
Indah yang memang keras kepala, malah masuk begitu saja, membuat Deni berusaha menahan rasa kesal.
Memulai percakapan, Indah kini berucap pada kedua insan yang berada di dalam ruangan." Anna dan Galih sebaiknya kalian bercerai saja."
Mendengar perkataan sang kakak, membuat Anna dan Galih menatap ke arah Indah.
Keduanya tentu saja merasa risih, Deni masuk menarik tangan sang istri.
Setelah keluar dari ruangan Anna, Deni mengusap kasar wajahnya, mendengar Indah terus berucap tiada henti, membuat Deni memeluk erat sang istri.
Lelaki muda seperti Deni tak berani memukul atau menyakiti fikis sang istri, ia selalu menggunakan kelembutan dan juga nasehat baik.
"Cukup ya, jangan sampai kamu merusak kebahagiaan Anna, sebaiknya jangan terlalu ikut campur, biarkan masalah seberat apapun. Mereka hadapi bersama. Jangan sampai kita terus menjadi api yang membuat keretakan pada rumah tangga Anna."
"Justru itu, aku berusaha menyelamatkan adikku sendiri. Dari Galih, lelaki yang aku baik ternyata ...."
Deni memotong perkataan istrinya, membuat lelaki muda itu mendekap sang istri. Meredakan amarah yang terus mengebu gebu," kamu jangan dulu berpikir negatip, sebelum kamu tahu kebenarannya."
"Kebenarannya kan sudah terlihat di depan mata, masa kamu tidak mengerti Deni, sudah jelas Galih mempermainkan adikku, dia membawa Ainun masuk ke dalam rumahnya sendiri."
Deni sebenarnya sudah bingung harus menjelaskan apa lagi pada istrinya ini, karena semakin Indah dinasehati, semakin wanita dihadapanya melunjak.
"Sebaiknya kita pulang dari sini ya, bukanya kamu mau ke pemakaman Danu, biar aku antar."
Mendengar nama Danu membuat Indah sampai lupa, " ya sudah, ayo. Tapi Anna."
"Sudah, kan ada Galih, biarkan saja mereka selesaikan berdua."
__ADS_1
Indah melihat Farhan duduk sendirian, membuat wanita bermata sipit itu mengajak sang keponakan. " Farhan, kamu mau ikut tante tidak."
Farhan menatap ke arah Indah dan menjawab, " tidak tante, Farhan mau sama mamah di sini."
Wanita bermata sipit itu kini membisikan suatu perkataan pada keponkanya." ya sudah, tante berharap kamu di sini bisa jaga mamah kamu."
Farhan tersenyum menganggukan kepala," baik tante."
Tak ada waktu indah berpamitan dengan sang adik, ia langsung pergi begitu saja bersama Deni
Ingin melihat pemakaman Danu, mantan suaminya.
Indah dan Deni mulai menaiki mobil menuju ke tempat pemakaman sang mantan suami, tidak butuh beberapa waktu yang lama untuk sampai di pemakaman Danu hanya menempuh waktu 20 menit saja.
Pada akhirnya mereka sudah sampai, melihat pemakaman yang begitu ramai membuat Indah merasa tak enak hati, karena ia takut jika Bu Della tidak menerima kehadirannya. Indah tahu Bu Dek begitu membenci dirinya, akibat tidak mau menuruti. Apa keinginan wanita tua itu saat, Danu masih hidup.
"Sebenarnya aku ragu karena Bu Dela yang pastinya tidak akan menerima kehadiranku saat ini, Deni. Aku malu ketika menginjak pemakaman ini, apa kita harus pergi saja dari sini? mengurungkan niat untuk melihat pemakaman mantan suamiku."
Padahal saat di rumah sakit Indah begitu bersemangat untuk memisahkan Anna dan juga Galih, tapi ketika Indah sampai di pemakaman suaminya, terlihat sekali raut wajah wanita bermata sipit itu benar-benar takut bertemu dengan wanita bernama Bu Della.
" Sudah, ayo. Sebaiknya kita menghampiri kerumunan itu, tak baik jika kita mengurungkan niat saat ingin berziarah ke makam Danu, sebaiknya niat kita ini kita teruskan walau kemungkinan besar. Kita tidak dianggap saat berada di pemakaman Danu. "
Indah mengganggukan kepala, lelaki yang menjadi suaminya kini memegang tangan sang istri untuk berjalan menuju ke pemakaman Danu mantan suami Indah.
Bu Dela yang menangis histeris melihat kedatangan Indah, malah membuat luka hati wanita tua itu semakin dalam. Bagaimana bisa seorang wanita yang dimintai untuk menjaga anaknya datang dengan membawa seorang lelaki yang menjadi suaminya barunya saat ini.
Bu Dela terlihat marah besar, kedua matanya membulat menunjuk ke arah Indah dengan tatapan yang begitu terlihat menyimpan dendam. "Untuk apa kamu datang ke sini?"
__ADS_1
Indah berusaha menjawab pertanyaan Bu Della dengan tutur kata yang lembut, dan juga senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya itu," saya ingin melihat pemakaman Mas Danu."
"Alah, alasan saja. Sudahlah sebaiknya kamu pergi dari sini, kamu ini tidak pantas berada di sini. Saya tahu kamu datang ke sini hanya ingin memamerkan suami baru itu dan ingin menjelekan anakku di depan semua orang. "
Mendengar perkataan wanita tua itu, tentulah membuat Indah tak merasa begitu.
"Bu, Indah datang ke sini tidak ada maksud seperti itu. Indah ingin sekali datang melihat pemakaman Mas Danu, bagaimanapun Indah saat ini. Indah tetap saja menghormati lelaki yang pernah menjadi pasangan hidup Indah, walaupun itu hanya sementara tidak sampai .... "
Belum perkataan Indah terlontar semuanya, Bu Della kini melayangkan kemurkaan dalam hatinya di depan mantan menantunya itu, "sudah cukup dengan omong kosong mu itu, sebaiknya kamu pergi dari sini. Saya tak sudi, jika di pemakaman anak saya ini ada wanita seperti kamu, yang tega dan tak mempunyai perasaan sedikitpun terhadap anakku sendiri. Cepat pergi dari sini. "
Deni berusaha membujuk istrinya untuk pergi dari pemakaman, yang mungkin malah membuat ketidak nyamanan pada orang orang yang datang melayad.
Indah yang tak mau pergi begitu saja, mencoba untuk meminta pengertian pada mantan mertuanya itu." Bu tolong, Indah ingin sekali melihat pemakaman Mas Danu untuk terakhir kalinya. Indah juga ingin mendoakan Mas Danu saat ini. "
Bu Dela yang memang sudah benci terhadap Indah, kini membentak wanita bermata sipit itu." Sudahlah, anak saya ini tidak butuh doa darimu, tidak butuh doa dari orang munafik sepertimu. CEPAT, sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku membuat kamu menyesal."
Deni berusaha membujuk sang istri lagi, akan tetapi keras kepala Indah benar-benar tak bisa dirubah, ya tetap saja pada pendiriannya.
Indah berdiam diri tak memperdulikan ocehan mantan mertuanya itu.
"Cepat pergi dari sini. Kenapa kamu masih saja berdiri di sini, saya tidak sudi jika saya melihat kematian Danu dan penguburannya saat ini. Dipertonton oleh wanita munfik seperti kamu. Cepat pergi dari sini, semua ini gara-gara kamu."
Bu Dela tetap saja menyalahkan Indah bagaimanapun, sepertinya wanita tua itu tak bisa menerima takdir yang sudah ditentukan yang maha kuasa. Ia tetap saja menyalahkan Indah sebagai penyebab kematian Danu.
Deni berusahaan memberi penjelasan terhadap Bu Della, agar tidak memarahi Indah. Memberikan kesempatan untuk terakhir kalinya bisa melihat pemakaman mantan suaminya itu.
Namun tetap saja Bu Dela, tetap dengan pendiriannya ya, ia terus saja mengusir Indah habis-habisan.
__ADS_1