Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 276


__ADS_3

"Bu Nira ini kenapa, kami ini datang ke sini dengan niat baik loh bu," ungkap Bu Ratna, sedikit membentak Bu Nira yang berdiri menghalangi ruangan Nita.


"Saya tidak peduli jika kalian memang ingin datang ke sini dengan niat baik, saya tidak mau jika Nita terganggu oleh ulah kalian semua. Cepat kalian pergi dari sini," usir Bu Nira para ibu-ibu kampung yang sudah menyiapkan hadiah untuk Nita.


"Bu Nira enggak bisa seenaknya mengusir kami dong dari sini," pekik Bu Sarah, menatap tajam ke arah Bu Nira.


"Kalian juga sama, tidak boleh seenaknya mau datang ke ruangan Nita setelah apa yang sudah kalian lakukan bersama Bu suci," hardik Bu Nira, mengungkapkan isi hatinya yang sudah lama ia pendam, dia lelah berpura-pura selalu berpihak kepada ibu-ibu munafik kampungnya sendiri.


"Bu Nira juga sa .... "


Tiba tiba saja, Bu Nira menghentikan perkataan Bu Sarah yang belum berlanjut sepenuhnya.


"Apa lagi, Kalian mau menyalahkan." balas Bu Nira.


"Tuh bu Nira jujur sendiri, " ucap Bu Ratna. Menunjuk wajah Bu Nira.


Wanita tua yang menjadi ibunda Syaiful itu, memegang jari tangan Bu Ratna, seketika memutarkan jari tangan itu.


"Ahk, sakit."


Mendengar Bu Ratna merengek kesakitan, membuat Bu Nira melepaskan tanganya.


Bu Sarah melangkah maju mendekat ke arah Bu Nira," Bu Nira jangan egois ya, jangan jadi orang yang munafik."


Bu Nira membulatkan kedua matanya," yang egois itu kalian semua. Dimana hati nurani kalian saat kebakaran itu terjadi, hanya diam dan menggosip tak memperdulikan api membakar rumah Nita. Kalian malah tertawa dan menyalahkan Nita, di saat kita merasakan panasnya api yang dinyalakan oleh Bu suci."


"Kami ini .... " Bu Ratna berusaha membantah apa yang dikatakan Bu Nira, tapi wanita yang menjadi Ibu Saiful itu langsung memotong pembicaraan Bu Ratna." Kami apa, hah, setelah Nita masuk ke rumah sakit, Bu Suci begitupun Bu Ita masuk ke dalam penjara, kalian baru menyesali semuanya. Orang macam apa kalian ini, Ibu berhati apa kalian ini. Nita yang hanya yatim piatu kalian buat menderita."

__ADS_1


Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Bu Nira, membuat para ibu-ibu menundukkan pandangan, kedua pipi mereka semua memerah. Seperti malu akan kesalahan sendiri.


"Kalian diam, saat saya berkata kebenaran. Inikah contoh seorang ibu, membuat sosok anak yatim seperti Nita menderita, ke mana hati nurani kalian semua. Melihat kesalahan orang tuanya yang belum tentu benar, kalian tega hina anak yang tak tahu apa-apa, kalian semua yang sudah membuat Nita yatim piatu." Teriakan Bu Nira, berharap membuat para ibu-ibu tidak mengulangi kesalahannya lagi.


"Kami mengakui kesalahan kami, karena kami ini egois kami tak mementingkan penderitaan yang dialami Nita. Kami malah puas dengan kejahatan kami sendiri," ucap Bu Ratna mewakili semua kata maaf pada ibu-ibu di kampung halamannya.


"Begitulah ketika kalian melihat Bu suci dan Bu Ita masuk ke dalam penjara, kalau kalian menyadari kesalahan kalian semua," balas Bu Nira, kedua mata tanpa berkaca-kaca menahan kesedihan yang mendera pada hatinya.


Para ibu ibu kini menyadari keegoisan mereka, saiful yang memang tak terluka parah keluar dari ruangannya dengan memakai kursi roda.


Lelaki bergelar sebagai guru PNS itu menatap ke arah ibu-ibu rombongan yang datang ke rumah sakit.


Saiful bukannya senang dengan pemandangan para ibu-ibu yang berada di hadapannya, ia malah membulatkan kedua matanya, memperlihatkan rasa benci.


"Kenapa kalian ada di sini. Sudah puas kalian membuat calon istriku sekarang kritis."


Sedangkan Bu Nira berusaha menenangkan anaknya agar tidak tersudut emosi, apalagi keadaan Saiful juga belum stabil, Kondisinya masih lemah.


Memegang bahu anaknya, dan berkata." kamu harus tenang, jangan tersudut emosi hanya karena melihat mereka."


Saiful berusaha menenangkan pikiran, yang menarik napas mengeluarkan secara perlahan, memendam rasa kesal agar tidak melukai para ibu-ibu di hadapannya.


"Maafkan kami Saiful, kedatangan kami ke sini hanya ingin melihat Nita dan meminta maaf atas segala yang kami perbuat di saat keadaan Nita baik-baik saja, kami menyesali semuanya. Kami baru tahu bahwa Bu suci itu ternyata jahat."


"Kemana saja, kenapa baru menyadari kalau Bu suci itu jahat, kalian hanya pura-pura saja hanya ingin membuat kesenangan semata untuk menghancurkan Nita dan membuat dia mati sia-sia. Sama seperti kalian membakar kedua orang tua wanita tanpa bukti yang nyata."


Deg ....

__ADS_1


Perkataan Saiful semakin mencengkram hati para ibu-ibu, mereka semua takut jika harus dimasukkan ke penjara seperti ibu Suci dan juga Bu Ita.


Galih datang, melihat pemandangan di depan ruangan Nita.


Para ibu ibu, semakin ketakutan apalagi ketika melihat Galih datang menghampiri mereka.


"Wah, ternyata ada para ibu-ibu songong ini, apa yang kalian lakukan di sini? Apa mau saya laporkan ke polisi seperti Bu suci dan Bu Ita."


Deg ....


Kedua mata mereka berkaca-kaca, memohon ampun kepada Galih, " ampuni kami. Kami hilap."


Di tengah ketakutan para ibu-ibu, Galih semakin sengaja, ingin membuat para ibu-ibu semakin frustasi dengan kelakuan jahat mereka.


Berjalan mendekat dan semakin mendekat, dengan kedua tangan merogoh saku celana, Galih kini berkata." Oh ya, tadi saya dengan kalau kasus kematian kedua orang tua wanita itu gara-gara kalian ya."


Deg .... jantung para ibu-ibu itu semakin berdetak tak karuan, " itu .... "


Saiful yang sudah kesal dan tidak bisa memberi ampun kepada para ibu-ibu kini mengungkapkan semua yang terjadi di masa lalu," mereka memang sudah membakar kedua orang tua Nita hidup-hidup. "


"Tunggu Saiful, kami melakukan semua itu karena Bu suci yang mengatakan bahwa orang tua Nita itu sudah melakukan penipuan dan penggelapan uang warga kampung, " ucap Bu Ratna berusaha membela diri dari perbuatannya yang dulu ikut serta membakar kedua orang tua wanita.


Bu Nira menimpal," alah. Sudahlah kalian itu terlalu mempercayai Bu suci tanpa mendengar penjelasan dari kedua orang tua Nita. Asal kalian tahu pihak polisi sudah membenarkan, jika Bu Sucilah yang melakukan penipuan dan pengelapan uang, ia mencuri uang yang dikumpulkan kedua orang tua Nita."


Bu Ratna menundukkan padangan, sedangkan para ibu ibu saling menatap satu sama lain.


"Kenapa? Kalian diam, tidak mengelak lagi. Kalian mau tahu kenapa Bu Suci melakukan semua itu. Karena cemburu, jika suaminya selalu mendekati Siti yang jelas jelas rekan bisnis. Bu Suci gelap mata dan juga ada rasa iri melihat adiknya sukses. "

__ADS_1


__ADS_2