Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 163 Bu Sari Datang


__ADS_3

Galih hampir lupa dengan ponselnya, yang berada di dalam mobil, saat telah menunggu Ainun keluar dari dalam rumah. Galih membuka pintu mobil dan melihat ponselnya yang tersimpan di dalam mobil, ia melihat beberapa kali panggilan tak terjawab pada ponselnya begitupun dengan pesan yang datang.


"Anna, Ya ampun pastinya dia sangat mengkhawatirkan keadaanku dan juga Farhan yang belum kembali ke rumah sakit." Gumam hati Galih, saat mengecek ke pesan yang dikirim sang istri.


Galih mulai membaca isi pesan yang dikirim oleh istrinya, melihat pesan dari sang istri tentulah membuat Galih merasa bersalah karena membiarkan istrinya berbohong kepada Indah sang kakak, untuk menutupi dirinya yang kini tengah mempertemukan Farhan dengan ibu kandungnya sendiri.


Lelaki berbadan kekar dengan hidungnya yang mancung Itu kini keluar dari dalam mobil, yang di mana Farhan mulai bertanya dengan raut wajah kegelisahan sang papah.


" Papah kenapa, ke raut wajahnya muram begitu?"


Pertanyaan Farhan mulai dijawab oleh Galih, " Sepertinya kita terlalu lama di sini, sampai membuat Tante Indah curiga kepada kita berdua."


Farhan yang ingin menjawab perkataan Papanya kini terhalang oleh Ainun yang baru saja datang.


Kedua lelaki itu terpana dengan penampilan Ainun yang begitu sederhana, suara detak jantung seakan berhenti ketika melihat aura terpancar dari wajah Mantan istrinya itu.


Namun dengan kesadaran Galih. Ya mulai mengingat istrinya yang berada di rumah sakit, menepis hawa napsu yang datang secara tiba-tiba menggoda jiwa untuk menyukai wanita yang berada di hadapannya.


"Ibu Ainun cantik ya, pah."


Anak remaja itu memuji kecantikan Ainun ibu kandungnya sendiri, akan tetapi Galih yang sudah sadar, menjawab perkataan Farhan." tetap saja yang cantik itu Mama Anna."


Farhan tersenyum kecil dengan perkataan ayahnya sendiri, yang tak tergoda dengan apa yang ia lihat di depan mata.


"Ayo kita berangkat."


Mereka mulai memasuki mobil untuk segera berangkat menuju ke rumah sakit, ada perasaan yang sedikit ragu pada hati Ainun.


Dan juga rasa takut akan Anna yang tak menerimanya dengan baik.


Galih menatap ke arah kaca mobil yang menggantung kecil di hadapannya, iamelihat raut wajah Ainun tanpa gelisah.

__ADS_1


" kamu tenang saja Ainun. Anna pasti akan menerima kamu dengan baik, Farhan bisa menemui kamu itu, karena izin dari Anna."


Betapa terkejut yang mendengar perkataan Galih, mengatakan jika Anna mengizinkan Farhan untuk menemui ibu kandungnya sendiri dan diantar oleh Galih.


Kemungkinan besar wanita lain tidak akan melakukan hal seperti itu, mereka akan ketakutan dan pastinya marah. Tapi Anna begitu baik mengizinkan Farhan bertemu dengan ibu kandungnya sendiri, tanpa rasa curiga dan juga rasa cemburu sedikitpun, membuat Ainun begitu kagum dengan kesabaran yang diperlihatkan wanita bernama Anna itu.


Ainun harus banyak belajar dengan sifat dan juga kesabaran Anna. Itu semua adalah contoh untuk dirinya, agar bisa lebih baik lagi menjadi seorang wanita yang sabar dan mau menerima keadaan, yang diberikan sang Maha Pencipta untuk menghadapi setiap ujian dan kesedihan dalam hidup.


karena Allah itu tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan seorang manusia.


Maka tetaplah berprasangka baik kepada sang Maha Kuasa, agar kita tetap kuat dan ikhlas menjalani ujian yang diberikannya.


Hidup di dunia itu tak luput dengan kesedihan, kebahagiaan dan juga rasa kecewa.


**********


Di dalam rumah sakit, Indah mulai meninggalkan Anna yang kini sudah tertidur pulas.


"Sepertinya Anna sudah tidur. Bagaimana kalau kita pergi dulu keluar, agar tak mengganggu istirahatnya."


Deni juga Indah mulai keluar dari ruangan Anna, mereka bergegas pergi untuk mencari sebuah makanan ringan, dan juga minuman Untuk melegakan tenggorokan yang terasa kering dari tadi.


Pada saat Indah dan juga Deni keluar dari ruangan, sosok seorang wanita tua itu datang membuka pintu ruangan Ana yang tengah tertidur pulas.


Bu Sari datang dengan membawa sebuah keranjang buah-buahan untuk diberikan kepada Anna.


"Akhirnya ruangan Anna ketemu juga."


Wanita tua itu mendekat ke arah ranjang tempat tidur Anna, melihat mantan menantunya itu tengah tertidur pulas, Bu Sari yang tak sopan, membangunkan Anna.


"Anna, bangun. Ini Ibu."

__ADS_1


Anna, masih dengan kedua matanya yang menutup, terlihat sekali wajah kelelahan Anna, sampai dibangunkan pun Ana tetap saja tidur.


"Nie, anak masi saja molor." Umpat Bu Sari, wanita tua itu tetap saja bersikap seperti dulu di hadapan Anna. Tidak pada perubahan sedikitpun.


"Anna, bangun." Nada tinggi sedikit dikeluarkan oleh Bu Sari saat membangunkan Anna.


Terlihat sekali wanita itu begitu kesal melihat mantan menantunya masih saja tertidur pulas saat ia bangunkan.


" Ni, anak dari dulu tukang tidur. Emang dasar ya." Gerutu Bu Sari.


Wanita tua yang menjadi ibunda Raka, sebenarnya tak ingin berlama-lama berada di rumah sakit, ia hanya ingin menemui Anna, agar bisa membebaskan anaknya di dalam penjara, karena ia tahu jika sekarang Ajeng sudah dikeluarkan di dalam penjara.


Membuat rasa tak adil untuk Bu Sari. Iya juga ingin melihat Raka bebas dari dalam penjara, agar anaknya itu mendapatkan masa depan yang baik tidak terus-menerus berada di dalam penjara karena kesalahannya yang sangat fatal.


Beberapa menit kemudian, Anna terbangun, ia melihat ke sisi kiri, bukanlah sosok kakaknya, sosok itu adalah wanita tua yang ternyata Bu Sari mantan mertuanya.


"Ibu. Sejak kapan datang ke sini?"


Raut wajah juteknya, ia selalu tampilkan di depan Anna." Ya ampun Anna, dari tadi ibu datang ke sini. Kamu tetap saja tidur. Ibu ini nunggu dari tadi kamu di sini sudah lama sekali."


"Maafin Anna ya, Bu. Ana mungkin kelelahan!"


Bu Sari yang melipatkan kedua tangannya, kini menggerutu kesal dalam hati." Yaelah. Memangnya Kamunya aja yang tukang molor. "


Anna tetap bersikap sopan terhadap ibu kandung Raka, mantan suaminya itu, ia menampilkan senyuman dan berkata," tumben ibu mau datang ke sini. Oh ya Bapak mana?"


Tiba-tiba saja Bu Sari memperlihatkan wajah ramahnya, agar keinginannya terpenuhi. "kebetulan Bapak nggak ikut, ibu suruh jagain rumah di kampung, kamu tahu sendiri kan bapak itu seorang petani. Coba kalau bapak itu tidak kerja sehari, kemungkinan besar kita itu tidak bisa makan, Anna."


Anna turut prihatin dengan keadaan mantan mertuanya itu, dari dulu mereka tidak pernah berubah tetap saja seperti dulu. Hidup kekurangan.


" Oh, kalau Bapak berada di kampung terus ibu di kota tinggal sama siapa? "

__ADS_1


"Ya jelas ibu di kota tinggal sendirian, ngontrak. Kamu tahu kan biaya hidup di sini sangatlah mahal, kalau Ibu tidak ngontrak. Bagaimana keadaan Raka yang di penjarakan oleh kamu, kasihan dia kalau Ibu tinggal."


Anna sudah mencurigai keinginan ibu tirinya itu.


__ADS_2