidikan ini pasti akan lama," ucap Nita. semakin membuat Intan merasa menyesal sekali.
"Andai saja kemarin aku tidak menjual Lulu ke Marimar, kemungkinlah Lulu sekarang berada di sisi kedua orang tuanya," balas Intan.
" Sudahlah, sekarang kita hanya bisa mendoakan, agar Lulu kembali lagi ke pangkuan kedua orang tuanya, aku sangat berharap sekali anak itu bisa ditemukan dengan waktu yang cepat," ucap Nita. Begitu mengkhawatirkan Lulu.
__ADS_1