
Sopir itu pergi tak mau ikut campur, akan masalah Intan dan juga Lulu yang menghadapi sang nyonya, ia takut terkena imbasnya dan masalah besar, karena pernah ada satu orang melakukan kebaikan untuk menolong satu anak. Hanya saja dari kejadian itu, penolong terkena imbasnya, ia menderita hingga mati entah apa yang dilakukan sang nyonya sampai si penolong itu mati sia-sia.
Sopir bernama Samsul itu membalikan badan ke arah belakang, melihat Intan yang selalu ia sebut dengan panggilan Nona. Begitu akrab menyapa Nyonya Marimar, apalagi saat ia membawa anak kecil yang ia perkirakan berumur tiga tahun itu.
"Kasihan sekali anak itu." Gumam hati Samsul.
Lelaki muda dengan pangkatnya sebagai sopir, di kejutkan oleh satpam penjaga rumah Marimar.
"Wey, lu ngapain coba jalan maju kebelakang. Eh dimana mana jalan itu maju ke depan. Brow."
Dengan logat sok ke kota kotaan, sang sahabat membuat Samsul terkejut, karena memikirkan nasib gadis dan anak kecil berumur tiga tahu itu.
Sang sahabat bernama Dani, memegang bahu Samsul sedikit memukulnya keras, " malah ngelamun lagi, kenapa? Apa yang sedang lu pikirkan sih, sampai-sampai dari tadi lu itu kurang fokus?"
Pertanyaan Dani, membuat Samsul sedikit bingung menjelaskan rasa kasihannya.
"Sebenarnya .... "
Belum perkataan Samsul terucap, Dani malah dipanggil oleh Marimar, tentu saja membuat Samsul tidak bisa menjelaskan keinginannya untuk menolong Lulu dan juga Intan.
"Bentarnya, Nyonya manggil gue."
Samsul mengganggukan kepala, setelah kata pamit pada Dani untuk menemui sang majikan yang memanggilnya, membuat dia hanya menatap dalam-dalam. Samsul mulai melangkahkan kakinya untuk pergi.
Sedangkan Dani kini berucap saat berhadapan dengan Marimar," Ada apa Nyonya panggil saya?"
Wajah Marimar terlihat begitu happy, setelah ia melihat barang baru yang dibawa oleh Intan. Perasaan seperti tak terkendali," Dani, tolong bawakan uang sebesar 100 juta ke sini."
__ADS_1
Marimar begitu mempercayai Dani untuk membawa uang dari koper yang selalu disimpan olehnya di ruangan khusus penyimpanan uang.
"Oh, baik Nyonya."
Sekilas Dani melihat anak kecil dan juga seorang gadis berada di belakang sang nyonya, membuat ia sudah membayangkan apa yang akan terjadi nanti, di kala Intan menerima uang dari sang nyonya.
Dani melangkahkan kakinya dengan begitu cepat, segera sampai di ruangan khusus penyimpanan uang. Sampai sebegitunya Marimar mempunyai uang.
Samsul kini menghentikan langkah Dani," kamu mau ke mana, Dan."
"Ya, seperti yang kamu tahu lah, Nyonya menyuruhku untuk membawa koper uang senilai 100 juta."
kedua mata Samsul membulat, baru kali ini sang nyonya menampilkan uang 100 juta. Kepada orang yang membawa anak kecil ke rumahnya.
Samsul ingin tahu niat gadis itu dengan membawa anak kecil, sampai lancangnya bertanya kepada Dani." Heh, Dan. Memangnya gadis itu mau menjual adiknya ke nyonya."
Dani berkacak pinggang mendengar pertanyaan bodoh dari sahabatnya itu," yaelah lu kayak nggak tahu aja pekerjaan Nyonya itu apa? Pastinya anak itu akan dijual oleh Kakaknya sendiri, ujung ujungnya kakaknya butuh duit. Kamu tahu sendiri kan Nyonya Marimar itu pintar menyembunyikan kejahatannya, jadi sudahlah kamu jangan terlalu ikut campur dengan masalah perjualan beli ini, kita hanya seorang pegawai. Kamu sudah tahu kan nasib sopir baik itu jadi seperti apa?"
"Sekarang lu fokus saja sama pekerjaan lu, jangan sampai mikirin yang aneh-aneh yang akan membuat diri lu menderita, kita di sini itu sudah hidup enak bekerja semau kita dan digaji begitu besar, hanya cukup tutup mulut saja tidak banyak menceritakan kejahatan nyonya."
Samsul hanya bisa mengganggukkan kepala, mendengarkan perkataan Dani, dimana lelaki bertubuh tinggi itu menepuk-nepuk bahu sang sahabat.
"Sudah gue mau ambil uang dulu."
Samsul menarik napas mengeluarkan terasa sesak, ia masih membayangkan wajah Lulu. Merasa kasihan terhadap anak berumur 3 tahun itu.
"Aku harus apa."
__ADS_1
Rasa penasaran mulai menggebuk pada hati Samsul, padahal kemarin dia sudah memberi kode berpura-pura tidak tahu dan mengatakan sedikit perlakuan majikannya dengan anak kecil.
Pada akhirnya lelaki muda berumur dua puluh sembilan tahun itu berjalan, sengaja mendengar percakapan antara majikan dan juga Intan.
Samsul mengintip pada balik kaca luar, ia melihat sang majikan tersenyum bahagia melihat seorang anak kecil yang begitu menggemaskan datang dibawa oleh gadis bernama Intan ke rumahnya.
Samsul sudah menyangka jika Nyonya Marimar akan tertarik, tak berani membayar mahal anak itu, karena memang anak itu terlihat begitu menarik dan pastinya akan terjual lebih mahal lagi daripada uang yang ia tawarkan kepada Intan.
Lulu terlihat gelisah sekali, ia sudah tak nyaman duduk, melihat jam pada dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 siang. Ia mengingat kepulangan Nita tak akan lama lagi.
Lulu yang tak tahu menahu saat dibawa ke rumah Marimar, memegang tangan Intan. Menyuruh gadis itu untuk segera pulang karena Nita pasti akan mencari dirinya.
"Kak Intan, ayo cepat kita pulang. Lulu takut Kakak Nita mencari Lulu, yuk Kita pulang yuk. Kalau nggak jadi ke supermarketnya juga nggak papa," ucap Lulu, membuat suara anak kecil itu mempesona di telinga Marimar.
kepintarannya dalam berbicara, buat yata ragu akan segera membayar Lulu pada saat itu juga.
Intan berusaha membujuk Lulu agar tetap tenang." Lulu tenang saja. Jangan pikirkan Kak Nita, kan ada Kak Intan ini, jadi kalau kita pulang telat. Biar Kak Intan jelasin ke Kak Nita."
Lulu yang sudah tak nyaman berada di rumah Marimar, membuat ia menarik-narik tangan Intan mengajak gadis ber bola mata bulat itu untuk segera pulang ke rumah.
"Tapi, Lulu ingin segera pulang ke rumah. Tadikan Kak Intan janji sama Lulu mau beli kan dulu es krim, sekarang kok malah kita ke sini, Lulu kan jadi kesel sama Kak Intan yang tidak menepati janji." rengek Lulu, memperlihatkan raut wajah kesal dengan bibir yang mengkerut membuat Marimar berusaha menenangkan hati anak kecil berumur 3 tahun itu," kok kamu marah gitu sayang, memangnya Kak Intan udah janjiin apa ke Lulu?"
Pertanyaan Marimar malah membuat Lulu ketakutan, ia merasa jika wanita yang ada dihadapannya itu terlihat menyeramkan.
"Kak Intan sudah janji sama Lulu mau ajak Lulu ke supermarket, belikan cemilan dan juga es krim. Tapi Kak Intan malah mengajak Lulu ke sini."
Lulu mengatakan kekesalannya kepada Marimar, Kalau hatinya merasa tak tenang, dan raut wajahnya terus menunduk tanpa menatap ke arah Marimar.
__ADS_1
Marimar mencoba membujuk anak umur umur 3 tahun itu dengan kata-kata lembut," Ya sudah Kebetulan sekali tante punya banyak cemilan kamu mau."
Setelah ini apa Lulu akan menerima, tawaran dari Marimar?