Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bba 90 Pilihan untuk Indah,


__ADS_3

"kenapa, kamu curiga dengan saya, Anna?" 


Deg …  


Anna membalikkan wajah ke arah samping Galih,"Kenapa bapak berbicara seperti itu!"


"Habisnya tatapan mata kamu begitu berbeda kepadaku."


Perkataan Galih membuat Anna menghelap napas dengan mengarahkan matanya pada Galih. 


"Coba bapak tatap saya."


Galih tertawa di saat Anna membulatkan kedua matanya, ia tersenyum kecil," Kalau aku terus menatap kamu nanti, kalau aku nabrak orang bagaimana."


"Ya habisnya bapak bilang tatapan mata saya berbeda." Cetus Anna, mengerutkan bibirnya. 


Galih tertawa, menenangkan suasana agar tidak terlalu tegang. Ia juga masih dengan harapan bisa mendekati Anna lebih dari apa yang sekarang. 


Terlihat wajah memerah Anna, mungkin ia malu dengan guyonan sang lelaki bertubuh kekar berstatus duda tampan itu. 


Perjalanan kini mulai sampai, dimana Anna dengan terburu buru keluar dari dalam mobil. 


Terlihat di depan ada banyak orang yang Anna lihat ternyata itu adalah sosok lelaki bernama Danu. 


"Mau apa mereka datang ke sini. "


Danu dan ibunya terus mengetuk pintu rumah Indah, dimana pintu itu tetap saja menutup. Kenapa dengan Indah? Bukanya membuka pintu rumah, malah menelepon Anna. 


Anna mendekat kearah ibu dan anak itu, " Permisi bu, Mas. Ada apa ya?".

__ADS_1


Danu dengan wajahnya yang terlihat habis menangis kini mendekat ke arah Anna. " Maaf mengganggu waktunya An, mas ingin bertemu dengan kakakmu. Dari tadi ia tak membuka pintu rumah."


Setelah mendengar perkataan Danu, pada akhirnya Anna mulai mengetuk pintu rumah. Dengan keras." kak Indah, buka, kak. Ini Anna."


Pada akhirnya pintu rumah langsung dibuka, setelah Indah mendengar teriakan dan ketukan pintu dari sang adik. 


"Indah, akhirnya kamu membuka pintu." Danu dan sang ibu terlihat senang. Sedangkan Indah ragu untuk mengizinkan mereka berdua masuk. 


"Suruh masuk aja, kak. kasihan mereka dari tadi nungguin kakak, kita bicarakan baik baik di dalam rumah." 


Indah menghela napas setelah mendengar perkataan dari sang adik, ia kini menurut, menyuruh Danu dan ibunya masuk ke dalam rumah.


Anna bingung dengan pemikiran sang kakak, kenapa sampai tega membiarkan Danu dan ibunya menunggu di luar rumah. Ada apa dengan Indah?


Pertanyaan terus terbayang di benak, Anna. Antara bingung dan juga ingin tahu kenapa dengan sang kakak, membuat ia tentu saja penasaran.


Kedua tamu kini duduk, sedangkan Galih yang mengantar Anna masih ada di dalam mobil. Ia seakan enggan turun tidak mau ikut campur akan urusan  masalah orang lain, kalau bukan urusan masalah Anna. 


Langkah kaki yang mulai melangkah menuju dapur kinii terhenti oleh perkataan Danu. " Tunggu Indah, kami ingin berbicara langsung dengan kamu, sekarang juga. "


Tapi tetap saja Indah yang belum siap mendengar perkataan Danu, malah berjalan cepat untuk mengambil air minum. 


Anna mengekor dari belakang punggung kakaknya, kini mulai mengeluarkan satu pertanyaan. 


"Kakak ini kenapa sebenarnya? Apa yang kakak rasakan sekarang! Kenapa kakak malah menghindar dari Mas Danu, seharusnya kakak dengarkan dulu Mas Dan berbicara sebelum kakak menghindar seperti ini, jika kakak terus menghindar seperti ini kakak akan digerumuti semua pertanyaan. Pikiran kakak tak akan menentu, percaya pada Anna, sebaiknya kakak dengarkan dulu apa yang akan dikatakan Mas Danu dan ibunya. oke."


" Apa yang dikatakan Anna memang benar, aku harus menghampiri mereka berdua, agar tahu apa yang akan mereka katakan, walau. Sebenarnya aku sudah menduga bahwa Mas Danu ingin kembali lagi kepadaku itu rasanya sulit jika memang ia mengatakan semua itu.  Karena hatiku yang masih merasa sakit akan penghianatannya." Gerutu Indah sembari mengaduk ngaduk minuman yang baru saja ia buat. 


Ana melihat sang kakak melamun seperti memikirkan sesuatu,  ia berusaha menyadarkan kakaknya dari lamunan yang mungkin, membuat sang kakak tertekan. 

__ADS_1


"kak Indah. "


Lamunan membuyar, dimana Indah terus menggerutu pada hatinya, karena rasa kesal akan datangnya Danu.


"Iya, An kenapa? 


Pertanyaan sang kakak membuat Anna tentu saja membalas dengan sedikit benada tegas. "Kenapa Kakak malah melamun, apa yang tengah kakak pikirkan sekarang."


Indah berusaha memberanikan diri mengungkapkan kekesalan dan isi hatinya pada sang adik." sebenarnya kakak itu takut menghadapi mereka berdua. "


.


Perkataan sang kakak membuat Anna mengerutkan dahinya."Kenapa Kakak harus takut menghadapi mereka berdua, bukannya kakak itu tidak salah. "


Indah berusaha menjelaskan agar Anna langsung mengerti. "Memang iya, posisi kakak yang sekarang, kakak  itu tidak salah, tapi. Kakak takut Mas Danu itu meminta balik lagi pada Kakak, sedangkan hati kakak sudah merasa sakit atas  penghianatannya yang ia lakukan terhadap Siren. Kakak selalu ingat masalah menyakitkan itu, padahal sebagai wanita kakak sudah berusaha melupakan tapi kenapa malah teringat terus. Apa pikiran wanita seperti kakak, selalu mengingat akan rasa sakit sampai yang lalu lalu juga masih terngiang di dalam kepala."


Anna membalikkan badan, ke arah sang kakak,  agar  saling berhadapan. "Coba kakak pikirkan baik-baik dulu. Tenangkan hati kakak, pilihan itu ada di tangan Kakak dan juga hati kakak, jika Kakak masih mau menerima Mas  Danu  terimalah, tapi jika Kakak memang tidak mau menerima Mas Danu jangan paksakan, Anna takut, itu akan malah menyakitkan hati kakak sendiri."


"Apa yang kamu katakan memang benar.  Tapi itu rasanya sulit, An. kakak harus memilih antara dua pilihan."


.


Keluhan sang kakak membuat Anna memegang bahu Indah dengan erat. " Jangan bilang semua itu sulit, kakak pasti bisa. Kakak tahu sendiri kan nasib Ana, memang berbeda dengan kakak. Ketika Anna bercerai Ana sudah melepaskan Mas Raka sepenuhnya, karena apa karena ternyata Mas Raka adalah seorang b******* dan juga penjahat, sedangkan Mas Danu sosok lelaki yang baik yang ternyata ditipu dijebak oleh sosok wanita bernama Shireen. Tapi Anna juga tidak berhak untuk menyuruh kakak balik lagi dengan Mas Danu semua itu ada di tangan Kakak jadi pikirkan dengan baik-baik jangan sampai Kakak menyesal di kemudian hari."


Indah berusaha tetap tenang, setelah mendengar nasehat yang terlontar dari adiknya, kini ia menghadapi kedua manusia yang sudah duduk dengan sopan. Menunggu Indah mendengarkan perkataan yang akan disampaikan mereka berdua. 


Indah keluar dari dapur dengan menenteng minuman segera menyuguhkan pada kedua tamunya, " silahkan di minum, bu. Mas. "


Danu menganggukkan kepala sembari tersenyum dan berkata, " terima kasih, Indah. Sekarang apa aku boleh mengatakan hal yang mungkin kamu harus tahu. "

__ADS_1


Indah mulai duduk, tak juah dari hadapan Danu, dengan menganggukan kepala ia kini siap mendengarkan apa yang akan dikatakan Danu, lelaki yang menjadi mantan suaminya walau belum sepenuhnya jadi mantan.


__ADS_2