Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 87 PoV Autor. Kenyataan pahit untuk Ajeng.


__ADS_3

Setelah sampai di ruangan yang mereka tuju, bertapa terkejutnya Bu Ayu. Anak semata wayangnya berteriak histeris seperti melihat sesuatu tak diinginkanya. 


Melangkah masuk ke dalam ruangan, Ajeng tengah ditangani oleh para suster rumah sakit. Mereka berusaha menyuntikan obat penenang, saat jarum mulai di suntikkan pada tangan Ajeng. 


"Tunggu, jangan lakukan."


Sang suster berhenti sejenak melihat wanita tua tiba tiba masuk ke ruangan,  mereka kini mengurungkan niat untuk menyuntikan obat penenang pada Ajeng, hingga dimana Bu Ayu semakin mendekat kearah Ajeng, dengan kedua mata berkaca kaca." Ajeng, nak."


Suara lembut itu mampu membuat Ajeng seketika terdiam dan tenang. Walau isak tangis masih terdengar," Ibu."


Bu Ayu mendengar Ajeng menyebut nama ibu, membuat ia langsung memeluk sang anak. Pelukan hangat kini di rasakan Ajeng dari sosok wanita paruh baya yang melahirkannya. 


"Ibu, kenapa baru ke sini. Ajeng butuh ibu sekatang."


Bu Ayu masih memeluk anak semata wayangnya, sesekali ia mencium kening Ajeng." Maafin ibu, sayang."


"Mana ayah, bu?" 


Ajeng mencari sosok lelaki yang menjadi pelindungnya di waktu ia masih kecil," Kamu tenang dulu ya, sayang. Ayah sekarang berada di ruang ugd. Ia jatuh pingsan saat mendengar kamu kecelakaan."


Pelukan Ajeng kini terlepas, ia meminta ingin bertemu dengan sang ayah," Ajeng, nanti kita ketemu ayah kamu ya, kamu harus tenang." 


Bu Ayu meraba tangan hingga dimana, tanganya tak sengaja menyentuh paha Ajeng hingga ke bawah, akan tetapi ia merasa ada yang janggal. Hingga kedua mata wanita tua itu menatap ke arah kaki Ajeng. 


Betapa terkejutnya Bu Ayu melihat keadaan Ajeng yang baru ia sadari, menutup mulut. Dimana Ajeng sudah menyadari semuanya. 


"kaki kamu, Ajeng."


Bu Sumyati  baru saja masuk, ia tak berani menganggu obrolan kedua anak dan ibu itu.


"Iya bu, kaki Ajeng tak ada. karna kecelakaan itu?"


Hati seorang ibu mana yang tak hancur melihat anak semata wayangnya kini tak memiliki kaki, seperti dulu. 

__ADS_1


Isak tangis kembali pecah. Bu Ayu semakin erat memeluk Ajeng.


"Kamu yang sabar ya, sayang."


Ajeng baru menyadari adanya Bu Sumyati, wanita tua yang menjadi ibu Daniel.  ia melayangkan senyuman ke arahnya. Membuat Bu Sumyati membalas senyuman Ajeng. " Ada Bu Sumyati."


Dengan keramahan yang terlihat dari raut wajah Bu Sumyati menandakan jika wanita tua itu terlihat bersahabat." Ajeng."


"Ibu Sumyati ada di sini. "


Ajeng menangis, di mana Bu Sumyati mendekat dan kini pelukan dilayangkan oleh wanita tua itu untuk Ajeng.


"Ajeng, minta maaf ya. Bu. Ajeng salah selama ini sudah membuat hidup kalian menderita. " Kata kata maaf terlontar begitu saja dari mulut Ajeng, hingga dimana suara Deni terdengar kembali.


"Wah, wah. Ternyata orang jahat pada akhirnya minta maaf, setelah apa yang sudah ia lakukan dan tersadar dari rasa bersalahnya karna mengalami sesuatu yang tak di duga. "


Tepukan tangan dilayangkan Deni, membuat pelukan seketika terlepas. Deni ibarat sebuah perumpamaan yang datang untuk membuat orang yang menyesali diri sendiri lebih sadar dan menjaga diri agar tidak mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya.


Padahal Deni di suruh untuk menjaga Pak Aryanto, tapi dia malah sudah ada di depan mata secara tiba tiba.


Deni mengusap pelan rambutnya," Pak Aryanto sudah sadar bu, dari tadi manggil manggil terus nama anak dan istrinya. Makanya Deni nyari kalian dari tadi, eh tahunya ada di ruangan ini. "


"Ya sudah nanti ibu datang ke ruangan Pak Aryanto bersama anak istrinya. Kamu tungu dulu di sana."


Dengan rasa malas Deni menjawab. " Iya bu. "


Akan tetapi ada rasa jangal menyelimuti hati Deni, dimana Ajeng ingin segera bertemu dengan sang ayah, dimana ia mengerakan kedua kaki yang baru Deni lihat. "Ajeng, kakimu. "


Bu Sumyati bergegas menghampiri Deni anak keduanya, ia menarik tangan Deni untuk keluar dari ruangan Ajeng.


"Deni, sudah kamu cepat pergi dari ruangan ini. Ibu tidak mau perkataan kamu malah menyakiti hati Ajeng dan ibunya. Bagaimana pun kita harus menjaga ucapan kita, agar kita .... "


Belum perkataan Bu Sumyati terlontar semuanya, Deni sedikit membentak, " agar apa bu? Sudah cukup ibu bersikap baik terhadap mereka, Deni yang melihatnya sangatlah tak suka, membuat Deni muak."

__ADS_1


"Deni, sayang turunkan egomu. Ibu dulu juga begitu pada Anna, tapi sekarang ibu sadar, ibu tidak mau mengulangi kesalahan yang kedua kalinya. Kamu tahu Deni, balas dendam itu tidak baik, hanya akan membuat kita semakin tak terkendali menjadikan kita orang rugi.


Deni mengacak rambutnya dengan kasar, sifat mudanya tentulah harus dipahami, Deni belum setabil mengatur amarah dan juga kekecewaanya, membuat ia pasti mencari jalan pintas dengan balas dendam. Membuat orang yang sudah menyakiti keluarga mereka menderita.


" Ayolah, nak. Belajar mengontrol amarah, sekarang kakakmu sudah di temukan. Tinggal kita lihat informasi selanjutnya tentang otopsi kerangka mayat Kakak kamu. " Kata kata sang ibu mampu meluluhkan hati Deni, membuat ia menitihkan air mata setelah membahas tentang Daniel.


Ajeng keluar dengan sang ibu, yang dimana ia di dudukan di kursi roda. Mulut Deni tak kuasa ingin menghujat wanita bernama Ajeng itu.


Namun, ia ingat pesan sang ibu, dimana akhirnya mengurungkan niat untuk diam saja.


"Deni, mungkin ini balasan untukku, aku sekarang sudah merasakan pembalasan itu datang sendiri, maafkan aku Deni dan Bu Sumyati. "


Deni hanya berdiri, ia diam dan membuang raut wajahnya. Ajeng melihat raut wajah Deni sudah tahu jika lelaki yang menjadi adik Daniel itu belum sepenuhnya bisa menerima permintaan maaf dari Ajeng. Sedangkan Bu Sumyati menampilkan senyumanya kembali di hadapan Ajeng, terlihat ia sudah ikhlas. Tak mempermasalahkan masa lalu kecelakaan itu. Karna semua sudah di atur oleh sang maha kuasa begitu pun balasannya.


"Terima kasih, Bu Sumyati. Sudah mau memaafkan keluarga kami. " Ucapan Ajeng tak di gubris oleh Deni sama sekali.


"Ayo bu kita pulang, aku sudah malas berhadapan dengan para manusia tak tahu malu seperti mereka, setelah mendapat musibah baru minta maaf, miris rasanya. Bu. Ayo bu kita pulang. "


Deni menarik tangan sang ibu untuk segera pulang dari hadapan Ajeng dan juga Bu Ayu.


"Tunggu dulu, kita belum lihat keadaan Pak Aryanto. "


"Sudahlah bu, ayo cepat kita pulang. "


Dengan terpaksa Bu Sumyati menuruti keinginan anaknya, ia hanya berpamitan dengan memberi senyuman pada Bu Ayu dan Ajeng, dimana tangan di tarik paksa oleh sang anak.


Langkah kaki kini telah sampai di luar rumah sakit, dimana ponsel Deni berbuyi.


"Halo, iya."


"Halo, pak. Ini dari pihak rumah sakit alulia, kami ingin menifokan hasil otopsi bapak Daniel. "


"Ya sudah, besok saja saya ke sana. "

__ADS_1


"Baik, pak. "


__ADS_2