Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 48 Pingsanya aku melihat Kertas putih


__ADS_3

Kata kata Radit membuat aku langsung membungkam mulutnya," Pak Galih maafkan Radit ya, dia kalau ngomong suka ngelantur."


Aku berusaha membawa Radit masuk ke dalam kamar tidurnya, hingga dimana." Ahkkk."


Radit mengigit telapak tanganku, membuat aku sedikit meringis kesakitan.


"Mamah jahat, mamah selalu membela bapak bapak ini dari pada anaknya sendiri." Teriak Radit, dengan kemarahan yang megebu gebu. Aku melihat sorot matanya begitu tajam, menaruh kebencian padaku.


Ia berlari ke luar rumah. Membuat aku berteriak memanggil namanya dengan rasa kesal.


"Radit, nakal."


Kak Indah tiba tiba menahan tanganku, membuat wajah ini mengarah padanya." Kamu tenangkan dulu emosi kamu, biar kakak yang menangani anak itu."


Aku hanya menarik napas mengeluarkan secara perlahan, hatiku benar benar sedang di uji dengan anak itu.


Akhir akhir ini, Radit selalu membuat aku pusing terkadang menangis. Mengungkit perpisahaku dengan Mas Raka.


Cobaan apa lagi?


"Anna."


Panggilan Pak Galih membuat lamunanku membuyar, "iya, pak?"


Aku bertanya di tengah hati yang begitu bimbang. Karna memikirkan tingkah Radit saat ini.


"Boleh kita mengobrol sebentar?"


"Tentu!"


Aku dan Pak Galih mulai berjalan untuk duduk di sofa ruang tamu, hingga dimana. "Anna."


"Iya pak,"


"Kamu mau ke mana?"


"Saya mau mengambilkan minum untuk bapak!"


"Enggah usah, saya ingin mengobrol dengan kamu sekarang juga karna ini penting."


Aku mulai duduk kembali di atas kursi, berhadapan dengan lelaki bersetatus duda itu.


"Anna, saya ke sini ingin menanyakan tentang masa lalu kamu," ucapan Pak Galih mengangetkan." Masa lalu?" Tak mengerti dengan apa yang ia katakan membuat aku terdiam sejenak.


"Apa kamu mengigat masa lalumu, soalnya ada salah satu yang aku tak mengerti soal data tentang kamu ini?" Pertanyaan Pak Galih membuat aku semakin bingung. Apa maksud tentang data?


"Coba kamu lihat ini?"


Perlahan aku mendekat ke arah Pak Galih, membaca setiap isi data diriku di waktu belum menikah.

__ADS_1


Perlahan ada tulisan yang membuat aku mengigat semuanya.


Aku malah menjatuhkan berkas penting itu pada atas lantai, membuat lembaran kertas berwarna putih dengan tulisan di atas kertas itu seketika membuat kepalaku terasa sangat sakit.


Memegang dengan pelan, kepalaku ini benar terasa sangat sakit." Anna. Kamu kenapa?"


"Entahlah pak, aku tak mengerti kenapa dengan kepalaku ini, rasanya sakit sekali."


Seketika aku langsung terkulai lemah, di atas lantai. Membuat tubuhku tak seimbang. Hingga panggilan namaku disebut beberapa kali oleh Pak Galih.


"Anna?"


@@@@@


"Ahkkk."


Kini aku terbangun dari tempat tidur. Dimana Kak Indah dan Radit berada di sampingku.


"Ada apa ini?"


"Anna, kamu baru saja jatuh pingsang!" jawab Pak Galih yang ternyata menunggu kesadaranku.


Radit mengerutkan bibirnya, aku menatap ke arah anak itu." Radit."


Panggilanku membuat anak itu memalingkan wajah, ia pergi dari kamarku saat itu juga." Radit, nak." Teriakku.


Kak Indah mulai berusaha menenangkan pikiranku, agar tidak terlalu tertekan dengan perubahan Radit.


"Kamu harus sabar ya, Anna. Anak kamu butuh Proses untuk menerima semuanya."


"Tapi kak, Radit benar benar berubah."


"Kamu tenang ya, menasehati anak kecil itu harus dengan perkataan lembut. Kamu jangan terlalu terpancing emosi yang malah membuat Radit semakin benci pada kamu."


Semenjak berpisah dengan Mas Raka, pertanyaan dan juga banyangkan kadang membuat kepalaku pusing dan sakit. Seperti ada masa lalu yang tak kuingat sama sekali. Masa lalu apa?


Pak Galih kini memulai obrolan kembali," kalau begitu biar saya antar kamu ke rumah sakit, biar tahu apa yang penyebab kamu sering pusing ketika mengingat masa lalu."


" Ke rumah sakit?"


"Iya ke rumah sakit, bagaimana!?"


Aku sedikit ragu, jika memeriksakan diri ke rumah sakit," ayolah Anna, mungpung ada yang mengantarkan kamu." Ucap Kak Indah.


Menatap ke arah Kak Indah, dengan hati penuh keraguan." Kak, aku."


"Aku kenapa? Ayolah Indah, supaya kita tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kamu?"


Karna dorongan Kak Indah membuat aku menganggukan kepala setuju untuk ikut ke rumah sakit.

__ADS_1


Pak Galih tiba tiba mendekat kearahku, dimana ia lelaki berkumis tipis itu membopong tubuhku.


"Pak Galih, saya bisa jalan sendiri."


"Tubuh kamu begitu lemah, An. Sebaiknya saya gendong kamu untuk masuk ke dalam mobil."


ucap Pak Galih membuat sedikit tak nyaman, apalagi setatusku baru saja jadi janda dan kemana mana pulang pergi bersama laki laki.


"Sudahlah, An. Kamu nurut saja. Pak Galih orang baik, dia bukan lelaki yang bisa seenak saja sama wanita," timpal kak Indah tersenyum di saat langkah kaki Pak Galih melangkah perlahan lahan.


Kedua pipiku tentu saja memerah, saat di bopong oleh lelaki bernama Galih, ini. Tak terasa Pak Galih memasukkanku ke dalam mobil dengan perlahan, hingga dimana tatapan kami beradu.


Pipiku terasa panas, membuat aku benar benar salah tingkah. Kak Indah yang tengah mengendong Lulu, melihat kepergianku saat itu juga.


Di dalam mobil, benar benar terasa canggung. Aku dan Pak Galih tak mengeluarkan suara sedikit pun, hingga di mana." Anna."


Menatap ke arah wajah Pak Galih," Iya pak?"


Pak Galih mengerutkan dahi, memegang pipiku." Wajah kamu memerah, kamu demam, Anna."


"Demam? Oh mana mungkin?"


Sial sekali, kenapa aku benar benar menjadi wanita bodoh saat berhadapan dengan Pak Galih.


Perlahan tangan lelaki berkumis tipis itu memegang dahiku, membuat aku sepontan menepis tanganya itu.


"Aw."


"Pak Galih, maafkan saya. Saya tidak sengaja. Begitu repleks sekali?"


Pak Galih malah menampilkan senyuman dengan bibir tipisnya, membuat aku langsung menatap ke arah depan mobil.


"Anna, maafkan saya. Karna saya kamu mejadi pingsan."


Aku tertawa kecil di saat Pak Galih meminta maaf, begitu terlihat lucu. Sifatnya yang dinging, tak mempengaruhi ketampananya.


"Oh ya, Setelah bapak mengantarkan saya ke rumah sakit, pulangnya kita ke tempat usaha kita ya. Pak," ucapku pada Pak Galih.


"Mm, boleh saja. Tapi kondisi tubuh kamu masih belum setabil, An." balas PaK Galih, terlihat menghuatirkan kesehatanku.


"Bapak tenang saja. Saya pasti kuat setelah pulang dari rumah sakit," semangatku pada Pak Galih. berharap lelaki di sampingku mau menuruti apa yang aku katakan.


Karna terlalu lama menunda bisnis, aku takut membebankan Kak Indah, karna terus menerus bergantung makan padanya.


Aplagi Radit dan Farhan. kemungkinan besar, biaya sekolah yang semakin tinggi dan kemungkinan besar perlahan menguras uang tabunganku.


Jika tabunganku dipakai untuk usaha, kemungkinan besar ada jangka panjang agar tidak menguras tabungan untuk masa depan anak anakku nanti.


Yang kemungkinan mereka, ingin meneruskan sekolah hingga menjadi sarjana.

__ADS_1


__ADS_2